Wayang Topeng Malang Usai Usaha Pendaftaran UNESCO
Gambar atau konten salah?
Wayang Topeng Malang adalah seni tradisional yang berasal dari Kabupaten Malang, Jawa Timur. Bentuknya adalah tarian yang memakai wayang topeng dan diiringi gamelan. Setiap pertunjukan biasanya menampilkan kisah Panji, epik lama yang penuh pesan moral.
Walaupun belum terdaftar secara terpisah di daftar Warisan Budaya Tak Benda UNESCO, seni ini sudah masuk dalam kategori wayang Indonesia sejak 2008. Kesenian ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Singhasari, sekitar abad ke-13, tepatnya di masa Raja Kertanegara. Pada masa itu, topeng-topeng ini dipakai untuk ritual, bukan pertunjukan. Masyarakat menggunakannya dalam upacara penyembuhan dan pengusiran roh jahat. Hanya setelah itu, bentuknya berkembang menjadi pertunjukan seni seperti yang kita lihat sekarang.
Seiring waktu, seni ini menyebar ke berbagai desa di Malang. Salah satu pusat pelestariannya masih berada di Kedungmonggo. Bahkan sejak era kolonial Belanda, sekitar tahun 1890‑an, Wayang Topeng Malang sudah mulai dikenal lebih luas.
Sering kali orang mengira kisah Panji hanya tentang romansa antara Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji. Namun, cerita ini lebih dalam. Ia menggambarkan perjalanan manusia mencari jati diri, mengajarkan kesabaran, dan bagaimana menjaga hubungan dengan alam. Panji digambarkan bukan sebagai penakluk, melainkan pengembara atau penyamar yang menghadapi konflik sosial. Karakter ini terhubung dengan sejarah kerajaan Jawa seperti Jenggala dan Kediri, membawa nilai budaya tentang etika, kesopanan, dan harmoni hidup.
Keunikan Wayang Topeng Malang terletak pada kompleksitasnya. Ada sekitar 73 karakter topeng, masing-masing dengan bentuk, warna, dan makna berbeda. Ditambah kostum khas seperti rapek dan iringan sinden, pertunjukan terasa hidup dan penuh detail. Tidak seperti lakon wayang lain yang menonjolkan tokoh laki‑laki gagah, di sini tokoh perempuan seperti Sekartaji (Galuh Candrakirana) tampil kuat dan berdaya.
Sejak tahun 2016, Pemerintah Kabupaten Malang dan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) mulai mendorong pengakuan global melalui upaya pendaftaran “Seni Tari Topeng Malangan” sebagai World Intangible Heritage. Mereka berharap UNESCO mengakui topeng Malang sebagai entitas terpisah atau bagian dari narasi budaya Panji. Upaya ini mencakup festival budaya, pertunjukan internasional seperti Festival Indonesia di Moskow, dan kampanye kreatif seperti flashmob. Meskipun saat ini masih masuk kategori besar wayang Indonesia, pelestarian terus dilakukan lewat sanggar seni, festival lokal, dan regenerasi seniman muda.
Tempat yang wajib dikunjungi bagi yang ingin melihat langsung topeng-topeng ini adalah Kampung Topeng Malangan. Terletak di Dusun Baran, Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang, kampung ini diresmikan pada 14 Februari 2017 oleh Wali Kota Malang. Awalnya kawasan ini adalah penampungan gelandangan, lalu dikembangkan menjadi desa wisata berbasis budaya. Di sini, pengunjung dapat menemukan ratusan topeng khas Malangan, termasuk dua topeng raksasa setinggi 7,5 meter yang menggambarkan Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji. Suasana penuh warna cocok untuk edukasi dan foto‑foto.
Wayang Topeng Malang tidak sekadar pertunjukan seni. Ia adalah jendela sejarah, budaya, dan filosofi masyarakat Malang. Melalui topeng, cerita Panji, dan tarian, generasi muda dapat belajar tentang nilai-nilai luhur dan identitas lokal. Dengan adanya upaya pelestarian dan pengakuan internasional, seni ini tetap hidup dan dapat dinikmati oleh masyarakat luas.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
