Harga Plastik Melonjak 40% Karena Konflik Timur Tengah

Guntur P. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 49 dibaca
Bisik.id
Harga Plastik Melonjak 40% Karena Konflik Timur Tengah

Gambar atau konten salah?

Perang di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda henti, dan dampaknya menular ke hampir semua sektor, termasuk produksi plastik. Para pakar memperingatkan konsumen akan kenaikan harga barang berbahan plastik akibat konflik dengan Iran.

Produk plastik mayoritas dibuat dari minyak bumi, yang harganya melonjak lebih dari 40% sejak awal perang. Patrick Penfield, profesor rantai pasokan di Universitas Syracuse, menyebut barang-barang seperti alat makan sekali pakai, minuman kemasan, dan kantong sampah sebagai beberapa yang pertama yang akan kena harga dalam beberapa minggu ke depan.

"Biaya pengemasan lebih tinggi dapat mengerek harga makanan dalam dua hingga empat bulan ke depan," tegas Penfield.

Di industri otomotif, plastik hanyalah salah satu komponen di antara banyak bahan baku. Karena harga plastik sering dikunci dalam kontrak tetap, kenaikan harga mungkin memakan waktu kurang dari setahun sebelum tercermin pada produk akhir.

Di balik kenaikan ini, terletak lonjakan harga minyak dan gas alam, yang dipicu oleh ancaman Iran terhadap pelayaran di Selat Hormuz. Selat ini berperan penting dalam rantai pasokan energi dan petrokimia global, menyuplai sekitar seperlima minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Lebih dari 99% plastik global berasal dari bahan bakar fosil. Center for International Environmental Law menegaskan bahwa harga energi yang lebih tinggi tidak hanya menaikkan biaya manufaktur, tapi juga biaya material itu sendiri, termasuk polietilena (PE) dan polipropilena, dua jenis plastik paling banyak digunakan.

Wilayah Timur Tengah adalah pemasok utama bahan baku plastik, menyumbang sekitar seperempat ekspor global PE dan PP, menurut data S&P Global Energy. 84% kapasitas PE di kawasan tersebut bergantung pada Selat Hormuz untuk ekspor laut.

Harrison Jacoby, direktur polietilena di Independent Commodity Intelligence Services, mengutip CNN: "Sekitar 84% kapasitas PE Timur Tengah bergantung pada selat tersebut untuk ekspor jalur laut."

Menurut Plastics Exchange, harga resin plastik bahkan telah melonjak hingga dua digit di sebagian besar kategori manufaktur dalam 30 hari terakhir. “Selama 25 tahun saya (berada di industri plastik), saya belum pernah melihat kenaikan (bulanan) PE sebesar ini,” ungkap Michael Greenberg, CEO Plastics Exchange.

Plastik menempel kuat di berbagai industri, mulai dari pengemasan, konstruksi, hingga manufaktur mobil dan perawatan kesehatan. Beralih ke alternatif kertas atau kaca seringkali memakan biaya besar dan waktu. Karena itu, dalam jangka pendek, bahan pengganti plastik masih terbatas.

Produk yang sebagian besar bahannya terbuat dari plastik, seperti kantong sampah, kemungkinan akan mengalami kenaikan harga lebih tajam dibanding barang yang lebih kompleks seperti mobil, di mana plastik hanyalah salah satu dari banyak komponen.

Jika harga minyak tetap tinggi selama tiga atau empat bulan, konsumen dapat menunggu kenaikan harga yang berpotensi berlangsung satu atau dua tahun ke depan. “Bahkan jika perang berakhir besok, masih perlu waktu cukup lama sebelum rantai pasokan kembali normal dengan sendirinya,” ujar Greenberg.

Perubahan ini menandai bahwa harga barang plastik tidak hanya dipengaruhi oleh fluktuasi pasar, tetapi juga oleh dinamika geopolitik. Konsumen yang bergantung pada produk plastik harus siap menghadapi biaya lebih tinggi, sementara produsen harus menyesuaikan strategi pasokan mereka dalam menghadapi ketidakpastian yang terus berlanjut.

Perang Timur Tengahharga plastikminyak bumiSelat HormuzPEPPrangkaian pasokan energigeopolitik

Komentar

Memuat komentar...