Ambulans Terjebak Konvoi, Pasien Kritis Meninggal

Ani R. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Ambulans Terjebak Konvoi, Pasien Kritis Meninggal

Gambar atau konten salah?

Seorang pria lanjut usia di Karanganyar, Hadi Sukat (61), meninggal dunia setelah ambulans yang hendak menjemputnya terjebak dalam konvoi pesilat. Peristiwa ini terjadi pada Minggu, 21 Juni 2026, di wilayah Karangpandan, Kabupaten Karanganyar.

Agung, seorang relawan yang membantu keluarga korban, menceritakan kronologi kejadian. Ia dibangunkan oleh keluarga Hadi pada pukul 02.30 WIB dini hari. Saat itu, kondisi Hadi sudah sangat kritis di rumahnya di Dukuh Bulurejo.

"Saat saya lihat, kondisinya mendengkur, lemas, setengah sadar, dan keringat bercucuran. Sepertinya terkena serangan jantung, tapi dia memiliki riwayat gula. Sudah sering kontrol RS PKU (Karanganyar)," kata Agung.

Agung kemudian bergegas mencari ambulans di basecamp. Namun, dua unit ambulans yang biasanya tersedia sedang tidak berada di tempat. Keduanya sedang keluar untuk membantu pengondisian di lokasi lain.

Ia pun menghubungi salah satu sopir ambulans dan memintanya segera kembali ke basecamp. Dari sopir, Agung mendapat kabar bahwa ambulans tersebut sedang terjebak dalam konvoi salah satu perguruan silat di kawasan Tugu Ngipik, Karangpandan.

Ambulans yang hendak menuju lokasi pasien harus melewati sejumlah titik yang dipadati massa. Bahkan, kendaraan disebut sempat tertahan cukup lama di kawasan jembatan arah timur dan sekitar terminal Karangpandan.

"Saya menunggu ambulans ke basecamp cukup lama, kalau tidak terhalang mungkin 5 menit sudah sampai. Nunggunya sekitar setengah jam, kalau lalu lintas normal paling 5 menitan," jelas Agung.

Akhirnya ambulans tiba di lokasi. Rencananya, Hadi akan dibawa ke RS PKU Karanganyar. Namun, karena kondisinya semakin kritis, tim memutuskan untuk membawanya ke Puskesmas Karangpandan yang lebih dekat.

Dalam perjalanan menuju Puskesmas, ambulans kembali sempat tertahan. Kali ini di simpang empat Karangpandan oleh konvoi perguruan silat yang sama. "Dari rumah ke Puskesmas juga sempat terhambat sedikit oleh kerumunan massa, tapi tidak begitu lama. Ambulans diberi jalan, tapi ada satu dua motor yang nekat. Tapi ambulans tetap bisa jalan, meski kerumunan massanya banyak," terang Agung.

Sesampainya di Puskesmas Karangpandan, Hadi Sukat sudah dinyatakan meninggal dunia. Agung tidak bisa memastikan kapan tepatnya pasien mengembuskan napas terakhir. Ia mengaku fokus pada upaya membawa pasien ke fasilitas kesehatan.

"Saat saya bawa sudah tidak mendengkur, yang di belakang istrinya tapi nangis terus. Saat sampai Puskesmas, dicek sudah tidak ada," ujarnya.

Agung menambahkan, dalam situasi seperti ini, ambulans yang melintas tanpa membawa pasien sering disalahpahami oleh pengguna jalan. Banyak yang mengira ambulans kosong tidak sedang menjalankan tugas. Padahal, ambulans tersebut bisa saja sedang dalam perjalanan menuju lokasi untuk menjemput pasien atau menjalankan tugas darurat lainnya.

"Ambulans kosong sering dianggap tidak membawa pasien. Padahal bisa saja sedang menuju lokasi untuk menjemput pasien atau menjalankan tugas darurat lainnya," pungkasnya.

Peristiwa ini menyoroti betapa pentingnya prioritas bagi kendaraan darurat di jalan raya, termasuk ambulans yang sedang melaju tanpa membawa pasien sekalipun. Keterlambatan beberapa menit akibat terhalang konvoi bisa berakibat fatal, seperti yang dialami oleh Hadi Sukat. Kejadian di Karangpandan ini menjadi pengingat bahwa setiap detik sangat berharga dalam situasi medis darurat, dan hambatan di jalan bisa menjadi soal hidup dan mati.

ambulanskonvoi pesilatKaranganyarkematiankendaraan daruratprioritas jalan

Komentar

Memuat komentar...