BBM Stabil: Stok Minyak Aman, Fokus CNG dan B50 Kinerja

Yanto K. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 50 dibaca
Bisik.id
BBM Stabil: Stok Minyak Aman, Fokus CNG dan B50 Kinerja

Gambar atau konten salah?

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa pasokan bahan bakar minyak (BBM) domestik masih berada di atas standar minimum nasional. Ia menyampaikan hal tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, pada 27 April 2026.

Dalam pertemuan itu, Bahlil menegaskan bahwa kualitas BBM solar maupun bensin tetap terjaga. Ia menambahkan, “Baik dari sisi BBM produk, baik solar maupun bensin. Dari semua aspek, alhamdulillah semuanya di atas standar minimum nasional. Jadi alhamdulillah sudah dua bulan, hampir dua bulan ketika kejadian, geopolitik di Timur Terhadap Selat Hormuz, kita masih stabil,” ujar Bahlil dalam keterangan tertulis Kementerian ESDM, 28 April 2026.

Selain itu, Bahlil menjelaskan bahwa stok minyak mentah (crude) yang diperlukan untuk pengembangan kilang nasional tetap aman di atas batas minimum. Dengan kondisi tersebut, pasokan energi nasional secara keseluruhan tidak mengalami kendala.

Ia juga melaporkan upaya mengurangi ketergantungan impor liquefied petroleum gas (LPG). Saat ini, konsumsi LPG nasional tercatat sekitar 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri berada di kisaran 1,6 hingga 1,7 juta ton. Akibatnya, masih ada sekitar 7 juta ton yang harus dipenuhi melalui impor. Pemerintah sedang menelaah alternatif substitusi, seperti pengembangan Dimethyl Ether (DME) berbasis batu bara kalori rendah dan pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG).

Menurut Bahlil, CNG menjadi salah satu opsi karena memanfaatkan gas C1 dan C2 yang produksinya cukup besar di dalam negeri. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat pemanfaatan gas domestik sekaligus menekan ketergantungan impor LPG. Ia menyatakan, “Sekarang lagi masih dalam pembahasan yang tadi saya laporkan adalah kita membuat CNG. Tapi ini masih dalam pembahasan, saya harus finalisasi, dan ini salah satu alternatif terbaik untuk kita mendorong agar kemandirian energi kita di sektor LPG bisa dapat kita lakukan,” jelas Bahlil.

Penggunaan CNG dianggap lebih efisien karena dapat dipakai untuk hotel, restoran, hingga SPBG yang sebagian telah berjalan saat ini. Bahlil menambahkan bahwa pemerintah juga menyiapkan langkah strategis untuk menghadapi potensi krisis energi global, termasuk optimalisasi lifting migas, penguatan program biodiesel B50, dan pengembangan bahan bakar berbasis bioetanol melalui E20.

Uji jalan pada berbagai sektor pengguna sedang berlangsung. Hasil uji jalan di sektor otomotif menunjukkan penggunaan B50 berada dalam kondisi aman, tanpa kendala signifikan. Performa mesin, filter bahan bakar, serta kualitas pelumas masih berada dalam batas standar yang direkomendasikan pabrikan. Keberhasilan ini menjadi dasar perluasan implementasi ke sektor perkeretaapian melalui uji jalan pada lokomotif, sebagai bagian dari kesiapan mandatori B50 secara nasional. Langkah ini penting untuk mengurangi impor solar.

Bahlil menegaskan tiga hal utama dalam menghadapi krisis energi dunia: pertama, mengoptimalkan lifting migas; kedua, mencari diversifikasi seperti B50; ketiga, mendorong penggunaan etanol, E20. Ia menyimpulkan, “Kita itu ada tiga hal yang harus kita lakukan dalam menghadapi krisis energi dunia sekarang. Yang pertama adalah kita harus mengoptimalkan lifting kita. Yang kedua adalah mencari diversifikasi, seperti B50. B50 itu kan mengurangi impor solar kita. Yang ketiga adalah kita harus dorong ke E, untuk bensin. Etanol, E20. Itu adalah bagian salah satu strategi,” pungkasnya.

Dengan langkah-langkah tersebut, pemerintah berharap dapat menjaga stabilitas pasokan energi nasional, mengurangi ketergantungan impor, dan memperkuat kemandirian energi di sektor BBM dan LPG.

BBMLPGB50E20CNGLifting MigasKemandirian Energi

Komentar

Memuat komentar...