Industri Manufaktur 633 Perusahaan Investasi Rp418,6 Triliun

Fitri A. · 5 min baca · 1 bulan lalu · 47 dibaca
Bisik.id
Industri Manufaktur 633 Perusahaan Investasi Rp418,6 Triliun

Gambar atau konten salah?

Industri manufaktur Indonesia menunjukkan tren positif pada kuartal pertama tahun 2026. Menurut data Kementerian Perindustrian, 633 perusahaan industri melaporkan pembangunan fasilitas produksi baru dengan total nilai investasi mencapai Rp 418,62 triliun. Rencana penyerapan tenaga kerja dari proyek-proyek tersebut mencapai 219 684 orang.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, menegaskan bahwa industri manufaktur Indonesia tetap menunjukkan daya tahan tinggi dan kemampuan beradaptasi di tengah tekanan global. Ia berkata, “Kinerja sektor manufaktur Indonesia menunjukkan hasil yang kuat. Kontribusinya terus meningkat, penyerapan tenaga kerja bertambah, investasi semakin tumbuh, dan tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional. Ini bukti bahwa struktur industri Indonesia semakin kokoh.”

Febri menambahkan bahwa pada tahun 2025, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,30 % lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 %. Pertumbuhan ini menjadi momentum penting karena, untuk pertama kalinya dalam 14 tahun terakhir, pertumbuhan industri pengolahan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.

Kontribusi sektor industri manufaktur terhadap total PDB Indonesia menunjukkan tren meningkat sejak Triwulan II 2022 hingga Triwulan IV 2025. Pada Triwulan II 2022, kontribusi manufaktur tercatat sebesar 17,92 % dari total PDB nasional. Selama periode berikutnya, porsi manufaktur terus menguat, meski mengalami fluktuasi musiman antartriwulan.

Di tahun 2023, kontribusi manufaktur naik dari 18,26 % pada Triwulan II 2023 menjadi 19,08 % pada Triwulan IV 2023. Peningkatan ini menandakan bahwa sektor manufaktur semakin berperan sebagai penggerak utama aktivitas ekonomi nasional. Pada tahun 2024, tren penguatan berlanjut dengan kontribusi mencapai 19,13 % pada Triwulan IV 2024, lebih tinggi dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya. Bahkan pada Triwulan I 2024, kontribusi sempat menyentuh 19,28 %, yang menjadi salah satu level tertinggi selama periode pengamatan.

Selanjutnya, pada tahun 2025, kontribusi sektor manufaktur tetap terjaga pada level tinggi. Setelah berada di 18,67 % pada Triwulan II 2025, kontribusi meningkat menjadi 19,15 % pada Triwulan III 2025 dan kembali naik ke 19,20 % pada Triwulan IV 2025. Secara keseluruhan, jika dibandingkan antara Triwulan II 2022 (17,92 %) dan Triwulan IV 2025 (19,20 %), kontribusi PDB industri manufaktur meningkat sekitar 1,28 poin persentase. Hal ini menegaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, sektor manufaktur semakin memperkuat posisinya sebagai kontributor terbesar dan motor pertumbuhan ekonomi nasional.

Data Sakernas 2015 – Agustus 2025 menunjukkan tren peningkatan tenaga kerja pada industri pengolahan nonmigas secara konsisten. Jumlah tenaga kerja naik dari 15,49 juta orang pada 2015 menjadi 18,90 juta orang pada 2019. Meski sempat terdampak pandemi pada 2021 hingga turun ke 17,44 juta orang, sektor ini kembali pulih pada tahun-tahun berikutnya. Pada periode pemulihan, penyerapan tenaga kerja terus bertambah dari 18,65 juta orang pada 2022 menjadi 20,26 juta orang pada Agustus 2025, sekaligus menjadi level tertinggi selama periode pengamatan.

Secara keseluruhan, hal ini menunjukkan bahwa industri pengolahan nonmigas tetap berperan penting sebagai penyedia lapangan kerja dan memiliki ketahanan yang kuat dalam mendukung perekonomian nasional.

Menurut data SIINas per 23 April 2026, pada Triwulan I Tahun 2026 tercatat terdapat 633 perusahaan industri yang melaporkan pembangunan fasilitas produksi dan belum pernah melaporkan produksi sebelumnya. Total rencana penyerapan tenaga kerja dari pembangunan fasilitas tersebut mencapai 219 684 orang dengan total nilai investasi sebesar Rp 418,62 triliun.

Secara jumlah perusahaan, pembangunan fasilitas produksi paling banyak dilaporkan oleh subsektor Industri Pengolahan Tembakau sebanyak 72 perusahaan, diikuti Industri Minuman sebanyak 67 perusahaan, serta Industri Makanan sebanyak 60 perusahaan. Selain itu, subsektor Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia juga cukup dominan dengan 49 perusahaan yang sedang membangun fasilitas baru.

Dari sisi nilai investasi, subsektor Industri Logam Dasar menjadi kontributor terbesar dengan investasi mencapai sekitar Rp 218,04 triliun dari 24 perusahaan. Posisi berikutnya ditempati Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia sebesar Rp 81,22 triliun. Kemudian, disusul Industri Barang Galian Bukan Logam sebesar Rp 12,10 triliun. Besarnya investasi pada subsektor logam dasar menunjukkan adanya penguatan sektor hulu manufaktur yang strategis, termasuk potensi hilirisasi mineral dan pengembangan rantai pasok industri nasional.

Sementara itu, dari sisi potensi penciptaan lapangan kerja, subsektor Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki menonjol dengan rencana penyerapan 37 350 tenaga kerja, diikuti Industri Logam Dasar sebanyak 25 592 orang, serta Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia sebanyak 9 065 orang. Hal ini menunjukkan bahwa selain padat modal, beberapa subsektor juga memiliki karakter padat karya yang signifikan.

Secara umum, data Triwulan I 2026 menunjukkan aktivitas pembangunan fasilitas produksi masih kuat dan tersebar di berbagai subsektor strategis, terutama makanan‑minuman, kimia, logam dasar, serta sektor padat karya. Kondisi ini mencerminkan optimisme pelaku industri terhadap prospek permintaan domestik maupun ekspor, sekaligus menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan manufaktur nasional pada tahun 2026.

Febri menekankan bahwa peningkatan kontribusi terhadap PDB, serapan tenaga kerja, dan investasi tersebut tidak terlepas dari kebijakan Menteri Perindustrian yang pro‑industri, seperti reformasi kebijakan TKDN, penerapan kebijakan non‑tariff barrier, pembangunan kawasan industri, serta perlindungan industri nasional dari gempuran produk impor. Ia menambahkan, kebijakan yang mendukung penguatan sektor industri juga berjalan berkat arahan Prabowo Subianto serta sinergi yang erat antar kementerian dan lembaga.

Kemenperin juga menilai bahwa tingginya investasi yang masuk ke sektor manufaktur akan semakin memperkuat kapasitas produksi nasional, mendorong ekspor bernilai tambah, serta memperluas penciptaan lapangan kerja berkualitas. Saat ini, pemerintah terus mengarahkan investasi ke sektor‑sektor prioritas seperti industri makanan dan minuman, kimia, farmasi, otomotif, elektronika, tekstil, hingga industri berbasis hilirisasi sumber daya alam.

Febri menambahkan bahwa ketahanan sektor manufaktur Indonesia terlihat jelas ketika banyak negara menghadapi tekanan rantai pasok global, fluktuasi harga energi, dan tensi geopolitik. Ia berkata, “Di tengah situasi global yang tidak menentu, industri nasional tetap mampu tumbuh di atas 5 persen. Ini menunjukkan resiliensi yang sangat kuat dan daya saing industri Indonesia terus meningkat.”

Kemenperin optimistis tren positif ini akan berlanjut seiring implementasi kebijakan hilirisasi industri, substitusi impor, penguatan TKDN, transformasi industri 4.0, serta perluasan pasar ekspor nontradisional. Ia mengajak seluruh pihak melihat sektor manufaktur secara objektif berbasis data. Industri Indonesia terus bergerak menuju fase penguatan struktur ekonomi nasional.

Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa industri manufaktur Indonesia tidak hanya tumbuh, tetapi juga semakin berperan penting dalam perekonomian. Peningkatan investasi, penyerapan tenaga kerja, dan kontribusi terhadap PDB menandakan sektor ini menjadi motor utama bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Kebijakan pro‑industri dan dukungan pemerintah terus memperkuat posisi sektor ini, menjadikannya pilar penting bagi masa depan ekonomi Indonesia.

manufaktur Indonesiainvestasi triliuntenaga kerjaPDBlogam dasarkimiaindustri pengolahan nonmigas

Komentar

Memuat komentar...