Waisak Borobudur: Ribuan Lampion & Pakaian Putih Paksa Masuk

Lia N. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 96 dibaca
Bisik.id
Waisak Borobudur: Ribuan Lampion & Pakaian Putih Paksa Masuk

Gambar atau konten salah?

Hari Raya Waisak menjadi momen penting bagi umat Buddha di Indonesia, dan di Candi Borobudur perayaan ini disambut dengan penuh semangat. Setiap tahun, ribuan pengunjung berkumpul di kompleks bersejarah ini untuk menyaksikan tradisi yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Acara paling menonjol adalah Festival Lampion, atau yang dikenal sebagai Lentera Perdamaian. Ribuan lampion dipasang di langit Borobudur saat bulan purnama. Lampion tersebut bukan sekadar hiasan; mereka melambangkan penerangan batin, penyebaran cinta kasih, dan doa perdamaian bagi seluruh alam semesta.

Untuk dapat menikmati festival ini, pengunjung diwajibkan mengenakan pakaian serba putih. Aturan ini ditegakkan oleh panitia Waisak Nasional dan diikuti oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Pakaian putih harus panjang, sopan, tidak ketat, tidak transparan, dan tidak berupa celana atau rok pendek. Jika tidak mematuhi, petugas berwenang dapat meminta pengunjung menyesuaikan pakaian.

  1. Wajib Mengenakan Pakaian Serba PutihPeraturan resmi mengharuskan semua pengunjung memakai pakaian putih dan sopan. Pakaian harus panjang dan tidak ketat. Pakaian putih menjadi syarat bagi siapa saja yang ingin memasuki area caturangga atau mengikuti prosesi sakral.
  2. Simbol Kemurnian dan Kedamaian BatinWarna putih dianggap sebagai keseimbangan sejati semua warna. Memakai pakaian putih menunjukkan kemurnian, kesucian, dan niat bersih saat datang ke Borobudur.
  3. Bentuk Penghormatan Tertinggi terhadap Kesakralan IbadahBorobudur berfungsi sebagai tempat ibadah, bukan sekadar objek wisata. Pemerintah mengimbau pengunjung memakai baju putih dan payung putih saat cuaca terik sebagai bentuk penghormatan.
  4. Pembeda antara Umat Awam dan Para BhikkhuPakaian putih polos dipakai umat awam (Upasaka dan Upasika) saat menghadiri hari besar. Anggota Sangha mengenakan jubah khusus (Civara) berwarna kontras seperti kuning, oranye, atau cokelat tua.
  5. Penghapusan Sekat Sosial (Simbol Kesetaraan)Pakaian seragam menandakan kesetaraan tanpa memandang status sosial, ekonomi, jabatan, atau latar belakang suku. Aturan ini mendukung ruang spiritualitas yang inklusif dan damai bagi semua orang.

Dengan aturan pakaian putih, Waisak di Borobudur menjadi ajang bagi semua pengunjung untuk menyatu dalam suasana damai dan penuh makna. Peraturan ini menegaskan bahwa perayaan tidak hanya sekadar festival, melainkan juga ruang spiritualitas yang menghormati tradisi dan kesetaraan.

Hari Raya WaisakFestival LampionPakaian Serba PutihCandi BorobudurKementerian AgamaPenerangan BatinKesetaraan Sosial

Komentar

Memuat komentar...