Indonesia Cari Pasokan Minyak AS Meski Kesepakatan Rusia

Lia N. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 67 dibaca
Bisik.id
Indonesia Cari Pasokan Minyak AS Meski Kesepakatan Rusia

Gambar atau konten salah?

Indonesia masih berusaha mendapatkan pasokan minyak dari Amerika Serikat meski sudah ada kesepakatan impor 150 juta barel minyak dari Rusia. Minyak Rusia akan dipakai untuk menutupi kebutuhan energi negara hingga akhir tahun.

Impor minyak AS menjadi bagian dari perjanjian dagang Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump di awal tahun ini. Dalam perjanjian tersebut, Indonesia berkomitmen untuk menambah pasokan minyak dari AS.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa pembelian minyak dan LPG ini ditugaskan kepada PT Pertamina (Persero). Saat ini, tim Pertamina berada di AS untuk bernegosiasi dengan sejumlah perusahaan AS yang dapat mengirimkan pasokan minyak secepat mungkin ke Indonesia.

“Kita kan juga memiliki komitmen dengan Amerika. Jadi pagi tadi saya juga rapat dengan Kementerian Luar Negeri dan juga dengan beberapa Dubes itu juga kita atas komitmen itu. Tim dari Pertamina kan juga lagi ada di Amerika sekarang,” jelas Yuliot di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat, 24 April 2026.

“Jadi perusahaan‑perusahaan mana yang bisa mensuplai kita dalam waktu cepat dan juga bagaimana pengiriman, ya kita harapkan itu berbagai sumber untuk kebutuhan crude kita dan juga untuk kebutuhan LPG dalam negeri itu bisa terpenuhi,” sambungnya menjelaskan.

Yuliot menambahkan bahwa sebelum perjanjian ART, Indonesia sudah melakukan kerja sama pembelian minyak dan LPG dengan negeri Paman Sam. Untuk LPG, total impor sekitar 7 juta ton. Dengan adanya perjanjian ini, volume impor dari AS bertambah.

“Kita sudah ada impor dari Amerika baik crude itu maupun LPG. Kalau untuk LPG, total impor kita dari sekitar 7 juta ton yang kita impor itu kan sekitar 60% itu kan sudah dari Amerika. Jadi ya kita berusaha untuk meningkatkan sebagai pemenuhan komitmen kita di ART,” kata Yuliot.

“Tetapi di dalam ininya kan kalau kita menambah itu sumbernya dari mana lagi? Untuk crude itu juga sama. Itu yang lagi didetailkan oleh teman‑teman Pertamina,” pungkasnya menjelaskan.

Indonesia akan mengimpor minyak dan gas (Migas) dari Amerika Serikat senilai US$ 15 miliar atau Rp 253,32 triliun (kurs Rp 16.888). Nilai ini merupakan bagian dari kesepakatan dagang terkait tarif resiprokal atau Agreements on Reciprocal Trade (ART).

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pernah mengatakan Indonesia mengedepankan politik bebas aktif, dengan begitu dalam urusan perekonomian Indonesia juga akan bebas aktif. Indonesia akan melakukan perdagangan dengan siapapun yang bisa diajak kerja sama, tak terkecuali Rusia.

“Yang jelas kita kedepankan politik bebas aktif. Dalam politik itu juga ada ekonomi bebas aktif. Jadi kita bisa belanja dengan siapa saja dengan negara yang sudah kita ajak kerja sama termasuk Rusia, Afrika, Nigeria,” ujar Bahlil di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis, 16 April 2026 yang lalu.

Dengan Amerika Serikat pun, Indonesia juga akan tetap menghargai kerja sama pembelian energi yang termaktub dalam perjanjian dagang Agreement on Reciprocal Trade (ART). “Dan lebih khusus yang kita hargai juga perjanjian kita dengan Amerika,” tegasnya menekankan.

Indonesia terus menjaga diversifikasi pasokan energi, menggabungkan sumber Rusia, AS, dan negara lain, sesuai kebijakan bebas aktif. Kebijakan ini memungkinkan negara tetap fleksibel dalam memilih mitra perdagangan energi, sekaligus menegaskan komitmen terhadap perjanjian dagang yang telah disepakati. Dengan demikian, kebutuhan minyak dan LPG dalam negeri dapat dipenuhi melalui kombinasi pasokan yang beragam dan terkoordinasi.

IndonesiaminyakASRusiaARTPertaminaLPGpolitik bebas aktif

Komentar

Memuat komentar...