Kunang-Kunang Kian Hilang, Tanda Alam Kian Rusak

Rudi H. · 2 min baca · 3 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Kunang-Kunang Kian Hilang, Tanda Alam Kian Rusak

Gambar atau konten salah?

Pernahkah Anda memperhatikan bahwa kerlip cahaya kunang-kunang di malam hari kini semakin sulit ditemukan? Ternyata, hilangnya serangga bercahaya ini bukan sekadar peristiwa biasa. Ini adalah tanda peringatan serius tentang kondisi alam di sekitar kita.

Kesumawati Hadi, dosen dan peneliti entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, menjelaskan bahwa kunang-kunang berfungsi sebagai bioindikator alami yang sangat andal. "Kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang keberadaan atau ketidakhadirannya dapat mencerminkan kesehatan suatu ekosistem. Ketika kualitas lingkungan memburuk, populasinya akan cepat menyusut bahkan menghilang," ujarnya, seperti dikutip dari laman resmi IPB University.

Penurunan jumlah kunang-kunang bukan hanya masalah di Indonesia. Ini sudah menjadi fenomena global. Data dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan bahwa sekitar 11% hingga 20% spesies kunang-kunang di dunia saat ini terancam punah. Beberapa spesies yang hidup di kawasan mangrove Indonesia, Malaysia, dan Thailand bahkan sudah masuk dalam kategori rentan.

Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan populasi serangga malam ini terus menurun. Pertama, alih fungsi lahan. Pembangunan besar-besaran yang mengubah lahan hijau, rawa, dan persawahan menjadi permukiman, industri, serta saluran irigasi yang disemen telah menghancurkan habitat alami kunang-kunang.

Kedua, polusi cahaya. Lampu LED yang terlalu terang ternyata sangat mengganggu siklus hidup kunang-kunang. Cahaya buatan yang kuat di malam hari mengalahkan sinyal cahaya alami dari kunang-kunang betina. Akibatnya, kunang-kunang jantan kesulitan menemukan pasangan. Proses perkawinan pun gagal total.

Ketiga, bahan kimia dan perubahan iklim. Penggunaan insektisida kimia beracun secara masif, ditambah perubahan iklim global yang sering menyebabkan kekeringan panjang, mempercepat kematian populasi kunang-kunang.

Meskipun demikian, kunang-kunang sebenarnya masih bisa ditemukan hingga saat ini. Asalkan Anda berada di wilayah yang alaminya masih terjaga dan belum banyak tercemar. Serangga ini biasanya hidup di hutan bakau (mangrove), rawa, tepi sungai alami, persawahan tradisional, perkebunan organik, dan lantai hutan tropis yang lembap. Tempat-tempat itu harus jauh dari polusi cahaya kota.

Tapi jika kerusakan lingkungan dan polusi cahaya terus berlanjut tanpa kendali, generasi mendatang mungkin hanya bisa melihat kunang-kunang dari buku ensiklopedia atau video dokumenter.

Untuk mencegah kepunahan ini, masyarakat sebenarnya bisa membantu dengan tindakan sederhana dari rumah. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  • Jangan menutup seluruh halaman rumah dengan semen. Biarkan tanah tetap bisa bernapas dan menjadi ekosistem mikro bagi berbagai organisme.
  • Kurangi intensitas atau matikan lampu luar ruangan yang terlalu terang di malam hari.
  • Beralih ke pupuk organik yang lebih ramah lingkungan.
  • Jaga kebersihan sungai dan saluran air di sekitar rumah agar tetap menjadi habitat basah yang mendukung siklus hidup kunang-kunang.

Kunang-kunang bukan sekadar serangga yang indah dipandang. Kehadirannya adalah cerminan langsung dari kualitas lingkungan di sekitar kita. Semakin jarang kita melihat kunang-kunang, semakin buruk pula kondisi alam yang kita tinggali. Tindakan kecil dari setiap rumah bisa menjadi langkah awal untuk mengembalikan kerlip cahaya alami di malam hari.

kunang-kunangbioindikatorpolusi cahayahabitatkepunahanlingkunganekosistem

Komentar

Memuat komentar...