Honda Rugi 2,6 Miliar Dollar, EV Berhenti di Tahun 2026
Gambar atau konten salah?
Honda, produsen kendaraan asal Jepang, mencatat kerugian tahunan untuk pertama kalinya sejak debutnya di bursa pada 1957. Kerugian ini muncul setelah perusahaan menanggung beban besar akibat strategi kendaraan listrik (EV) yang kini mulai ditarik mundur.
Menurut laporan yang dirilis pada 15 Mei 2026, Honda melaporkan rugi operasional sebesar 414,3 miliar yen atau US$ 2,6 miliar, setara dengan sekitar Rp 46 triliun, pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026. Sebelumnya, pada tahun fiskal sebelumnya, perusahaan masih mencatat laba sebesar 1,2 triliun yen.
Kerugian besar ini dipicu oleh biaya restrukturisasi bisnis mobil listrik yang mencapai lebih dari US$ 9 miliar. Permintaan kendaraan listrik juga tidak sekuat yang diperkirakan perusahaan. Honda mengakui bahwa total kerugian terkait EV bisa mencapai 2,5 triliun yen dalam dua tahun.
Perubahan kebijakan di Amerika Serikat turut menambah tekanan, termasuk penghapusan insentif pajak bagi konsumen AS yang membeli kendaraan listrik dan penerapan tarif. Imbas tekanan tersebut, Honda memutuskan membatalkan sejumlah target ambisius kendaraan listriknya.
CEO Honda, Toshihiro Mibe, mengatakan perusahaan mencabut target agar EV menyumbang 20% penjualan mobil baru pada 2030, sekaligus membatalkan rencana seluruh penjualan mobil Honda menjadi EV atau fuel‑cell pada 2040. Honda juga menghentikan sementara proyek besar senilai US$ 11 miliar di Kanada yang sebelumnya dirancang untuk memproduksi mobil listrik dan baterai. Beberapa model EV yang direncanakan untuk pasar Amerika Utara ikut dibatalkan.
Mibe mengakui kondisi bisnis otomotif Honda sedang berada dalam tekanan besar. “Kami di manajemen menanggapi kerugian ini dengan sangat serius. Kami harus menghentikan kerugian ini dengan secepat mungkin” katanya.
“Ini adalah tonggak suram bagi Honda, tetapi bukan hal yang mengejutkan,” kata Danni Hewson, kepala analisis keuangan di AJ Bell, mengutip dari BBC.
Meski bisnis mobil terpukul, Honda masih didukung oleh penjualan sepeda motor yang kuat, terutama di India dan Brasil. Honda bahkan menargetkan penjualan motor mencapai rekor baru 22,8 juta unit tahun ini.
Ke depan, Honda akan mengalihkan fokus ke mobil hybrid sambil tetap melanjutkan pengembangan teknologi EV secara lebih fleksibel. Perusahaan optimistis bisa kembali mencetak laba pada tahun fiskal berikutnya lewat efisiensi biaya dan kekuatan bisnis motor.
Perubahan strategi ini menandai langkah penting bagi Honda dalam menghadapi dinamika pasar kendaraan listrik dan kebijakan pemerintah. Dengan menyesuaikan target dan memanfaatkan keunggulan motor, perusahaan berharap dapat menstabilkan kinerja keuangan di masa mendatang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
KAI-INKA Merger Selesai Tahun Ini, Menjadi Holding Subholding
Trump Menandatangani Perintah Pemutusan Pegawai Tinggi
Moody's Atur Peringkat Baa2 Negatif untuk Danantara Investasi
PPh Final 0,5% Permanen, PT Non‑Perorangan Dikeluarkan
KAI Butuh Rp1,2 Triliun & 8.000 Petugas Perlintasan Sebidang
BGN Digeledah, Pimpinan Baru Fokus Perbaikan Tata Kelola
Berita Terbaru
Damri: Rute Bus Palembang–Lampung, Harga Rp 200–228 Ribu
Raffi Ahmad Operasi Benjolan Bahu Setelah Haji, Tertutup
Kementerian Agama Tetapkan 16 Juni 2026 sebagai Puasa 1 Muharram
Bom Incendiary Ditemukan dan Dimusnahkan di Sungai Ariyau, Jayapura
Peternak Sapi Perah Dusun Brau Siap Hadapi Musim Kemarau
Prabowo Luncurkan Program Makan Bergizi Gratis di Sentul
Indonesia Open 2026: 16 Besar di Istora Senayan, Menang
Prabowo Buka Penerbangan Bandara Bandung & Yogyakarta
Messi Terima Penghargaan Putri Asturias di Kansas City
Garuda Muda vs Timor Leste: Piala AFF 2026 di Sumut
