Anak-Anak Ciamis Berburu Layangan Putus, Lebih Seru dari Gawai
Gambar atau konten salah?
Sore hari di Blok Rancatunjung, yang terletak di Dusun Majalaya, Desa Imbanagara Raya, Kecamatan Ciamis, biasanya berlangsung tenang. Namun, suasana itu berubah menjadi riuh rendah ketika sekelompok anak-anak mulai berteriak. Keriuhan ini bukan berasal dari permainan video game atau ponsel pintar. Sumber suara itu justru datang dari sebuah layangan putus yang terbang bebas, terbawa oleh hembusan angin.
Sekelompok anak terlihat berlari dari area persawahan Ranca menuju ke arah pemukiman penduduk. Pandangan mereka tidak lepas dari langit. Mereka terus mengamati pergerakan layangan yang kadang-kadang meliuk-liuk tidak menentu, seolah-olah sedang dipermainkan oleh angin khas musim kemarau. Beberapa anak memilih untuk berjaga di tepi kolam, bersiap-siap jika layangan itu memutuskan untuk jatuh ke air. Sementara itu, anak-anak lainnya memilih untuk menyusuri pematang sawah yang sempit dan jalan setapak yang ada di antara rumah-rumah warga. Komunikasi di antara mereka berlangsung dengan cepat. Mereka saling memberikan aba-aba, sambil menunjuk ke arah langit di mana layangan itu terus bergerak menjauh.
Seorang anak laki-laki yang mengenakan baju berwarna oranye terlihat membawa sebatang bambu yang panjang. Bambu ini adalah alat sederhana yang biasa mereka gunakan untuk menjangkau layangan yang mungkin tersangkut di dahan pohon atau jatuh ke dalam kolam ikan milik warga. Namun, pada kesempatan kali ini, keberuntungan belum berpihak kepada mereka. Layangan yang mereka incar justru tercebur ke dalam kolam, dan usaha mereka untuk mengambilnya gagal. Meskipun begitu, raut kekecewaan di wajah mereka hanya bertahan sesaat. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk kembali berlari menuju area persawahan, bersiap untuk menunggu datangnya layangan putus berikutnya.
Pemandangan seperti ini hampir bisa disaksikan setiap sore hari di kawasan tersebut, sejak musim kemarau mulai menyapa. Hamparan sawah yang luas, ditambah dengan hembusan angin yang cukup kencang, telah menjadi lokasi favorit bagi anak-anak untuk menerbangkan layangan. Namun, lebih dari sekadar menerbangkan, mereka juga gemar berburu layangan yang putus. Bagi mereka, berburu layangan putus bukanlah sekadar aktivitas untuk mencari benda yang bisa dimainkan kembali. Ada sensasi tersendiri yang mereka rasakan saat mengejar layangan yang terbang bebas di langit.
Ubeng, yang merupakan nama panggilan dari salah seorang anak yang ikut dalam perburuan, menjelaskan kegiatan mereka saat ditemui di lokasi. "Nuju moro langlayangan pegat (sedang berburu layangan putus)," ujarnya. Ubeng mengaku bahwa ia hampir setiap hari melakukan perburuan ini, mulai dari pukul 16.00 WIB hingga menjelang waktu magrib. Meskipun dalam beberapa hari terakhir ia baru berhasil mendapatkan satu layangan, semangatnya untuk mengikuti permainan ini tidak pernah surut. "Sebetulnya bukan karena tidak punya layangan. Yang seru itu pas ngejarnya bareng teman-teman. Kalau berhasil dapat rasanya senang sekali," kata Ubeng.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh Acep. Menurutnya, keseruan dari permainan ini justru terletak pada proses pengejaran itu sendiri. "Kadang layangannya jauh, tapi tetap dikejar. Seru kalau bisa dapat. Apalagi kalau sama-sama lari dengan teman-teman. Tapi harus tetap hati-hati," ujarnya. Bagi anak-anak yang tinggal di kampung tersebut, layangan yang putus memiliki nilai yang lebih dari sekadar benda permainan. Sensasi ketika berlari, menerobos pematang sawah, hingga berebut untuk mendapatkan layangan adalah sebuah pengalaman yang tidak bisa digantikan oleh apa pun.
Di tengah maraknya penggunaan gawai dan media sosial, pemandangan anak-anak yang bermain di luar rumah seperti ini semakin jarang ditemukan. Namun, di sudut Ciamis ini, tradisi berburu layangan putus masih tetap bertahan. Tradisi ini menjadi sebuah cerita masa kecil yang sederhana, namun tetap hidup dan diwariskan secara alami dari satu generasi ke generasi berikutnya. Aktivitas ini menunjukkan bahwa kegembiraan tidak selalu harus datang dari layar digital, tetapi bisa juga berasal dari berlari mengejar sesuatu di bawah langit yang luas.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Aktor Cuk Nugroho, Pemeran Saep di Preman Pensiun, Meninggal
Rupiah Melemah, Harga Oli dan Sparepart Melonjak
Cuaca Bandung Minggu: Sejuk, Awan, Kelembapan Tinggi
Pabrik China rakit satu mobil tiap 50 detik, capai 600.000 setahun
Harga Minyak Dunia Kembali Naik Setelah Israel Serang Lebanon
Aktor 'Preman Pensiun' Cuk Nugroho Meninggal di Usia 50 Tahun
Berita Terbaru
Wortel Tak Bisa Hentikan Mata Minus, Dokter Tegaskan
Kebenaran Akan Terbuka, Tuhan Membela
Aktor Cuk Nugroho, Pemeran Saep di Preman Pensiun, Meninggal
Anak-Anak Ciamis Berburu Layangan Putus, Lebih Seru dari Gawai
Menteri ESDM Bahlil bantah pemadaman listrik akibat kekurangan batu bara
Batu Kuno Bertulis "Palyangan" Ditemukan di Gang Klaten
Gus Yahya Serukan Ketulusan Khidmah di Pembukaan Munas NU 2026
Pola Makan Atlet Elite: Jangan Ditiru Mentah-mentah
Cortado vs Latte: Bukan Sama, Ini Beda Utamanya
