Ancaman Bahasa Gaul: Mulok Palembang Terkikis

Mira T. · 2 min baca · 2 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Ancaman Bahasa Gaul: Mulok Palembang Terkikis

Gambar atau konten salah?

Di Palembang, pelajaran bahasa daerah yang disebut muatan lokal (mulok) Bahasa Palembang ternyata punya peran penting. Mata pelajaran ini diajarkan dari tingkat SD sampai SMP di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Tujuannya jelas: menjaga warisan budaya daerah agar tidak hilang.

Tapi masalahnya, sekarang banyak anak muda yang lebih suka pakai istilah asing. Mereka menganggapnya lebih keren. Ini yang dikhawatirkan oleh pengamat pendidikan Sumatera Selatan, Prof Abdullah Idi. Menurut dia, pembelajaran bahasa daerah harus dimulai sejak dini. Lewat bahasa, anak-anak bisa mengenal adat istiadat dan nilai-nilai budaya khas Palembang.

Harapannya, langkah ini bisa menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas daerah. Sekaligus mencegah penggunaan Bahasa Palembang yang semakin berkurang di kalangan generasi muda.

"Mulok sangat penting, yakni sebagai kebutuhan masyarakat atau social needs. Posisi mulok sebagai kurikulum muatan lokal, yang berarti memang suatu kebutuhan sosial, untuk pendidikan bagi anak-anak yakni pewarisan budaya lokal," ujarnya pada Selasa, 14 Juli 2026.

Dia menambahkan, "Secara konseptual-teoritik sangat bagus. Mulok Bahasa Palembang, terutama Bebaso (Palembang halus), sangat penting untuk melestarikan identitas budaya dan menjaga kesopanan (tata krama) lokal."

Meskipun penerapannya dinilai cukup baik, ada banyak tantangan. Semua pihak harus ikut perhatian. Mulai dari orang tua, keluarga, sekolah, sampai pemerintah daerah.

"Tantangan penerapan mulok itu sendiri harus menjadi perhatian semua pihak. Mulok sebagai sumber curriculum decicion making yang tepat, agar mulok berjalan efektif dan tepat sasaran seperti yang diharapkan," jelasnya.

Menurut Prof Abdullah, secara aplikatif atau aktual, penerapannya tidak mudah. Dia melihat ada gengsi di kalangan remaja. Mereka lebih suka pakai bahasa gaul dengan istilah asing.

"Muatan lokal tidak wajib sehingga tidak pressure pribadi untuk belajar. Selain itu, referensi masih kurang, kamus belum lengkap, profesional guru juga belum terjamin. Tak hanya itu, dampak AI terhadap siswa dan orang dewasa juga membuat mereka kurang tertarik dengan mulok Bahasa Palembang," katanya.

Dosen UIN Raden Fatah Palembang ini juga menyoroti masalah lain. "Kurangnya dukungan masyarakat, karena masyarakat Palembang bersifat multikultural, banyak bukan penutur asli juga menjadi kendala dalam penerapannya."

Dia mengakui, belum ada penelitian soal apakah siswa suka atau tidak dengan mulok ini. Tapi faktanya, bahasa lokal memang dipakai sehari-hari. Hanya saja, anak-anak lebih senang berbahasa gaul.

"Memang mereka menggunakan Bahasa Palembang untuk komunikasi sehari-hari, tapi mereka juga lebih senang berbahasa gaul, karena dianggap keren. Menurut saya, anak-anak sekolah cenderung menggunakan bahasa gaul seperti di media sosial. Mereka hanya menggunakan bahasa identitas Palembang, ketika di rumah bersama keluarga. Kebanyakan di sekolah, mereka menggunakan Bahasa Indonesia, bukan bahasa daerah," jelasnya.

Karena itu, dia merekomendasikan edukasi Bahasa Palembang tidak hanya di sekolah. "Mungkin perlu juga menggunakan infuencers di media sosial seperti di Tiktok, Instagram, drama, seni musik, dan lain sebagainya," ungkapnya.

Intinya, Bahasa Palembang masih dipakai, tapi posisinya mulai tergeser oleh bahasa gaul dan pengaruh media sosial. Tanpa upaya yang lebih kreatif dan menyentuh langsung keseharian anak muda, bahasa daerah ini bisa semakin jarang terdengar.

bahasa Palembangmuatan lokalgenerasi mudapelestarian budayatantanganbahasa gaulmedia sosial

Komentar

Memuat komentar...