BBM Tahan April, Risiko Naik Harga & Pertumbuhan Melambat

Dedi S. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 71 dibaca
Bisik.id
BBM Tahan April, Risiko Naik Harga & Pertumbuhan Melambat

Gambar atau konten salah?

Jakarta – Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) berpotensi melonjak seiring kenaikan harga minyak global, dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang belum mereda.

Pemerintah telah menahan kenaikan BBM pada bulan April, langkah yang mendapat sambutan positif. Namun, Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies Piter Abdullah menegaskan bahwa penahanan harga tidak akan berlangsung lama.

“Apabila kenaikan harga minyak berlangsung hingga akhir tahun, akan semakin sulit menahan harga BBM tidak naik. Oleh karena itu masyarakat dan pelaku bisnis perlu memahami bahwa penyesuaian harga energi dalam kondisi tertentu merupakan bagian dari respons kebijakan yang wajar, selama diikuti dengan kompensasi yang tepat sasaran,” jelas Piter dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat 3 April 2026.

Piter juga mengingatkan kombinasi kenaikan harga energi, pelemahan nilai tukar, serta tekanan fiskal perlu diantisipasi dari sisi stabilitas sistem keuangan. Menurutnya, dalam situasi ketidakpastian global yang meningkat, koordinasi kebijakan antarotoritas ekonomi menjadi semakin penting.

“Dalam kondisi seperti ini, koordinasi melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menjadi krusial. Dunia usaha dan pelaku pasar tentu menunggu sinyal kebijakan dari otoritas seperti Bank Indonesia, OJK, serta Kementerian Keuangan mengenai arah stabilitas sistem keuangan ke depan,” terangnya.

Harga minyak saat ini telah melampaui asumsi dalam APBN 2026 yang berada di kisaran US$ 70 per barel. Sementara harga pasar saat ini di atas US$ 100 per barel.

Board of Experts Prasasti yang juga pernah menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia, Halim Alamsyah, menambahkan bahwa dengan harga tinggi tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan berada di level 4,7% hingga 4,9%.

“Dalam skenario harga minyak tinggi yang berkepanjangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga berpotensi melambat. Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi dapat turun ke kisaran 4,7-4,9 persen, di bawah rata-rata pertumbuhan sekitar 5 persen dalam beberapa tahun terakhir,” jelas Halim.

Halim juga menyampaikan dalam skenario harga minyak sekitar US$ 100 per barel dan Rupiah di kisaran Rp 17.000 per dolar, defisit fiskal Indonesia akan melampaui batas defisit sebesar 3%.

“Kami memperkirakan defisit fiskal berpotensi melebar ke kisaran 3,3-3,5% dari PDB, melampaui batas defisit 3% yang selama ini dijaga pemerintah,” ujarnya.

Perubahan harga BBM yang berkepanjangan dapat menekan daya beli masyarakat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, tekanan fiskal yang meningkat menuntut kebijakan fiskal yang lebih tajam. Koordinasi antara Bank Indonesia, OJK, dan Kementerian Keuangan melalui KSSK menjadi kunci untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan meminimalkan dampak negatif terhadap perekonomian nasional.

Harga BBMHarga minyak globalKonflik AS-Israel-IranDefisit fiskalPertumbuhan ekonomiKSSKBank IndonesiaOJK

Komentar

Memuat komentar...