Exxon & Chevron Laba Turun 45% 36% Ke Konflik Timur Tengah

Wahyu T. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 52 dibaca
Bisik.id
Exxon & Chevron Laba Turun 45% 36% Ke Konflik Timur Tengah

Gambar atau konten salah?

Perang antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak dan menutup Selat Hormuz. Dampaknya terasa pada dua perusahaan migas terbesar di dunia, Exxon Mobil dan Chevron, yang melaporkan penurunan laba pada kuartal pertama tahun 2026.

Menurut laporan kinerja yang dirilis pada 30 April 2026, Exxon Mobil mencatat laba bersih sebesar US$ 85,14 miliar atau Rp 1 475,98 triliun. Angka ini turun 45 % dibandingkan periode yang sama pada 2025. Meski demikian, hasil tersebut masih mengungguli perkiraan pasar sebesar US$ 82,18 miliar atau Rp 1 424,67 triliun.

Di sisi lain, Chevron melaporkan laba bersih US$ 48,61 miliar atau Rp 842,7 triliun pada kuartal pertama, menurun 36 % dari kuartal yang sama tahun lalu. Nilai ini juga berada di bawah estimasi Wall Street, yang menilai US$ 52,1 miliar atau Rp 903,2 triliun.

CEO Exxon Mobil, Darren Woods, menjelaskan bahwa konflik di Timur Tengah mengganggu sekitar 15 % produksi perusahaan. Ia menambahkan bahwa perang tersebut memengaruhi proses pengiriman dan rantai pasok minyak.

Woods mengungkapkan bahwa aliran minyak memerlukan waktu dua bulan untuk kembali normal setelah Selat Hormuz dibuka kembali. Sementara itu, minyak yang dikirim dari kawasan tersebut memerlukan satu bulan lagi agar sampai ke pelanggan.

“Exxon mengalihkan sekitar 13 juta barel ke pasar yang paling membutuhkannya selama perang. Namun, tindakan ini berdampak negatif secara akuntansi terhadap pendapatan Exxon pada kuartal pertama,” kata Woods.

CEO Chevron, Mike Wirth, menyatakan bahwa perusahaan tidak terlalu terpengaruh oleh perang dibandingkan dengan pesaingnya. Ia menyoroti bahwa lini operasi di Arab Saudi, Kuwait, dan Israel relatif kecil dibandingkan dengan operasi di Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia, dan Afrika.

“Dampak yang kami rasakan dari peristiwa di Timur Tengah terhadap perusahaan kami relatif lebih kecil dibandingkan perusahaan lain,” ujar Wirth.

Peristiwa ini menegaskan betapa rentannya industri migas terhadap ketegangan geopolitik. Penurunan laba Exxon Mobil dan Chevron menunjukkan bahwa harga minyak yang melonjak tidak selalu menguntungkan bagi produsen, terutama ketika pasokan dan distribusi terganggu. Perusahaan harus menyesuaikan strategi distribusi dan memantau kondisi pasar global agar tetap kompetitif.

Perang Amerika Serikat IranSelat HormuzHarga minyakExxon MobilChevronLaba turunKetegangan geopolitik

Komentar

Memuat komentar...