GEM Group Turunkan Biaya Produksi Nickel untuk Baterai

Fandi R. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 48 dibaca
Bisik.id
GEM Group Turunkan Biaya Produksi Nickel untuk Baterai

Gambar atau konten salah?

Industri nikel di Indonesia sedang bertransformasi. Kebutuhan global akan baterai kendaraan listrik membuat banyak perusahaan beralih dari produksi stainless steel ke bahan baku baterai yang lebih bernilai tambah.

Walaupun Indonesia memiliki cadangan nikel yang besar, pemanfaatannya masih terfokus pada produk stainless steel dan ekspor bahan mentah. Namun, permintaan kendaraan listrik menuntut pergeseran arah industri. Salah satu pelaku yang menonjol adalah GEM Group (GEM Co., Ltd.) melalui anak usahanya, PT QMB New Energy Materials.

Di Morowali, perusahaan-perusahaan mulai menguji teknologi hidrometalurgi antara 2015‑2017 dengan investasi ratusan juta dolar AS. Hasilnya belum menguntungkan, dan tantangan biaya tinggi masih ada di tingkat global.

GEM mengklaim dapat menekan investasi dan biaya produksi. Menurutnya, investasi per 10.000 ton nikel bisa ditekan hingga di bawah USD 200 juta, sedangkan biaya produksi di bawah USD 10 000 per ton. Teknologi yang digunakan memungkinkan pemulihan logam bernilai seperti nikel, kobalt, dan mangan.

Metode utama yang dipakai adalah High Pressure Acid Leach (HPAL), yang memungkinkan ekstraksi logam dalam satu proses. Prof. Xu Kai Hua, Chairman and Founder GEM Group, berkata: “Dulu bijih laterit kadar rendah di Indonesia banyak yang tidak dimanfaatkan. Sekarang kami bisa mengolahnya, sekaligus memulihkan nikel dan kobalt dengan tingkat recovery lebih dari 90%.”

Pengembangan ini disertai pembangunan fasilitas terintegrasi, mulai dari pengolahan bijih hingga produksi nikel sulfat dan prekursor baterai. Produk ini menjadi bagian penting dalam rantai pasok kendaraan listrik global.

Di kawasan industri tersebut, nilai ekspor mencapai sekitar USD 2,5 miliar pada periode 2024‑2025. Kontribusi pajak mencapai USD 400 juta dan lebih dari 10 000 tenaga kerja diserap.

GEM juga memperkuat riset dengan membangun fasilitas riset bersama di Institut Teknologi Bandung. Investasi sekitar USD 30 juta menampung lebih dari 300 perangkat untuk penelitian metalurgi hingga material baterai. Fasilitas ini diharapkan memperkuat keterkaitan antara riset dan industri, serta mendorong pengembangan teknologi pengolahan nikel di dalam negeri.

Dalam jangka panjang, penguatan teknologi dan SDM dianggap penting untuk mengurangi ketergantungan pada pihak luar dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai global. Dengan langkah-langkah ini, industri nikel Indonesia berpotensi menjadi pemain kunci dalam pasar kendaraan listrik yang terus tumbuh.

nikelkendaraan listrikGEM GroupHigh Pressure Acid LeachbateraiMorowaliteknologi hidrometalurgi

Komentar

Memuat komentar...