Blokade Hormuz Mengancam Pasokan Energi dan Pangan Teluk
Gambar atau konten salah?
Di Jakarta, kapal tanker minyak dan gas alam cair (LNG) yang melintasi Selat Hormuz mengangkut sekitar 20% pasokan energi dunia. Bagi negara-negara Teluk, jalur ini bukan sekadar rute energi melainkan jalur hidup bagi lebih dari 100 juta orang.
Seiring konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang menghambat jalur vital tersebut, pasokan pangan ke kawasan juga ikut tertekan. Perang dimulai pada 28 Februari 2026 dan terus memengaruhi arus laut.
Menahan diri di iklim ekstrem kawasan ini bukan hal mudah. Suhu musim panas bisa menembus 50 derajat Celsius dan minimnya lahan yang bisa ditanami membuat sebagian besar air minum negara-negara Teluk berasal dari laut melalui fasilitas desalinasi.
Lebih dari 80% kebutuhan pangan Arab Saudi, sekitar 90% di Uni Emirat Arab, dan 98% di Qatar harus diimpor. Irak, meski memiliki dua sungai besar, tetap mengandalkan impor pangan yang sebagian besar masuk melalui Selat Hormuz.
Mayoritas pengiriman makanan ke kawasan ini melewati selat tersebut yang kini praktis terhambat akibat serangan terhadap kapal-kapal komersial di wilayah itu. Dengan jalur laut yang tertutup, perusahaan pengiriman makanan kini berusaha mencari rute alternatif.
Namun rute ini lebih mahal, penuh kendala logistik, dan tidak mampu sepenuhnya menggantikan arus pasokan yang hilang. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga serta mengurangi pilihan bagi konsumen.
Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan bahwa rantai pasok global berisiko mengalami gangguan paling parah sejak pandemi Covid‑19 dan pecahnya perang besar di Ukraina pada 2022.
Wakil Direktur Eksekutif WFP, Carl Skau, mengatakan biaya pengiriman telah melonjak tajam. Pelaku ritel menyebut, meskipun belum ada ancaman kelaparan dalam waktu dekat di kawasan Teluk, konflik ini telah mengacaukan jalur distribusi laut.
Perusahaan ritel makanan segar berbasis UEA, Kibsons International, yang mengimpor sekitar 50.000 ton makanan per tahun dari negara seperti Afrika Selatan dan Australia, kini fokus mengalihkan rute pengiriman.
Direktur pengadaan Kibsons, Daniel Cabral, mengatakan "rantai pasok saat ini berada dalam kondisi sangat menantang." Menurut UK Maritime Trade Operations (UKMTO), hampir dua lusin kapal telah diserang di kawasan tersebut sejak perang dimulai, termasuk kapal kargo di lepas pantai Oman.
Situasi ini membuat perusahaan pelayaran enggan mengambil risiko melintasi Selat Hormuz. Banyak kapal yang sudah terlanjur berada di laut, dan Kibsons memiliki banyak kontainer berisi makanan, sebagian besar produk segar, yang kini tertahan di kapal di luar selat tanpa kepastian waktu tiba maupun pelabuhan tujuan.
Dengan rute alternatif yang lebih mahal dan tidak dapat menggantikan arus pasokan, harga pangan di kawasan Teluk diprediksi akan naik. Konsumen akan menghadapi pilihan terbatas, sementara perusahaan harus menyesuaikan strategi logistiknya.
Secara keseluruhan, blokade Selat Hormuz menandai titik kritis bagi pasokan energi dan pangan global. Dampaknya terasa di seluruh rantai pasok, menambah tekanan pada ekonomi dan ketahanan pangan wilayah Teluk.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BGN Digeledah, Pimpinan Baru Fokus Perbaikan Tata Kelola
AS Pasang Tarif 10‑12,5% ke Barang Indonesia dan 59 Negara
Grab Tegaskan Tidak Keluar Indonesia, Tetap Komitmen Lanjut
SKK Migas Catat 1,500 BOPD Saat Ini, Target 20,000 BOPD
Produksi Minyak Nasional 576k BOPD, Masih Di Bawah Target
BBM Subsidi Tetap Stabil, Harga Tidak Naik Meski Minyak Naik
Berita Terbaru
Empat Anakan Harimau Sumatra Lahir di Taman Safari Prigen
Operasi Patuh 2026: 14 Hari Tepatkan Lalu Lintas Nasional
Vlahovic Bebas: Arsenal Tertarik, Juventus Tak Berikan Kontrak
Fabiola Elizabeth Tersangka Penipuan Online Internasional
Pedagang Valas Kaki Lima di Jalan Kwitang Terima Dolar Rusak
Kebakaran 4 Ha di Bangka Barat Padam dalam 1 Jam pada 3 Juni
Khutbah Jumat Akhir Tahun: Refleksi dan Muhasabah 1447 H
