Garam Tradisional Desa Les Dukung Pemasaran Baru Astra

Lina F. · 1 min baca · 1 jam lalu · 23 dibaca
Bisik.id
Garam Tradisional Desa Les Dukung Pemasaran Baru Astra

Gambar atau konten salah?

Buleleng, Bali, masih menyimpan tradisi pembuatan garam yang telah berlangsung lama. Salah satu contoh nyata terletak di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Ladang garam di desa ini tersebar di sepanjang pantai, memanfaatkan air laut murni dan sinar matahari terik untuk proses penguapan.

Proses pembuatan dimulai dengan menyiapkan petak‑petak tanah, lalu menuangkan air laut secara merata. Setelah itu, air yang tersisa dipindahkan ke wadah berbentuk kerucut atau kukusan. Kukusan ini diletakkan di atas batang kelapa yang dibentuk menyerupai palung atau perahu, sehingga menghasilkan istilah garam palungan.

Selanjutnya, air yang telah disaring dijemur di bawah matahari hingga kristal garam terbentuk. Proses produksi sangat mengandalkan cahaya matahari. Sekali panen bisa menghasilkan kurang lebih 25 kilogram, ujar Penggerak atau Local Champion Desa Sejahtera Astra Les, Nyoman Nadiana, di Desa Les, Buleleng, Jumat (5 Juni 2026).

Untuk memasarkan hasilnya, petani mengandalkan BUMDes Les. Garam yang dihasilkan diserahkan ke koperasi, lalu diproses menjadi kemasan menarik. BUMDes bertindak sebagai penghubung antara petani dan konsumen, memperluas jangkauan pasar.

Nyoman Nadiana, yang biasa dipanggil Don Dare, menegaskan bahwa kehadiran Astra lewat program Desa Sejahtera Astra membuka peluang baru. Astra membantu membuka jalan untuk pemasaran garam Desa Les, dan diharapkan ke depannya bisa semakin meningkat, tutur pria tersebut.

Dengan dukungan inisiatif seperti ini, garam tradisional tetap relevan di pasar modern. Kegiatan ini tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memberi peluang ekonomi bagi komunitas lokal.

garam tradisionalDesa LesBUMDes LesAstrapasar moderncahaya mataharikristal garam

Komentar

Memuat komentar...