Harga Aluminium Naik 19% 2026, Dampak Otomotif & Kaleng Bir
Gambar atau konten salah?
Harga aluminium terus melonjak akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan ini menekan biaya produksi di berbagai sektor manufaktur, mulai dari mobil hingga kaleng bir.
Menurut data London Metal Exchange (LME), harga aluminium sudah naik lebih dari 13% sejak serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Secara keseluruhan, komoditas ini telah mengalami kenaikan sekitar 19% sepanjang tahun 2026 dan mencapai level tertinggi sejak 2022.
Analisis Bob Brackett dari Bernstein menunjukkan bahwa penutupan Selat Hormuz, jalur utama pengiriman aluminium dari Timur Tengah, menjadi pemicu utama. Sekitar 7% aluminium dunia berasal dari wilayah tersebut, sehingga gangguan di sini memengaruhi pasokan global.
Produksi aluminium memerlukan energi dalam jumlah besar, sehingga harganya sangat terkait dengan biaya gas alam dan batu bara. Kenaikan biaya bahan bakar akibat konflik memberi tekanan tambahan pada harga aluminium.
Brackett menulis dalam memo: “Harga aluminium naik seiring dengan biaya input. Ada risiko kenaikan harga yang berdampak positif pada aluminium, bukan hanya karena terganggunya rantai pasokan, tetapi juga karena terganggunya sumber energi.”
Di sektor otomotif, Sherry House, Kepala Bagian Keuangan Ford, mengungkapkan bahwa perang AS‑Iran membuat prospek keterjangkauan aluminium bagi truk pikap F‑150 menjadi tidak pasti. Ford memperkirakan kenaikan harga komoditas dapat menimbulkan hambatan biaya lebih dari US$ 2 miliar, dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya.
House menambahkan: “Terkait baja dan aluminium, bahkan sebelum situasi di Timur Tengah dimulai, kita sudah melihat kekurangan di industri global.”
Perusahaan minuman kaleng, termasuk Molson Coors, juga merasakan dampak. Kenaikan harga aluminium yang disuplai ke wilayah Midwest AS menambah sekitar US$ 30 juta pada biaya pokok penjualan di kuartal pertama dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun perusahaan induk Coors Light dan Miller Lite telah menggunakan kaleng aluminium daur ulang selama lebih dari enam dekade, mereka memperkirakan inflasi lebih lanjut untuk komoditas tersebut di kuartal ini.
Secara keseluruhan, kenaikan harga aluminium tidak hanya memengaruhi sektor otomotif dan minuman kaleng, tetapi juga menandai ketidakpastian pasokan dan biaya energi di pasar global.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Prabowo Tegaskan MBG: Tetap Utuh, Tanpa Korupsi, Porsi Aman
Kenaikan Harga Minyakita Tertinggi Disepakati, Waktu Belum
PHK Januari–Mei 2026 Turun ke 23.470, Proyeksi CORE Naik
MBG Teriak Korupsi: BGN Diputar, Prabowo Tetap Optimis
Sekolah Jember Siapkan Lapangan Sepak Bola Internasional
BKN Tegaskan Poster CPNS 2026 Hoaks, Cek Sumber Resmi
Berita Terbaru
Ekshibisi AI Kembali Jadi Cabang OSN 2026, Siap Menguji Siswa
Puspresnas Ungkap Foto Soal OSN 2026, Ponsel Diizinkan
IHSG Turun 3,48% di Sesi I, Saham Bank Jatuh Signifikan
Gempa 4,8 M di Manokwari, Papua Barat, Dirasakan MMI II‑III
Prabowo Tegaskan MBG: Tetap Utuh, Tanpa Korupsi, Porsi Aman
Kenaikan Harga Minyakita Tertinggi Disepakati, Waktu Belum
