Indonesia Temukan Cadangan Gas 5 TCF Geliga‑1, Kurangi Impor

Eko P. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 69 dibaca
Bisik.id
Indonesia Temukan Cadangan Gas 5 TCF Geliga‑1, Kurangi Impor

Gambar atau konten salah?

Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, menegaskan keyakinannya bahwa Indonesia dapat menurunkan ketergantungan impor gas. Ia mengaitkan optimisme tersebut dengan temuan cadangan gas berskala raksasa, yakni 5 triliun kaki kubik (Tcf) dan 300 juta barel kondensat di sumur Geliga‑1.

Sumur Geliga‑1 berada di Blok Ganal, Kutai, lepas pantai Kalimantan Timur. Wilayah kerja ini dioperasikan oleh perusahaan migas Italia, Eni. Temuan ini menambah catatan positif eksplorasi Eni di Cekungan Kutai.

Menurut Bahlil, pada tahun 2028 produksi puncak yang dapat dicapai oleh Eni di wilayah tersebut diperkirakan mencapai 2.000 MMSCFD. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan produksi saat ini, yang berada di kisaran 600 hingga 700 MMSCFD. Jika terus ditingkatkan hingga 2030, Eni berencana mengembangkan produksinya menjadi 3.000 MMSCFD.

Ini adalah strategi untuk bagaimana gas kita, tidak kita lakukan impor dari negara manapun, kita harus memenuhi kebutuhan dalam negeri kita, dan gas ini kita akan dorong untuk industri hilirisasi,” ujar Bahlil di kantor kementerian pada Senin, 20 April 2026.

Di dalam temuan tersebut, Bahlil menambahkan bahwa ada unsur kondensat yang sangat besar. Ia optimistis bahwa temuan ini juga akan mengurangi impor minyak. “Kedua, ini akan mengurangi import crude kita dengan penambahan kondensatnya kurang lebih sekitar 90 sampai 150 ribu barel nanti pada tahun 2030,” sambungnya.

Sumur Geliga dibor hingga kedalaman sekitar 5.100 meter, dengan kedalaman air sekitar 2.000 meter. Penemuan ini memperpanjang jejak keberhasilan eksplorasi Eni di wilayah tersebut, setelah sebelumnya menemukan cadangan besar di Geng North pada 2023 dan sumur Konta‑1 pada 2025.

Hasil temuan ini menegaskan potensi signifikan sistem gas di cekungan tersebut serta stabilitas sumber daya di wilayah ini. Temuan gas di sumur Geliga terjadi setelah keputusan investasi akhir (FID) untuk sejumlah proyek gas, termasuk Gendalo dan Gandang (South Hub), serta Geng North dan Gehem (North Hub).

Untuk pengembangan, proyek North Hub akan menggunakan fasilitas terapung Floating Production Storage and Offloading (FPSO) baru. Kapasitasnya diperkirakan mencapai 1 miliar kaki kubik gas per hari (bscfd) dan 90.000 barel kondensat per hari (bpd). Proyek ini juga akan memanfaatkan fasilitas yang sudah ada, termasuk Kilang LNG Bontang.

Selain Sumur Geliga, Bahlil juga menyampaikan temuan sebelum sumur Geliga, yakni Sumur Gula. Sumur Gula menghasilkan gas sekitar 2 TCF dan 75 juta barel kondensat. Dari kedua sumur tersebut, estimasi awal kombinasi sumber daya Geliga dan Gula berpotensi menghasilkan tambahan produksi hingga 1.000 mmscfd gas dan 90.000 bpd kondensat.

Temuan gas jumbo di Blok Ganal tidak hanya meningkatkan cadangan migas nasional, tetapi juga membuka peluang percepatan pengembangan infrastruktur gas terintegrasi. Eni saat ini tengah mengevaluasi skema pengembangan yang bersinergi dengan proyek North Hub serta fasilitas eksisting seperti Kilang LNG Bontang, guna mempercepat monetisasi temuan dan mengoptimalkan nilai tambah bagi negara.

Dengan data dan rencana yang telah disampaikan, Indonesia menunjukkan langkah konkret menuju kemandirian energi. Temuan cadangan gas dan kondensat ini memberikan dasar kuat bagi kebijakan pengurangan impor dan pengembangan industri hilirisasi, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar energi regional.

Bahlil LahadaliaGas IndonesiaCadangan Gas Geliga-1EniKondensatKilang LNG BontangNorth Hub

Komentar

Memuat komentar...