Indonesia Impor 150 Juta Barrel Minyak Rusia, Pasokan AS
Gambar atau konten salah?
Indonesia akan mengimpor 150 juta barel minyak dari Rusia hingga akhir tahun ini. Selain itu, negara ini juga akan mengamankan pasokan minyak tambahan dari Amerika Serikat (AS). Impor minyak dari AS menjadi bagian kesepakatan dalam perjanjian dagang Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump di awal tahun ini.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa pembelian minyak dan LPG ini ditugaskan kepada PT Pertamina (Persero). Menurut Yuliot, tim Pertamina kini berada di AS untuk melakukan negosiasi bisnis dengan sejumlah perusahaan AS yang dapat mengirimkan pasokan minyaknya secepat mungkin ke Indonesia.
“Kita kan juga memiliki komitmen dengan Amerika. Jadi pagi tadi saya juga rapat dengan Kementerian Luar Negri dan juga dengan beberapa Dubes itu juga kita atas komitmen itu. Tim dari Pertamina kan juga lagi ada di Amerika sekarang,” jelas Yuliot.
“Jadi perusahaan-perusahaan mana yang bisa mensuplai kita dalam waktu cepat dan juga bagaimana pengiriman, ya kita harapkan itu berbagai sumber untuk kebutuhan crude kita dan juga untuk kebutuhan LPG dalam negeri itu bisa terpenuhi,” sambungnya menjelaskan.
Sebelum perjanjian ART, Indonesia sudah melakukan kerja sama pembelian minyak dan LPG dengan negeri Paman Sam. Untuk LPG, totalnya sekitar 7 juta ton. Dengan adanya perjanjian ini, volume impor dari AS bertambah.
“Kita sudah ada impor dari Amerika baik crude itu maupun LPG. Kalau untuk LPG, total impor kita dari sekitar 7 juta ton yang kita impor itu kan sekitar 60% itu kan sudah dari Amerika. Jadi ya kita berusaha untuk meningkatkan sebagai pemenuhan komitmen kita di ART,” kata Yuliot.
“Tetapi di dalam ininya kan kalau kita menambah itu sumbernya dari mana lagi? Untuk crude itu juga sama. Itu yang lagi didetailkan oleh teman-teman Pertamina,” pungkasnya menjelaskan.
Sebagai informasi, Indonesia akan mengimpor minyak dan gas (Migas) dari AS senilai US$ 15 miliar atau Rp 253,32 triliun (kurs Rp 16.888). Hal ini merupakan bagian dari kesepakatan dagang terkait tarif resiprokal atau Agreements on Reciprocal Trade (ART).
Dengan langkah ini, Indonesia menegaskan komitmennya untuk diversifikasi sumber energi, sekaligus memperkuat hubungan dagang dengan dua negara utama. Pertamina tetap menjadi ujung tombak dalam menegosiasikan pasokan yang dapat memenuhi kebutuhan crude dan LPG dalam negeri, sementara ART menjadi landasan bagi peningkatan volume impor yang lebih besar dan lebih stabil.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
PPh Final 0,5% Permanen, PT Non‑Perorangan Dikeluarkan
KAI Butuh Rp1,2 Triliun & 8.000 Petugas Perlintasan Sebidang
BGN Digeledah, Pimpinan Baru Fokus Perbaikan Tata Kelola
AS Pasang Tarif 10‑12,5% ke Barang Indonesia dan 59 Negara
Grab Tegaskan Tidak Keluar Indonesia, Tetap Komitmen Lanjut
SKK Migas Catat 1,500 BOPD Saat Ini, Target 20,000 BOPD
Berita Terbaru
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Jawa Tengah Hari Ini Pada
Perpres No.27 2026: Potongan Ojek Online 8% Belum Berlaku
Brasil Bayar 203 Miliar Rupiah ke Ancelotti, Piala 2026
PPh Final 0,5% Permanen, PT Non‑Perorangan Dikeluarkan
Lirik Lagu Timur: Rindu dan Harapan di Jarak Jauh Menyusuri
Gaji Ke-13 2026: Mulai Bayar ASN, TNI, Polri, Pensiunan
Bloom Putih Anggur: Lapisan Lilin Alami, Bukan Jamur
