Gempa 6,7 Guncang Sigi, Warga Kembali Mengungsi

Dani L. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Gempa 6,7 Guncang Sigi, Warga Kembali Mengungsi

Gambar atau konten salah?

Bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Palu, Sulawesi Tengah, pada Selasa, 16 September 2025, kembali memukul warga yang sebelumnya sudah menjadi korban gempa dahsyat delapan tahun lalu. Sejumlah warga di Kabupaten Sigi terpaksa kembali mengungsi karena rumah mereka mengalami kerusakan yang lebih parah dari sebelumnya.

Lindo, seorang warga yang kini tinggal di pengungsian Desa Kamarora B, Kabupaten Sigi, menceritakan pengalamannya saat ditemui pada Jumat, 19 Juni 2026. Ia mengatakan bahwa rumahnya sudah mengalami retak dan terbelah saat gempa 2018 silam, namun kerusakan saat itu tidak separah yang terjadi sekarang. "Waktu gempa 2018 lalu, rumah juga rusak, ada retak dan terbelah, tapi tidak separah sekarang," ujarnya.

Menurut Lindo, setelah gempa 2018, dirinya sudah beberapa kali didata oleh aparat desa dan petugas terkait. Namun, hingga kini ia tidak pernah menerima bantuan rehabilitasi rumah. "Tidak ada sama sekali bantuan rumah. Kami sudah dimintakan KTP dan KK," jelasnya. Lindo mengaku tidak tahu mengapa namanya tidak masuk dalam daftar penerima bantuan saat itu. Akibatnya, ia terpaksa memperbaiki rumahnya secara mandiri dengan biaya sendiri.

Ia berharap, setelah gempa tahun ini, dirinya bisa mendapatkan bantuan. Terlebih, rumahnya kini mengalami kerusakan yang cukup parah dan sudah tidak layak huni. "Kami ini orang tidak tahu apa-apa. Tidak tahu (tidak paham) bantuan-bantuan seperti itu. Semoga dapat tahun ini bantuannya," katanya dengan nada pasrah.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh warga lain bernama Afrina. Ia mengaku rumahnya juga mengalami kerusakan akibat gempa 2018, tepatnya di bagian dapur. Namun, hingga saat ini ia belum pernah menerima bantuan rehabilitasi. "Waktu 2018 ada bagian rumah rusak pada bagian dapur, tapi memang tidak ada kita dapat bantuan," ujarnya.

Afrina mengatakan, gempa yang kembali terjadi tahun ini membuat kondisi rumahnya semakin rusak parah. Ia berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada warga yang belum pernah menerima bantuan sejak bencana sebelumnya. "Ini sudah dua kali gempa dan tidak pernah dapat bantuan. Untuk sekarang juga belum tahu bagaimana nanti. Syukur ada yang datang melihat dan meliput supaya kondisi kami diketahui," ujarnya.

Selain bantuan perbaikan rumah, Afrina juga menyampaikan bahwa warga masih sangat membutuhkan bantuan kebutuhan dasar di lokasi pengungsian. "Kami butuh tenda. Kalau hujan tempat pengungsian becek, terpaksa tidur di tempat yang basah," katanya.

Sementara itu, warga lainnya, Juanda, mengatakan bantuan yang diterima warga sejauh ini baru berupa tenda darurat. Namun, jumlahnya dinilai masih belum mencukupi kebutuhan para korban gempa. "Tadi ada bantuan tenda dan sudah kami pasang. Tapi kami masih sangat membutuhkan tenda tambahan karena masih banyak barang yang berhasil diselamatkan dari rumah rusak dan tidak ada tempat menyimpannya," kata Juanda.

Berdasarkan data kaji cepat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sigi hingga Kamis, 19 Juni 2026, tercatat sedikitnya 3.141 jiwa terdampak dan 676 rumah mengalami kerusakan akibat gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Sigi dan Palu.

Kondisi ini menunjukkan bahwa masih banyak warga yang belum mendapatkan perhatian penuh dari program rehabilitasi pascagempa, meskipun sudah dua kali mengalami bencana serupa dalam kurun waktu delapan tahun. Bantuan yang ada saat ini masih terbatas pada kebutuhan darurat, sementara perbaikan rumah secara permanen masih menjadi harapan yang belum terwujud bagi banyak korban.

gempa Palurehabilitasi rumahbantuan darurattendapengungsianSulawesi Tengahkorban gempa

Komentar

Memuat komentar...