Bitcoin Anjlok 5% Akibat Konflik Israel-Lebanon, Likuidasi Capai Rp9 Triliun

Ika P. · 3 min baca · 4 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
Bitcoin Anjlok 5% Akibat Konflik Israel-Lebanon, Likuidasi Capai Rp9 Triliun

Gambar atau konten salah?

Ketegangan politik antara Israel dan Lebanon yang semakin memanas ternyata berdampak langsung ke pasar mata uang kripto. Bukan cuma bitcoin, sejumlah aset digital lainnya juga ikut tertekan harganya.

Pada perdagangan Jumat, 19 Juni 2026, harga bitcoin sempat anjlok hampir 5 persen dalam satu hari. Angkanya mencapai sekitar US$ 62.601 atau setara dengan Rp 1,11 miliar jika menggunakan kurs Rp 17.826 per dolar AS. Namun, tak berselang lama, harga kembali bangkit ke level US$ 63.628. Artinya, dalam 24 jam terakhir, bitcoin menguat sekitar 1,65 persen.

Data dari CoinGlass menunjukkan, total likuidasi di pasar kripto pada hari yang sama sempat menyentuh angka US$ 579,43 juta. Dari jumlah itu, posisi long mendominasi dengan nilai likuidasi sekitar US$ 496,62 juta. Sementara itu, posisi short tercatat US$ 82,81 juta.

Lebih dari 139.000 trader terkena dampak dalam periode tersebut, menurut catatan Tokocrypto. Bitcoin menjadi aset dengan nilai likuidasi paling besar, yaitu sekitar US$ 191,49 juta. Ethereum menyusul di posisi kedua dengan likuidasi sekitar US$ 135,46 juta.

Aset kripto lain seperti HYPE, XRP, SOL, dan ADA juga ikut tertekan. Kondisi ini, menurut Tokocrypto, menunjukkan investor sedang berhati-hati terhadap aset berisiko saat ketegangan geopolitik kembali memanas.

Fyqieh Fachrur, analis dari Tokocrypto, mengatakan tekanan jual tidak hanya datang dari sentimen makro. Ia menilai, posisi leverage yang terlalu padat di pasar derivatif juga memperparah keadaan.

"Saat konflik geopolitik meningkat, investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk kripto. Dalam kondisi seperti ini, posisi leverage yang menumpuk bisa mempercepat penurunan harga karena likuidasi berantai memicu tekanan jual tambahan," ujar Fyqieh dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 21 Juni 2026.

Ia menambahkan, area US$ 60.000 kini menjadi level psikologis penting bagi bitcoin. Selama harga bisa bertahan di atas level itu, peluang untuk konsolidasi masih terbuka.

Tapi, jika tekanan jual terus berlanjut dan bitcoin gagal bertahan di atas US$ 60.000, pasar berisiko memasuki fase koreksi yang lebih dalam. Hal ini terjadi karena ketegangan di Timur Tengah membuat volatilitas pasar meningkat.

Dari sisi teknikal, bitcoin saat ini berada di zona krusial antara US$ 64.000 hingga US$ 66.000. Jika berhasil menembus kembali zona tersebut, peluang pemulihan menuju area resistensi US$ 74.000 hingga US$ 76.000 bisa terbuka.

Sebaliknya, jika harga ditolak di area ini, bitcoin berpotensi bergerak terbatas di rentang US$ 60.000 hingga US$ 65.000. Meski begitu, beberapa indikator menunjukkan upaya pembentukan dasar harga di sekitar US$ 60.000.

Likuiditas beli di order book spot mulai meningkat. Ini menandakan sebagian pelaku pasar bersiap menyerap tekanan jual di level bawah.

Namun, Fyqieh mengingatkan investor untuk tetap disiplin dalam mengelola risiko. Pasar masih sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan arus likuidasi.

"Volatilitas dalam beberapa hari ke depan kemungkinan masih tinggi. Investor sebaiknya tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya karena harga terlihat murah. Manajemen risiko, penggunaan leverage yang konservatif, dan pemantauan level support utama menjadi sangat penting dalam kondisi pasar seperti saat ini," jelasnya.

Singkatnya, ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengingatkan bahwa pasar kripto tidak kebal terhadap peristiwa global. Reaksi investor yang cenderung menghindari risiko membuat harga bergerak liar, dan posisi leverage yang menumpuk bisa mempercepat jatuhnya harga. Untuk saat ini, level US$ 60.000 menjadi garis pertahanan utama yang menentukan arah bitcoin selanjutnya.

geopolitikIsraelLebanonbitcoinkriptolikuidasitekanan

Komentar

Memuat komentar...