Hipertensi Muncul di Usia Muda: Stres Modern Penyebab Utama
Gambar atau konten salah?
Hingga beberapa dekade lalu, tekanan darah tinggi biasanya dianggap sebagai masalah yang hanya muncul pada orang tua. Namun kini, dokter melaporkan kasus stroke pada pasien yang jauh lebih muda. Kondisi ini menandai pergeseran pola kesehatan yang dipicu oleh gaya hidup modern.
Gaya hidup yang menuntut jam kerja panjang, penggunaan media sosial hingga larut malam, pola makan tidak seimbang, dan ketidakmampuan melepaskan diri secara mental setelah bekerja telah menciptakan sistem saraf yang hampir terus aktif. Tubuh menanggapi kondisi ini dengan melepaskan hormon stres berulang kali. Akumulasi hormon tersebut dapat memicu peradangan dan menurunkan fleksibilitas pembuluh darah, sehingga tekanan darah sulit kembali ke tingkat istirahat normal.
“Tekanan darah telah sampai pada titik di mana stres telah begitu terintegrasi ke dalam kehidupan kita, sehingga kita hampir tak menyadari efek mendalam yang ditimbulkannya pada tubuh kita,” kata Konsultan Psikiater Dewasa dan Seksolog Dr Mouryadeep Ghatak. Ia menekankan bahwa stres telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari‑hari.
Kurang tidur menjadi salah satu jantungnya. Tidur penting bagi jantung dan pembuluh darah untuk pulih dari beban aktivitas siang hari. “Biasanya, seseorang mengalami penurunan tekanan darah saat tidur ketika jantung bisa beristirahat,” tambah Dr Ghatak. Namun stres kronis mengganggu periode pemulihan tersebut. Paparan ponsel di malam hari menurunkan produksi melatonin, hormon yang memberi sinyal otak untuk bersiap tidur. Akibatnya, banyak orang tetap stres sebelum tidur, sehingga tidur menjadi singkat, tidak nyenyak, atau bahkan insomnia.
“Jika kurang tidur menjadi kebiasaan bagi seseorang, kadar hormon stresnya akan tetap tinggi, yang mengakibatkan penyempitan pembuluh darah secara terus menerus, dan ketidakmampuan untuk menurunkan tekanan darah di malam hari,” jelas Dr Ghatak. Hasilnya, risiko hipertensi meningkat.
Stres juga memengaruhi perilaku. Orang yang terus berada di bawah tekanan cenderung lebih jarang berolahraga, lebih sering mengonsumsi makanan olahan, lebih banyak merokok, sering minum alkohol, atau kurang aktif secara fisik. Kebiasaan ini menambah beban pada sistem kardiovaskular.
Hipertensi seringkali bersembunyi, sehingga orang tidak menyadari dampaknya pada jantung, ginjal, pembuluh darah, dan otak. “Orang yang mengalami stres bahkan tidak menyadari bahwa faktor ini memengaruhi jantung, ginjal, pembuluh darah, dan otak mereka sampai kerusakan mulai menimbulkan gejala fisik,” ujar Dr Ghatak. Data dari CDC menunjukkan bahwa tekanan darah tinggi sering tidak menimbulkan gejala jelas, sehingga banyak orang baru menyadari kondisi ini setelah komplikasi muncul.
Menurut statistik, satu dari lima remaja sudah mengalami hipertensi. Angka ini menegaskan bahwa masalah ini tidak hanya terjadi pada usia tua, melainkan sudah mempengaruhi generasi muda. Kesadaran tentang hubungan antara stres, kebiasaan hidup, dan tekanan darah tinggi menjadi kunci untuk mencegah komplikasi serius di masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bloom Putih Anggur: Lapisan Lilin Alami, Bukan Jamur
Rasa Terbakar Dada: Penyebab Utama dan Tanda Peringatan
Minum 3‑4 Cangkir Kopi Bisa Perlambat Penuaan 5 Tahun
Trump Lakukan Tiga Pemeriksaan Medis di Walter Reed
Air Kelapa 15 Hari: Hidrasi, Pencernaan, Berat Badan
Gejala Kulit Leukemia: Memar, Benjolan, Infeksi, dan Lainnya
Berita Terbaru
SPMB Jateng 2026: Pendaftaran Murid Baru Buka Resmi
Rakhmad Basuki: Dari Larangan Orang Tua Jadi Pelatih Pro
Tahu: Protein Nabati, Rasa Martabak, Bola, Gejrot Tradisional
SIM Digital Korlantas: Praktis, Aman, dan Dinamis Baru
Kobra Jawa Didampingi Relawan Dilepas dari Rumah di Klaten
Mourinho Setuju Kembali ke Real Madrid jika Perez Terpilih
IHSG menutup di zona negatif, turun 4,11%; global merosot
