Anak 7 Tahun di India Hindari Dialisis, Stabilitas Ginjal

Nita W. · 3 min baca · 58 menit lalu · 25 dibaca
Bisik.id
Anak 7 Tahun di India Hindari Dialisis, Stabilitas Ginjal

Gambar atau konten salah?

Di India, seorang anak berusia 7 tahun berhasil menghindari ketergantungan dialisis meski didiagnosis dengan penyakit ginjal kronis stadium 5. Cerita ini bermula pada 01 Maret 2025 ketika anak tersebut dilarikan ke rumah sakit swasta setelah muncul gejala aneh.

Awalnya, dokter menilai keluhan tersebut sebagai penyakit umum. Anak itu mengalami pembengkakan di seluruh tubuh, penurunan produksi urine, kelelahan berat, nafsu makan menurun, dan aktivitas yang drastis berkurang. Semua gejala ini membuat tim medis melakukan pemeriksaan menyeluruh.

Hasil tes menunjukkan penyebabnya adalah Congenital Anomalies of the Kidney and Urinary Tract (CAKUT), kelainan bawaan yang memengaruhi struktur dan perkembangan ginjal serta saluran kemih. Pemeriksaan lanjutan mengungkapkan kedua ginjal pasien mengalami hipodisplasia, yaitu kondisi ketika ginjal berukuran sangat kecil dan tidak berkembang secara optimal. Akibatnya, fungsi penyaringan ginjal terus menurun hingga mencapai stadium lanjut.

Sejak sebelum dirawat di rumah sakit tersebut, pasien sempat menjalani beberapa kali prosedur dialisis. Namun, mengingat usia masih sangat muda, dokter memutuskan menghentikan dialisis dan beralih ke terapi konservatif. Selama tujuh hingga 10 hari, pasien menjalani perawatan intensif. Penanganan difokuskan pada stabilisasi kondisi tubuh sekaligus memperlambat kerusakan fungsi ginjal yang terjadi.

Strategi pengobatan tersebut mengombinasikan pemberian obat-obatan, pemantauan ketat, serta pengaturan pola makan dan gaya hidup secara terukur. Hasilnya menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Tubuh pasien merespons pengobatan dengan baik dan kondisi kesehatannya berangsur stabil. Selama satu tahun terakhir, bocah tersebut rutin menjalani pemeriksaan medis. Kini, ia dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan kondisi kesehatan yang stabil tanpa harus kembali menjalani dialisis.

“Kelainan ginjal bawaan merupakan penyebab utama penyakit ginjal kronis pada anak-anak. Seringkali, gejala awal tidak jelas dan dapat tidak disadari hingga akhirnya kambuh di usia yang lebih tua,” jelas Dr Neha V Pandey, konsultan nefrologi anak di Rumah Sakit Kailash. Dr Pandey menambahkan, “Namun, dengan deteksi dini dan penanganan medis yang tepat, perkembangan penyakit dapat diperlambat secara signifikan,” sambungnya yang dikutip dari Times of India.

Menurut Dr Pandey, kasus CAKUT menyumbang sekitar 40 hingga 50 persen kasus penyakit ginjal kronis pada anak-anak. Kelainan tersebut dapat berupa ginjal yang tidak terbentuk (aplasia), ginjal kerdil atau hipodisplastik, penyakit ginjal kistik, hingga gangguan aliran urine seperti refluks vesikoureterik.

“Selain penyebab bawaan lahir, kondisi lain yang dapat menyebabkan penyakit ginjal kronis pada anak-anak meliputi infeksi ginjal berulang, glomerulonefritis (peradangan unit penyaringan ginjal), gangguan herediter yang memengaruhi fungsi ginjal, penyakit ginjal kistik, dan gangguan metabolisme tertentu atau obat-obatan yang dapat merusak ginjal,” beber Dr Pandey.

Dr Pandey juga mengungkapkan bahwa kasus gangguan ginjal pada anak usia di bawah 10 tahun kini semakin sering dilaporkan. Selain faktor bawaan lahir, perubahan gaya hidup modern turut meningkatkan risiko gangguan kesehatan ginjal pada anak. Konsumsi makanan cepat saji, makanan olahan tinggi garam, minuman manis, sembelit kronis, kebiasaan menahan buang air kecil, kurang tidur, hingga penggunaan gawai atau screen time yang berlebihan menjadi sejumlah faktor yang perlu mendapat perhatian orang tua.

Karena itu, deteksi dini dan pemantauan kesehatan secara rutin menjadi langkah penting untuk mencegah kerusakan ginjal berkembang ke tahap yang lebih berat pada anak-anak. Kasus anak ini menunjukkan bahwa terapi konservatif, bila diterapkan tepat waktu, dapat memberikan hasil yang positif bahkan pada penyakit ginjal stadium akhir.

anak ginjal kronisCAKUThipodisplasiadialisisterapi konservatifdeteksi dinikonsultan nefrologi anak

Komentar

Memuat komentar...