IHSG Nyaris Stagnan, Saham Energi Melonjak
Gambar atau konten salah?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup nyaris tak bergerak pada perdagangan Selasa, 14 Juli 2024. Indeks hanya naik tipis 0,03% ke level 6.039,52. Kenaikan ini ditopang oleh beberapa saham yang melesat tajam. BRMS naik 8,49%, BREN menguat 4,64%, dan ENRG melonjak hingga 16,33%.
Namun, di sisi lain, saham-saham perbankan besar justru menjadi beban. BBRI turun 2,44%, BBCA melemah 1,61%, dan BMRI terkoreksi 2,12%. Investor asing masih mencatatkan penjualan bersih. Di pasar reguler, nilai jual bersih asing mencapai Rp885,58 miliar. Angka itu membengkak menjadi Rp830,60 miliar jika seluruh pasar dihitung.
Dari total 11 sektor, hanya satu sektor yang melemah. Sektor keuangan menjadi yang terburuk dengan penurunan 1,67%. Sebaliknya, sektor energi menjadi primadona. Sektor ini mencatat kenaikan tertinggi sebesar 1,51%. Sepuluh sektor lainnya ditutup di zona hijau.
Dari luar negeri, bursa Amerika Serikat memberikan sentimen positif. Dow Jones naik tipis 0,02%. S&P 500 menguat 0,38%. Nasdaq mencatat kenaikan paling tinggi, yakni 0,90%. Pelaku pasar di dalam negeri juga mencermati kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI). BEI kini menggunakan indikator baru bernama Price Impact Ratio (PIR) untuk menentukan saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC).
ETF EIDO tercatat menguat 0,75%. Sementara itu, MSCI Indonesia justru melemah 0,71%. Dengan diterapkannya indikator PIR, jumlah emiten yang masuk daftar HSC bertambah drastis. Sebelumnya hanya 15 perusahaan, kini menjadi 52 perusahaan. PIR sendiri dihitung dengan membandingkan persentase perubahan harga saham dengan velocity, yaitu rata-rata volume transaksi terhadap jumlah saham yang beredar di publik. Semakin tinggi nilai PIR, semakin sensitif harga saham terhadap transaksi dengan volume kecil. Ini berkaitan erat dengan likuiditas dan konsentrasi kepemilikan saham.
Beralih ke berita emiten. PT Citra Nusantara Gemilang Tbk (CGAS) punya rencana besar. Perusahaan menargetkan kapasitas jaringan stasiun compressed natural gas (CNG) meningkat menjadi 13,70 MMSCFD pada 2027. Saat ini, kapasitasnya baru 12,70 MMSCFD. Tambahan kapasitas sebesar 1 MMSCFD akan berasal dari CNG Station Simpang Y di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatra Selatan. Stasiun ini dijadwalkan mulai beroperasi secara komersial pada kuartal I 2027.
Pasokan gas untuk stasiun tersebut akan didatangkan dari Sumsel Energi Gemilang. Target volume penjualannya mencapai 5 juta Sm³ per tahun. Direktur Utama CGAS, Andika Purwonugroho, menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas ini adalah bagian dari strategi perusahaan. Tujuannya untuk memperluas jaringan distribusi gas bumi, khususnya di wilayah Sumatra bagian selatan. Langkah ini juga untuk meningkatkan kapasitas distribusi dan memperluas jangkauan layanan.
Berita lain datang dari PT Berlina Tbk (BRNA). Perusahaan berencana melakukan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD III). Dalam aksi korporasi ini, BRNA akan menerbitkan maksimal 543,95 juta saham baru. Jumlah itu setara dengan 55,56% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Harga penawaran saham baru ditetapkan sebesar Rp685 per saham. Rasionya adalah 9:5, artinya setiap pemegang 9 saham lama berhak membeli 5 saham baru.
Pemegang saham pengendali, Dwi Satrya Utama (DSU), akan mengkonversi utang menjadi saham. Nilai konversi maksimal mencapai Rp264,38 miliar. Konversi ini dilakukan tanpa penyetoran dana tunai. DSU juga akan bertindak sebagai pembeli siaga. Artinya, DSU akan membeli saham yang tidak diambil oleh pemegang HMETD lainnya.
Selain saham baru, BRNA juga akan menerbitkan Waran Seri I. Jumlahnya maksimal 181,32 juta waran, diberikan secara cuma-cuma. Rasionya 3:1. Harga pelaksanaan waran ditetapkan sebesar Rp800 per saham. Seluruh dana yang diperoleh, baik dari penyetoran tunai maupun pelaksanaan waran, akan digunakan sebagai modal kerja perusahaan.
Berdasarkan proforma per 31 Maret, konversi utang ini diproyeksikan memperbaiki kondisi keuangan perusahaan. Total liabilitas diperkirakan turun dari Rp1,24 triliun menjadi Rp1,03 triliun. Total ekuitas meningkat dari Rp1,02 triliun menjadi Rp1,39 triliun. Rasio utang terhadap ekuitas (DER) juga membaik, dari 1,22 kali menjadi 0,74 kali. Rencana ini akan dibawa ke Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 5 Agustus.
Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:
- INDY - Buy 2180-2200 | Target Price 2240-2300 | Stop Loss 2080
- INCO - Buy 4890-4910 | Target Price 4950-5000 | Stop Loss 4600
- INET - Buy 214-216 | Target Price 222-230 | Stop Loss 204
- KEEN - Buy 840-850 | Target Price 865-875 | Stop Loss 810
- ASSA - Buy 605-610 | Target Price 625-630 | Stop Loss 575
Perlu diingat, segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif. Ini bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan investor.
IHSG bergerak datar di tengah tekanan jual asing yang masih deras. Sektor keuangan menjadi yang paling tertekan, sementara sektor energi justru menguat. Dua emiten, CGAS dan BRNA, memiliki agenda korporasi yang cukup signifikan. CGAS fokus pada ekspansi infrastruktur gas, sementara BRNA melakukan restrukturisasi modal melalui konversi utang dan penerbitan saham baru.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
IHSG Nyaris Stagnan, Saham Energi Melonjak
2.663 Pegawai Jabar Terlibat Judi Online, Transaksi Capai Rp14 Miliar
28 SDN di Malang Kekurangan Murid
Yamal Dapat Hadiah Ulang Tahun Impian, Bawa Spanyol ke Final Piala Dunia 2026
Sekolah Rakyat Tahap Dua Mulai Beroperasi di 20 Lokasi
Inggris vs Argentina: Semifinal Piala Dunia 2026
Alonso Mulai Bangun Fondasi Chelsea
