Harga Minyak Naik, Tekstil Lokal Tertekan, Bahan Baku Naik

Teguh A. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 75 dibaca
Bisik.id
Harga Minyak Naik, Tekstil Lokal Tertekan, Bahan Baku Naik

Gambar atau konten salah?

Harga minyak dunia melonjak ke sekitar US$ 110 per barel akibat konflik di Timur Tengah. Lonjakan ini menekan harga bahan baku tekstil, khususnya paraxylene, bahan utama polyester. US$ 1.300 per ton kini menjadi harga pasar, naik sekitar 40% dibanding dua minggu lalu. Meskipun kenaikan ini belum sepenuhnya dirasakan di industri hilir, efek domino akan terasa secara bertahap hingga tiga minggu ke depan.

Redma Gita Wirawasta, Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), menjelaskan bagaimana kenaikan harga akan tersebar. “Dalam 1 minggu ke depan, kenaikan harga ini akan terdistribusi ke produsen kain dan 2 minggu berikutnya akan terdistribusi ke sektor pakaian jadi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa sektor ritel juga akan menyesuaikan harga. “…kenaikan harga barang jadi ritel bisa sampai dengan 10%.”

Redma menilai permintaan pasar masih stabil, bahkan cenderung meningkat. Kenaikan harga bahan baku impor membuat produk lokal menjadi lebih mahal, namun masih ada ruang bagi konsumen. Ia menegaskan bahwa bahan baku polyester dan rayon yang diproduksi di dalam negeri masih tersedia, hanya harganya yang tinggi.

Walaupun begitu, tingkat utilisasi nasional produsen polyester masih di bawah 40% dan produsen rayon sekitar 70%. Redma mengungkapkan bahwa produsen hanya melayani konsumen langganan. “Belum bisa jalan full karena yang sudah berhenti tidak mau jalan lagi selama pemerintah membiarkan praktik unfair terus terjadi di pasar domestik. Jadi saat ini para produsen yang masih jalan hanya melayani konsumen loyal saja, mereka yang biasa menggunakan bahan baku impor tidak diprioritaskan.”

Di sisi lain, Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Rayon Tekstil (KAHMI Tekstil) menilai penutupan puluhan pabrik dalam tiga tahun terakhir menandakan deindustrialisasi. Direktur Eksekutif KAHMI Tekstil, Agus Riyanto, mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS). “Dalam 5 tahun terakhir berdasarkan catatan BPS secara agregat kenaikan impor produk benang mencapai 84% dan kain 50%.” Ia menilai banjir impor menjadi penyebab utama deindustrialisasi di sektor ini.

Agus menyoroti bahwa program substitusi impor yang digembar-gemborkan telah gagal total. “Pasar kita dikuasai barang impor, mafianya main mata dengan regulator, bukan rahasia lagi.” Ia menilai pemerintah memprioritaskan bahan baku impor dan menutup mata terhadap produsen lokal yang gulung tikar. “Kan jadi pertanyaan mendasar mengapa jumlah impor produknya terus meningkat tapi pabrik lokal tutup satu-persatu. Maka wajar jika publik menduga adanya keterlibatan beberapa oknum pejabat pemerintah yang menjaga kepentingan kelompok importir.

Agus juga menyesalkan sikap kementerian teknis yang menutupi kegagalan di sektor tersebut. “Visi industri kita tidak ada, kita menyaksikan bahwa kegagalan industri ini bukan hanya terjadi di sektor TPT saja, meski Kemenperin meng-klaim keberhasilan pertumbuhan industri manufaktur, namun angka kontribusi ekonominya tahun masih sekitar 18%, jauh dari target Presiden Prabowo 20,8%.

Dengan data yang ada, terlihat bahwa impor produk tekstil meningkat secara signifikan, sementara kapasitas produksi lokal tidak mampu menyaingi. Kenaikan harga bahan baku, distribusi kenaikan harga ke ritel, dan ketidakseimbangan pasar menambah tekanan pada industri hilir. Pemerintah, yang masih mengandalkan impor, tampak tidak memberikan dukungan yang memadai bagi produsen lokal. Akibatnya, banyak pabrik yang menutup, menurunkan utilisasi kapasitas, dan memperlemah posisi industri tekstil Indonesia di pasar domestik.

Secara keseluruhan, fakta menunjukkan bahwa industri tekstil menghadapi tantangan struktural. Kenaikan harga bahan baku, ketergantungan pada impor, dan kurangnya dukungan pemerintah menciptakan kondisi di mana produsen lokal kesulitan bersaing. Jika tidak ada perubahan kebijakan dan dukungan yang lebih kuat, tren deindustrialisasi kemungkinan akan berlanjut, mengancam keberlanjutan sektor tekstil nasional.

Minyak duniaParaxylenePolyesterRayonImporDeindustrialisasiTekstil Indonesia

Komentar

Memuat komentar...