BMKG Bantah Klaim Gempa Dahsyat Sesar Kendeng di Bojonegoro

Surya B. · 3 min baca · 5 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
BMKG Bantah Klaim Gempa Dahsyat Sesar Kendeng di Bojonegoro

Gambar atau konten salah?

Sebuah unggahan di media sosial baru-baru ini membuat warga Bojonegoro dan sekitarnya merasa cemas. Akun Threads @hsuliz2021 menyebarkan narasi tentang Sesar Kendeng yang disebut-sebut bisa memicu gempa darat dahsyat hingga Magnitudo 7. Ditambah lagi dengan ancaman tanah amblas, informasi ini langsung menyebar luas dan menjadi perbincangan hangat di kalangan warganet.

Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro segera angkat bicara. Mereka menegaskan bahwa potensi gempa memang ada, tetapi tidak ada satu pun teknologi di dunia yang bisa memprediksi kapan tepatnya gempa akan terjadi. Klaim soal waktu gempa yang beredar di media sosial itu tidak benar.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso, S.Tr, memberikan penjelasan langsung. Menurutnya, BMKG tidak pernah mengeluarkan prediksi gempa bumi. Lembaga ini hanya menyampaikan potensi berdasarkan kajian ilmiah dari para ahli. "Yang kami lakukan adalah mensosialisasikan potensi berdasarkan kajian para ahli Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN 2024) dan monitoring aktivitas kegempaan dengan jaringan seismograph kami yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia," kata Ricko saat dikonfirmasi pada 19 Juni 2024.

Sesar Kendeng sendiri merupakan bagian dari sistem yang disebut Java Back-arc Thrust (JBT). Berdasarkan pemantauan terbaru BMKG, aktivitas sesar ini masih dalam kondisi normal. Tidak ada lonjakan aktivitas seismik yang terdeteksi di sepanjang jalur tersebut. "Kami terus memonitor, hingga saat ini masih dalam kondisi normal dan tidak ada lonjakan aktivitas seismik di Java Back-arc Thrust (JBT)," ungkap Ricko.

Meski begitu, BMKG mengakui bahwa Sesar Kendeng adalah sesar aktif. Catatan sejarah menunjukkan bahwa sesar ini pernah memicu gempa merusak. Panjangnya mencapai sekitar 300 kilometer, membentang dari Salatiga hingga Surabaya. Namun, pergerakannya tergolong lambat—hanya sekitar 5 milimeter per tahun. Periode ulang gempa dari sesar ini juga cukup panjang. "Karena itu, gempa besar merusak atau destructive earthquake akibat sesar ini sebagian besar tercatat dalam sejarah masa lalu," terang Ricko.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemantauan BMKG memang mendeteksi adanya aktivitas seismik. Gempa-gempa dangkal berskala kecil hingga menengah dengan Magnitudo 4 sampai 5 tercatat di sepanjang jalur sesar ini. Tapi angka ini bukanlah prediksi. Ricko menekankan bahwa masyarakat yang tinggal di sekitar jalur sesar tidak perlu panik. Yang lebih penting adalah meningkatkan kesiapsiagaan. "Yang penting adalah meningkatkan kesiapsiagaan individu dengan melatih diri, apa yang harus dilakukan sebelum, sesaat dan setelah kejadian gempa bumi dan tsunami bila dikeluarkan peringatan dini tsunami oleh BMKG," papar Ricko.

Ia juga menambahkan bahwa BMKG berusaha memberi informasi kurang dari tiga menit setelah kejadian gempa. Tujuannya untuk meminimalisir dampak ikutan seperti tsunami, longsor, dan lainnya.

BPBD Bojonegoro juga angkat bicara. Kepala BPBD Bojonegoro, Heru Wicaksi, membenarkan bahwa wilayah Bojonegoro memang memiliki potensi kegempaan. Hal ini karena daerah tersebut berada di zona RMKS (Rembang-Madura-Kangean-Sakala). "Berdasarkan kajian Pusgen, wilayah Bojonegoro memang memiliki potensi kegempaan akibat keberadaan Sesar Bojonegoro yang merupakan bagian dari zona RMKS (Rembang-Madura-Kangean-Sakala)," tutur Heru.

Tapi Heru juga menekankan bahwa pergerakan patahan di wilayah ini berjalan sangat lambat—sekitar 1 milimeter per tahun. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kejadian gempa di Bojonegoro tergolong jarang. Karena itu, BPBD menilai narasi tentang ancaman tanah amblas secara tiba-tiba yang beredar di media sosial terlalu berlebihan.

BMKG dan BPBD Bojonegoro meminta masyarakat untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum punya dasar ilmiah. Warga diminta mengutamakan informasi dari lembaga resmi. "Masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya terkait info prediksi gempa. Karena hingga saat ini gempa masih belum bisa diprediksi oleh para ahli maupun negara manapun secara tepat kalau gempa buminya belum terjadi," jelas Ricko.

Heru dari BPBD Bojonegoro juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang. "Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, mengacu pada informasi dari sumber resmi, serta tidak menyebarkan informasi yang dapat menimbulkan keresahan," pungkasnya.

Intinya, isu Sesar Kendeng ini bukanlah hal baru. Para ahli sudah lama mempelajari sesar ini dan memantaunya secara berkala. Yang menjadi masalah adalah ketika informasi tentang potensi gempa disebarkan tanpa konteks yang benar—seolah-olah gempa akan terjadi dalam waktu dekat. Padahal, tidak ada yang tahu kapan gempa akan terjadi. Yang bisa dilakukan hanyalah bersiap.

Sesar KendengGempaBojonegoroBMKGBPBDPrediksiKesiapsiagaan

Komentar

Memuat komentar...