Indonesia Siapkan DME dan CNG Ganti LPG 3kg, Kurangi Impor

Wati N. · 4 min baca · 2 bulan lalu · 111 dibaca
Bisik.id
Indonesia Siapkan DME dan CNG Ganti LPG 3kg, Kurangi Impor

Gambar atau konten salah?

Pemerintah Indonesia sedang menyiapkan pengganti LPG 3 kilogram (kg) dengan dua proyek utama. Pertama, konversi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME). Kedua, uji coba penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) dalam tabung 3 kg. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan kedua inisiatif ini bertujuan mengurangi impor LPG, yang mencapai sekitar 7 juta ton per tahun. Menurutnya, setiap tahun pemerintah harus mengeluarkan devisa sebesar Rp 130 sampai Rp 140 triliun untuk membeli LPG, dan Rp 80 sampai Rp 87 triliun merupakan subsidi yang ditanggung negara.

Bahlil menegaskan, “Devisa kita setiap tahun hanya untuk membeli LPG saja, sekitar Rp 130 sampai Rp 140 triliun. Apalagi kalau harga minyak dunia seperti sekarang, itu pasti lebih besar lagi. Dan subsidi kita, itu Rp 80 sampai Rp 87 triliun,” saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, 06 Mei 2026. Ia menyoroti beban finansial yang signifikan bagi negara, sekaligus menekankan pentingnya solusi alternatif.

Proyek DME bukanlah hal baru. Proyek ini sudah lama direncanakan namun belum terealisasi karena berbagai kendala. Kini, di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, proyek DME akan memulai fase operasional. Hal ini diakui dengan pelaksanaan groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Fase II senilai Rp 116 triliun. Di antara 13 proyek tersebut, satu proyek memfokuskan pada fasilitas produksi DME berkapasitas 1,4 juta ton per tahun di Tanjung Enim, Sumatera Selatan.

Presiden Prabowo menilai langkah ini sebagai tonggak sejarah. Ia mengatakan, “Menurut pendapat saya ini cukup bersejarah dan sangat membanggakan yaitu groundbreaking hilirisasi tahap kedua, yang mencakup 13 proyek strategis hilirisasi senilai kurang lebih Rp 116 triliun meliputi lima proyek di sektor energi, 5 proyek di sektor mineral, 3 proyek di sektor pertanian.” Ia menekankan bahwa hilirisasi merupakan jalan menuju kebangkitan bangsa, dan prosesnya tidak instan karena telah dipupuk oleh presiden-presiden sebelumnya.

Menurut laman Kementerian ESDM, DME memiliki kesamaan sifat kimia dan fisika dengan LPG. Karena kemiripan tersebut, DME dapat memanfaatkan infrastruktur LPG yang sudah ada, seperti tabung, penyimpanan, dan penanganan eksisting. Kandungan panas (calorific value) DME adalah 7.749 Kcal/Kg, sementara LPG 12.076 Kcal/Kg. Meskipun DME memiliki massa jenis lebih tinggi, perbandingan kalori antara DME dan LPG sekitar 1 berbanding 1,6. DME juga lebih ramah lingkungan, mudah terurai di udara, tidak merusak ozon, dan dapat meminimalisir emisi gas rumah kaca hingga 20%.

Selain itu, nyala api DME lebih biru dan stabil, tidak menghasilkan partikel (PM) dan NOx, serta tidak mengandung sulfur. DME adalah senyawa eter paling sederhana yang mengandung oksigen dengan rumus kimia CH3OCH3 dan berwujud gas. Proses pembakarannya berlangsung lebih cepat dibandingkan LPG, sehingga dapat meningkatkan efisiensi penggunaan energi.

Di sisi lain, CNG juga diuji coba sebagai pengganti LPG dalam tabung 3 kg. Bahlil mengaku bahwa penggunaan CNG telah dilakukan, namun hanya pada tabung 12 kg dan 20 kg, yang sudah dipakai di hotel dan restoran. Ia menjelaskan, “Tapi kan untuk CNG ini, untuk yang 12 kilogram yang 20 kilogram sudah jalan, untuk dipakai di hotel dan restoran. Dan kemudian bagus, dan itu lebih efisien. Tapi kan rakyat kan enggak mungkin kita suruh yang berat-berat itu, 20 kilogram. Nah, ini yang kita lagi godok. Dan ini sudah kita kerjakan sebenarnya sejak setahun lalu. Tapi untuk mendapatkan teknologi yang 3 kilogramnya, ini lagi kita tes. Gitu, ya.”

Bahlil menegaskan bahwa CNG akan disubsidi, mirip dengan LPG 3 kg, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto agar masyarakat mendapatkan harga terjangkau. Ia menegaskan, “Arahan Bapak Presiden, baik itu CNG maupun LPG akan selalu mengedepankan untuk membantu rakyat yang memang harus kita bantu. Dengan demikian, subsidi saya pastikan masih menjadi yang harus dilakukan untuk rakyat ya.”

Dalam kesempatan terpisah, Bahlil menyatakan harga CNG lebih murah dibandingkan LPG. Ia mengatakan, “CNG itu sudah dilakukan kajian. Harganya jauh lebih murah, kurang lebih sekitar 30% lah lebih murah.” Ia menambahkan bahwa harga CNG lebih murah karena pasokan bahan bakunya melimpah di Indonesia. Berbeda dengan LPG yang mahal karena impor, CNG tidak memerlukan ongkos transportasi besar untuk impor. Ia menjelaskan, “Kenapa dia lebih murah? Karena yang pertama gasnya itu ada di kita dan industrinya kan ada di kita, di dalam negeri. Jadi, tidak kita melakukan impor. Cost transportasinya aja udah bisa meng-cover. Dan yang kedua, dia itu berada di hampir semua wilayah yang ada sumber-sumber gasnya, jadi itu jauh lebih efisien.”

Proyek DME dan CNG ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor LPG, sekaligus menurunkan beban subsidi negara. Dengan memanfaatkan sumber daya domestik, seperti batu bara dan gas alam, pemerintah berupaya memperkuat ketahanan energi nasional. Selain itu, kedua alternatif energi ini juga menawarkan potensi pengurangan emisi, sejalan dengan target lingkungan yang lebih bersih.

Perkembangan proyek ini juga mencerminkan strategi pemerintah dalam memperkuat sektor energi melalui hilirisasi. Dengan 13 proyek hilirisasi nasional senilai Rp 116 triliun, pemerintah menegaskan komitmen pada pembangunan infrastruktur energi yang lebih mandiri. DME, dengan kemiripannya terhadap LPG, dapat diintegrasikan ke dalam sistem distribusi yang sudah ada, sementara CNG menawarkan solusi yang lebih murah dan berkelanjutan bagi konsumen. Dengan kedua inisiatif ini, Indonesia berupaya menyeimbangkan kebutuhan energi, ketersediaan sumber daya, dan keberlanjutan lingkungan dalam satu paket kebijakan.

Dimethyl Ether (DME)LPGCompressed Natural Gas (CNG)HilirisasiSubsidiEmisi Gas Rumah KacaEnergi Domestik

Komentar

Memuat komentar...