Indonesia Wait and See soal Spektrum 6G

Dani L. · 2 min baca · 4 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
Indonesia Wait and See soal Spektrum 6G

Gambar atau konten salah?

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) masih dalam tahap mempelajari spektrum frekuensi mana yang paling cocok untuk jaringan 6G di Indonesia. Pemerintah belum memutuskan apa pun. Alasannya, mereka masih menunggu hasil diskusi global, terutama dari World Radiocommunication Conference (WRC) yang rencananya digelar pada akhir tahun depan.

Adis Alifiawan, Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital di Komdigi, mengatakan pihaknya tidak ingin terburu-buru. Menurut dia, menentukan waktu yang tepat dan pita frekuensi yang pas harus mempertimbangkan banyak hal. Mulai dari kesiapan ekosistem hingga bagaimana industri telekomunikasi global berkembang.

"Tentu diskusi seperti ini terus kami lakukan, baik dengan operator maupun vendor. Karena kalau bicara terlambat atau tidaknya implementasi suatu teknologi itu banyak dimensinya. Timing harus dilihat dari banyak sisi," ujar Adis di Jakarta beberapa waktu lalu.

Pemerintah saat ini terus berbicara dengan para pelaku industri. Tujuannya, memetakan arah pengembangan 6G agar tidak mengulang masalah yang pernah muncul saat mengadopsi teknologi sebelumnya.

Adis menjelaskan, setidaknya ada empat kandidat pita frekuensi yang sedang dipertimbangkan secara global untuk 6G. Keempatnya adalah 4 GHz, 6 GHz, 7 GHz, dan 15 GHz. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan sendiri. Belum ada satu pun yang bisa disebut paling ideal.

"Empat-empatnya punya plus minus. Tidak ada yang benar-benar paling ideal. Semuanya juga sudah ada pemanfaatannya sehingga tidak ada yang benar-benar kosong," katanya.

Pita frekuensi yang lebih tinggi, seperti 15 GHz, menawarkan bandwidth yang sangat besar. Ini berarti kapasitas jaringannya tinggi. Tapi konsekuensinya, jangkauan sinyalnya pendek. Sebaliknya, pita frekuensi yang lebih rendah punya cakupan lebih luas, tapi bandwidth yang tersedia lebih terbatas.

"Kalau 15 GHz bandwidth-nya besar, tetapi jangkauannya pendek. Sementara 4 GHz, 6 GHz, dan 7 GHz juga masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Jadi memang belum sampai pada tahap pengambilan keputusan," tuturnya.

Komdigi juga tidak hanya melihat aspek teknis. Mereka memperhatikan arah kebijakan negara lain. Adis menegaskan, Indonesia tidak bisa menentukan sendiri pita frekuensi untuk 6G tanpa memikirkan harmonisasi internasional. Keputusan soal spektrum akan memengaruhi ekosistem perangkat, biaya investasi, dan skala ekonomi industri telekomunikasi.

"Kita juga melihat negara lain. Indonesia tidak bisa berjalan sendiri. Keputusan yang kita ambil sangat bergantung pada perkembangan global. Kalau salah mengambil langkah, kita bisa tidak masuk ke ekosistem ekonomi yang tepat," katanya.

Saat ini, Komdigi memilih bersikap wait and see. Mereka mengikuti perkembangan pembahasan di tingkat internasional.

"Kalau dari kami memang masih wait and see. Keputusan formal mengenai spektrum 6G secara internasional baru akan dibahas dalam sidang WRC pada akhir tahun depan. Jadi diskusi-diskusi seperti ini justru penting sebagai bekal sebelum mengambil keputusan," tutur Adis.

World Radiocommunication Conference (WRC) adalah forum International Telecommunication Union (ITU) yang menetapkan aturan penggunaan spektrum frekuensi radio secara global. Hasil sidang WRC menjadi acuan bagi banyak negara, termasuk Indonesia, dalam menentukan pita frekuensi untuk teknologi komunikasi generasi berikutnya.

Indonesia belum mengambil keputusan soal spektrum 6G. Pemerintah menunggu hasil pembahasan global di WRC tahun depan. Empat pita frekuensi sedang dipertimbangkan, masing-masing dengan kelebihan dan kekurangan. Keputusan yang salah bisa membuat Indonesia tidak masuk ke ekosistem ekonomi yang tepat.

spektrum 6GfrekuensiKomdigiWRCpita frekuensiekosistemharmonisasi internasional

Komentar

Memuat komentar...