Bandara Sam Ratulangi: Dua Bahasa Manado & Inggris Indonesia
Gambar atau konten salah?
Bandara Sam Ratulangi di Manado menjadi tempat pertemuan dua bahasa. Setiap kali penerbangan berangkat atau tiba, penumpang mendengar pengumuman dalam Bahasa Manado dan bahasa Inggris. Suara itu menjadi pintu gerbang bagi siapa saja yang datang, memberi nuansa lokal yang hangat.
Asal-usul Bahasa Manado bermula pada abad ke-16, ketika pelaut Melayu menggunakan bahasa ini sebagai media perdagangan rempah-rempah di Maluku Utara. Seiring waktu, bahasa ini menampung unsur dari bahasa daerah Sulawesi Utara dan kata-kata serapan dari berbagai bahasa asing.
Intonasi Bahasa Manado cepat dan penuh warna. Ia menjadi identitas budaya penting bagi penduduk setempat dan sekaligus bahasa sehari-hari yang memperkaya keragaman bahasa di Indonesia. Setiap frasa mengandung sejarah interaksi lintas budaya yang panjang.
Contoh kata yang berasal dari bahasa Melayu: kita (saya), kamu (ngana), mereka (ngoni), saling (baku lia), dan dapat (dapa lia). Kalimat sederhana seperti “So dapa lia jao itu rumah” berarti “Sudah terlihat jauh rumah itu.”
Serapan Portugis menampakkan diri dalam kata seperti dahi (testa), jagung (mili), bolu (bolo), utuh (enteru), kursi (kadera), segar (fresko), dan bosan (fastiu). Kata-kata ini menunjukkan hubungan perdagangan dengan Portugis.
Dari Belanda, Bahasa Manado mengadopsi baling-baling (wayer), kotak (dos), gagal (afker), garpu (vorok), kacang merah (brenebon), layang-layang (falinggir), penuh (vol), selesai (klar), sendok (leper), sudut (huk), dan tetangga (birman). Kata-kata ini mencerminkan pengaruh kolonial Belanda.
Serapan dari Prancis terlihat pada hadiah (kado), saku (popoji), teduh (sombar), restoran (restaurer), dan perkedel (fricandeau). Setiap kata membawa nuansa kuliner dan sosial.
Spanyol juga memberikan kontribusi, misalnya retak (kaskado/bakado) dan sepasang (par). Kata-kata ini menandai hubungan dagang dengan dunia Eropa.
Dari bahasa Jerman, Bahasa Manado meminjam besar (goros). Meskipun hanya satu contoh, ia menunjukkan jangkauan pengaruh bahasa di wilayah ini.
Artikel ini ditulis oleh Hari Suroto, yang bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara. (wsw/wsw)
Bahasa Manado, dengan campuran bahasa Melayu dan serapan asing, mencerminkan sejarah perdagangan dan interaksi budaya di Maluku Utara. Ia tetap menjadi contoh beragam bahasa Indonesia yang hidup dan dinamis.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gamelan Bali dan Tarian Tampil di Pagi SF Indo Cita
Liburan Baru Fokus Istirahat: Tren Sleep Tourism Meningkat
Serenada di Enchanting Valley: Konser Dua Hari Buka Puncak
Bayi Orangutan Sumatera Lahir di Cagar Alam Jantho 2026
Serenada Enchanting Valley: Konser Musik di Puncak Bogor
Kemenpar Luncurkan Program Penertiban Akomodasi 2026
Berita Terbaru
Alfamidi Laba Kuartal 2026 Naik 39,5% dengan Ekspansi Gerai
Kebakaran Hutan Musi Rawas Utara Terus, Muba Terkendali
Wakil Menteri Kunjungi SMP Tabanan, Cek Revitalisasi, MBG
Wakil Menteri Kunjungi SDN 3 Sembung Gede, Minta Revitalisasi
Hujan Lebat dan Petir Diprediksi Menyerang Medan Malam Ini
58 Hunian Terganggu Angin Kencang: Warga Kembali ke Tenda
Orang Tua Kritik Menu MBG Cibodas: Nugget, Anggur, Kedelai
Argentina Skuad Piala 2026: Messi Sang Unggul, Generasi Baru
