AI Leadership Exchange 2026: Indonesia Beralih ke AI Agentic

Dedi S. · 3 min baca · 6 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
AI Leadership Exchange 2026: Indonesia Beralih ke AI Agentic

Gambar atau konten salah?

AI Leadership Exchange 2026 di Jakarta menandai pergeseran signifikan dalam cara perusahaan Indonesia memanfaatkan kecerdasan buatan. Acara ini diselenggarakan sebagai hasil kolaborasi antara IBM Indonesia dan CIO Insight Indonesia, berfokus pada tema “The Agentic Leap: Empowering Indonesia's Digital Leadership and Winning the Enterprise AI Race”. Puncak diskusi berlangsung pada Minggu 14 Juni 2026, menyoroti bagaimana AI kini menjadi inti operasional, bukan sekadar alat bantu.

General Manager IBM Asia Pacific, Hans AT Dekkers, menegaskan perbedaan mendasar antara dua kelompok perusahaan. Ia menyatakan, “Dan dua pendekatan ini menghasilkan dampak yang jauh berbeda,”. Menurut Hans, kelompok pertama menggunakan AI untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja. Sementara kelompok kedua, yang lebih ambisius, membangun ulang proses bisnis, sistem pengambilan keputusan, dan model operasional dengan menempatkan AI sebagai fondasi utama.

Hans menjelaskan bahwa dunia saat ini bergerak menuju era Agentic AI. Berbeda dengan Generative AI yang membantu manusia menghasilkan konten atau informasi, Agentic AI menghadirkan agen-agen digital yang mampu menjalankan tugas, mengambil keputusan, serta berkolaborasi secara aktif dengan manusia. Konsep ini menandai pergeseran paradigma dari “AI sebagai alat” menjadi “AI sebagai mitra” dalam ekosistem bisnis.

Chief Technology Officer dan Vice President of Sales Engineering IBM Asia Pacific, Jerry Zhu, menambahkan perspektif strategis. Ia berkata, “Pemenangnya adalah perusahaan-perusahaan yang mengutamakan AI (AI-First), bukan sekadar perusahaan yang diaktifkan oleh AI (AI-enabled).” Jerry menekankan bahwa dalam waktu dekat, AI tidak lagi hanya berfungsi sebagai pendukung, melainkan menjadi bagian integral dari model bisnis itu sendiri.

Namun, para pelaku industri menyoroti bahwa keberhasilan implementasi AI tidak semata-mata bergantung pada teknologi. Tantangan terbesar sering kali terletak pada kualitas dan integrasi data. Hans dan Jerry menilai bahwa banyak proyek AI gagal mencapai hasil maksimal karena data perusahaan masih tersebar di berbagai sistem yang tidak terhubung. Akibatnya, AI kesulitan memperoleh konteks yang dibutuhkan untuk menghasilkan keputusan yang akurat dan cepat.

Di sisi kebijakan, Direktur Teknologi Informasi BPJS Kesehatan, Setiaji, mengingatkan perusahaan agar tidak mengadopsi AI hanya karena takut tertinggal tren atau fenomena fear of missing out (FOMO). Menurutnya, investasi AI harus memiliki tujuan bisnis yang jelas agar mampu menghasilkan nilai tambah dan pengembalian investasi yang terukur.

Information Technology Director BNI, Toto Prasetio, menekankan bahwa transformasi AI tidak hanya berkaitan dengan teknologi. Perubahan budaya kerja dan kesiapan sumber daya manusia juga menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan implementasi. Ia menegaskan bahwa tanpa dukungan manusia, teknologi AI tidak akan mencapai potensi maksimalnya.

Managing Director Strategic Technology Initiatives Danantara, Ricardo Irwan Rei, menyoroti pentingnya kedaulatan teknologi nasional. Ia menyatakan bahwa Indonesia perlu mulai memikirkan pengembangan teknologi AI secara mandiri, mencontoh model AI seperti DeepSeek dan Qwen yang dikembangkan di China. Menurut Ricardo, langkah tersebut penting untuk memperkuat kedaulatan teknologi nasional dalam jangka panjang.

Di sektor perbankan, pemanfaatan AI semakin mendapat perhatian sebagai kapabilitas strategis yang mendorong operasional yang lebih otonom. Namun, implementasinya tetap harus dilakukan secara hati-hati. Industri keuangan harus menjaga keamanan data, memenuhi regulasi, serta memastikan ketahanan operasional tetap terjaga. Kesadaran akan risiko dan regulasi menjadi kunci dalam mengintegrasikan AI ke dalam layanan keuangan.

Secara keseluruhan, AI Leadership Exchange 2026 menegaskan bahwa perusahaan yang berhasil beradaptasi dengan paradigma Agentic AI akan memperoleh keunggulan kompetitif. Fokus pada integrasi data, tujuan bisnis yang jelas, serta kesiapan budaya dan sumber daya manusia menjadi kunci utama dalam memanfaatkan AI secara efektif. Dengan pendekatan yang tepat, AI dapat menjadi pendorong utama inovasi dan efisiensi di berbagai sektor industri Indonesia.

AI Leadership Exchange 2026Agentic AIAI-Firstintegrasi datakedaulatan teknologitransformasi digitalindustri keuangan

Komentar

Memuat komentar...