Bandara Sam Ratulangi: Dua Bahasa Manado & Inggris Indonesia

Teguh A. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 73 dibaca
Bisik.id
Bandara Sam Ratulangi: Dua Bahasa Manado & Inggris Indonesia

Gambar atau konten salah?

Bandara Sam Ratulangi di Manado menjadi tempat pertemuan dua bahasa. Setiap kali penerbangan berangkat atau tiba, penumpang mendengar pengumuman dalam Bahasa Manado dan bahasa Inggris. Suara itu menjadi pintu gerbang bagi siapa saja yang datang, memberi nuansa lokal yang hangat.

Asal-usul Bahasa Manado bermula pada abad ke-16, ketika pelaut Melayu menggunakan bahasa ini sebagai media perdagangan rempah-rempah di Maluku Utara. Seiring waktu, bahasa ini menampung unsur dari bahasa daerah Sulawesi Utara dan kata-kata serapan dari berbagai bahasa asing.

Intonasi Bahasa Manado cepat dan penuh warna. Ia menjadi identitas budaya penting bagi penduduk setempat dan sekaligus bahasa sehari-hari yang memperkaya keragaman bahasa di Indonesia. Setiap frasa mengandung sejarah interaksi lintas budaya yang panjang.

Contoh kata yang berasal dari bahasa Melayu: kita (saya), kamu (ngana), mereka (ngoni), saling (baku lia), dan dapat (dapa lia). Kalimat sederhana seperti “So dapa lia jao itu rumah” berarti “Sudah terlihat jauh rumah itu.”

Serapan Portugis menampakkan diri dalam kata seperti dahi (testa), jagung (mili), bolu (bolo), utuh (enteru), kursi (kadera), segar (fresko), dan bosan (fastiu). Kata-kata ini menunjukkan hubungan perdagangan dengan Portugis.

Dari Belanda, Bahasa Manado mengadopsi baling-baling (wayer), kotak (dos), gagal (afker), garpu (vorok), kacang merah (brenebon), layang-layang (falinggir), penuh (vol), selesai (klar), sendok (leper), sudut (huk), dan tetangga (birman). Kata-kata ini mencerminkan pengaruh kolonial Belanda.

Serapan dari Prancis terlihat pada hadiah (kado), saku (popoji), teduh (sombar), restoran (restaurer), dan perkedel (fricandeau). Setiap kata membawa nuansa kuliner dan sosial.

Spanyol juga memberikan kontribusi, misalnya retak (kaskado/bakado) dan sepasang (par). Kata-kata ini menandai hubungan dagang dengan dunia Eropa.

Dari bahasa Jerman, Bahasa Manado meminjam besar (goros). Meskipun hanya satu contoh, ia menunjukkan jangkauan pengaruh bahasa di wilayah ini.

Artikel ini ditulis oleh Hari Suroto, yang bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara. (wsw/wsw)

Bahasa Manado, dengan campuran bahasa Melayu dan serapan asing, mencerminkan sejarah perdagangan dan interaksi budaya di Maluku Utara. Ia tetap menjadi contoh beragam bahasa Indonesia yang hidup dan dinamis.

Bandara Sam RatulangiBahasa Manadopengumumanserapan bahasaperdagangan rempahpengaruh Portugiskebudayaan Sulawesi Utara

Komentar

Memuat komentar...