Warga Mamasa Susut Air, Harus Jalan 1,5 km Setiap Hari
Gambar atau konten salah?
Di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, warga menghadapi kesulitan mencari air bersih karena curah hujan menurun. Setiap pagi dan sore, penduduk harus menempuh 1,5 kilometer kaki untuk mengisi ember dari sumur kecil di dekat sawah.
“Jadi kami warga jalan kaki sejauh satu setengah kilo untuk nimba air. Kami ambil air di dekat sawah,” ujar Nurliadi melalui sambungan telepon pada Senin, 30 Maret 2026.
Situasi ini terjadi di Kelurahan Talipukki, Kecamatan Mambi. Selama dua bulan terakhir, warga harus berjalan jauh setiap pagi dan sore untuk mendapatkan air. Nurliadi menjelaskan, “Mulai dari awal bulan puasa itu kami kemarau, sampai sekarang tidak ada hujan. Setiap pagi dan sore kami harus berjalan jauh untuk mencari air,”
Ia menambahkan, “Untuk mendapatkan 5 liter air, kami harus menunggu selama 30 menit. Sebab, banyak warga yang mengantre mendapatkan air pada sumur kecil yang digali di pinggir sawah.”
Menurut Nurliadi, air yang dulu diambil dari mata air pegunungan, yang dialirkan sejauh 2 kilometer ke pemukiman, kini mulai mengering. “Kita harus antre sampai sekitaran 30 menit untuk dapat 5 liter air, karena banyak warga di sana yang antre. Karena tidak mencukupi sumber mata air,” katanya.
“Selama ini andalkan sumber air di hulu sekitar 2 kilometer di gunung. Airnya kami tampung di bak, cuman sudah kering,” terang Nurliadi.
Lurah Talipukki, Badaruddin, memperkirakan ada sedikitnya 100 kepala keluarga yang tersebar di tiga lingkungan—Salubulung, Pepana, dan Merang Satu—yang terdampak krisis air akibat kemarau. “Ada 3 lingkungan yang terdampak, yaitu lingkungan Salubulung, lingkungan Pepana dan lingkungan Merang Satu. Sekitar 100 kk,” tuturnya.
Badaruddin mengajak pemerintah daerah, provinsi, dan pusat untuk memperhatikan masalah ini. “Jadi kami sangat berharap pemerintah daerah, provinsi bahkan pusat untuk memperhatikan wilayah kami ini. Karena ini kebutuhan air merupakan kebutuhan pokok,” pungkasnya.
Kasus ini menyoroti dampak kemarau yang semakin sering terjadi di wilayah Sulawesi Barat. Warga menunggu lebih dari setengah jam untuk 5 liter air, sementara sumber mata air utama mulai mengering. Kebutuhan air yang mendasar menjadi tantangan bagi komunitas kecil di Talipukki, menuntut perhatian dan solusi dari pihak berwenang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Mortir Perang Dunia II Ditemukan di Jayapura, Papua, Risiko
Kementerian Agama Tetapkan 16 Juni 2026 sebagai Puasa 1 Muharram
Bom Incendiary Ditemukan dan Dimusnahkan di Sungai Ariyau, Jayapura
Khutbah Jumat Akhir Tahun: Refleksi dan Muhasabah 1447 H
Tanggal 04 Juni 2026 Dapat Dihitung 18 Dzulhijjah 1447 H
Weton Tulang Wangi: Tradisi Penanggalan Jawa Tetap Ada
