Anak Tuli Dinda Jadi Mahasiswa ITB, Dukungan Ibu Jadi Kunci

Dewi M. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 147 dibaca
Bisik.id
Anak Tuli Dinda Jadi Mahasiswa ITB, Dukungan Ibu Jadi Kunci

Gambar atau konten salah?

Melsi Sinara, seorang ibu, merasakan kebahagiaan sekaligus kebanggaan ketika anaknya, Zhafira Luthfiadinda—yang lebih akrab dipanggil Dinda—menerima tawaran masuk ke Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026.

Keberhasilan ini tidak datang begitu saja. Melsi telah lama mempersiapkan mental Dinda agar mampu bersaing di lingkungan umum. Ia mulai membiasakan Dinda mengikuti kompetisi tingkat nasional sejak usia dini.

"Sejak kecil Dinda kami ikutkan dalam lomba-lomba lukis untuk umum, bersaing dengan anak pendengaran normal. Awal-awal tentu Dinda banyak mengalami kekalahan, dari situ mentalnya terlatih dan dapat menerima bahwa menang kalah adalah hal biasa," kata Melsi dalam wawancara tertulis pada 17 April 2026.

Dengan cara ini, Dinda belajar bahwa kegagalan adalah bagian dari proses. Melsi tidak membatasi ruang gerak putrinya. Ia mendorong Dinda untuk berani berkompetisi di luar lingkungan sekolah khusus.

Ketika Dinda memasuki masa SMA, Melsi menantangnya ikut serta dalam lomba desain yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi dan produsen minuman. Tujuannya tidak hanya meningkatkan kreativitas, tetapi juga membangun kepercayaan diri Dinda bahwa ia dapat bersaing dengan teman sebaya yang dapat mendengar.

"Saat SMA pun Dinda kami tantang untuk mengikuti lomba-lomba desain yang diselenggarakan oleh kampus dan produsen minuman. Hal ini selain untuk mengasah kreativitas, juga agar Dinda lebih percaya diri bahwa dia mampu bersaing dengan teman dengar sebaya," jelas Melsi.

Selain kompetisi, kemandirian dalam kehidupan sehari‑hari juga menjadi fokus. Dinda diajarkan menggunakan transportasi umum seperti MRT dan Transjakarta secara mandiri, serta menjalani magang di perusahaan.

Pengalaman ini membentuk Dinda menjadi pribadi yang mandiri dan percaya diri dalam berinteraksi dengan orang yang dapat mendengar.

Sebagai orang tua anak berkebutuhan khusus, Melsi menilai bahwa penerimaan kondisi anak adalah kunci utama. Ia menekankan pentingnya melewati fase penolakan (denial) secepat mungkin agar dapat fokus pada masa depan anak.

"Pertama, segera masuk ke fase penerimaan, lampaui fase denial. Karena dengan menerima, kita akan berpikir selangkah lebih maju, fokus pada apa yang bisa kita berikan untuk anak agar survive ke depannya. Gali kelebihan dan bakat anak sedini mungkin, lalu fokuslah pada satu kecerdasan itu dan kembangkan," tegasnya.

Setelah menerima kondisi Dinda, Melsi memusatkan perhatian pada pengembangan bakat seni. Ia menyediakan berbagai kegiatan dan sarana pendukung sehingga Dinda dapat meraih prestasi tingkat nasional, yang menjadi bekal masuk ITB.

"Beri Kebebasan Memilih" menjadi prinsip yang dipegang. Meskipun kakak Dinda, Daffa, merupakan alumni Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, Melsi tidak pernah memaksa Dinda mengikuti jejak yang sama.

"Anak-anak diberikan kebebasan untuk memilih dan berpendapat, kami orang tuanya sebisa mungkin tidak memaksa. Kami mengarahkan dan berdiskusi sampai mereka memahami apa konsekuensi dari masing-masing pilihan. Sehingga ketika mereka memutuskan, mereka bisa menerima apapun hasilnya dengan lapang dada," ujarnya.

Dalam peran sebagai fasilitator, Melsi membantu Dinda menggali informasi. Sebelum memilih ITB, mereka mengunjungi beberapa kampus, seperti Telkom University, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), hingga Universitas Brawijaya (UB), untuk melihat fasilitas dan suasananya secara langsung.

Hasilnya, Dinda menjadi siswa tuli pertama dari SLB Santi Rama yang diterima di ITB Kampus Ganesha. Pencapaian ini menegaskan betapa pentingnya komunikasi intens dan dukungan penuh orang tua dalam membantu anak meraih cita‑cita.

"Berikan kebebasan pada anak untuk memilih jalan hidupnya karena bagaimanapun mereka yang akan menjalani. Dengan komunikasi intens insya Allah anak akan terbuka dengan kita dan sering berkonsultasi sehingga kita akan lebih mudah untuk mengarahkan," pungkasnya.

Keberhasilan Dinda menunjukkan bahwa dukungan emosional, kesempatan berkompetisi, dan kebebasan memilih dapat membuka pintu bagi anak berkebutuhan khusus untuk meraih prestasi di perguruan tinggi. Dengan pendekatan yang konsisten, Melsi berhasil menumbuhkan rasa percaya diri dan kemandirian pada putrinya, menandai langkah penting menuju masa depan yang lebih luas.

DindaITBFSRDSNBPMelsi Sinarakemandiriankompetisiseni rupa

Komentar

Memuat komentar...