Iran Tegaskan Tangkap Fasilitas Energi AS di Timur

Ayu W. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 47 dibaca
Bisik.id
Iran Tegaskan Tangkap Fasilitas Energi AS di Timur

Gambar atau konten salah?

Di Jakarta, pada 22 March 2026, Iran mengumumkan ancaman serius terhadap fasilitas energi dan air negara-negara sekutu Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah. Pernyataan ini muncul sebagai balasan atas pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang mengancam akan menyerang jaringan listrik Iran dalam 48 jam.

Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, menegaskan bahwa “Jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran diserang oleh musuh, seluruh infrastruktur energi, serta teknologi informasi... dan fasilitas desalinasi air, milik AS dan rezim di kawasan itu akan menjadi sasaran sesuai dengan peringatan sebelumnya.”

Trump mengeluarkan ancaman tersebut pada 21 March 2026, menekan Iran agar segera membuka blokade di Selat Hormuz. Ia menegaskan bahwa AS akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka dalam 48 jam.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menanggapi dengan menegaskan bahwa “Segera setelah pembangkit listrik dan infrastruktur di negara kita menjadi sasaran, infrastruktur vital serta infrastruktur energi dan minyak di seluruh kawasan akan dianggap sebagai sasaran yang sah dan akan hancur secara permanen.”

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menambahkan dalam unggahan di X: “Ilusi untuk menghapus Iran dari peta menunjukkan keputusasaan melawan kehendak bangsa yang sedang membuat sejarah. Ancaman dan teror hanya memperkuat persatuan kita.”

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa mereka akan menutup Selat Hormuz secara penuh jika Trump melaksanakan ancamannya. IRGC juga menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan dengan saham AS akan dihancurkan sepenuhnya jika Washington menargetkan fasilitas energi Iran, dan bahwa fasilitas energi di negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan AS akan menjadi target sah bagi Iran.

Pezeshkian menegaskan bahwa “jalur tersebut terbuka untuk semua kecuali mereka yang melanggar wilayah kami.”

Keputusan ini menandai eskalasi ketegangan di kawasan, di mana Iran siap membalas serangan AS, sementara AS tetap bersikeras akan menindak lanjuti ancaman mereka. Situasi ini memunculkan risiko signifikan bagi stabilitas regional, mengingat pentingnya Selat Hormuz sebagai jalur utama pengiriman minyak dunia.

Standoff ini menunjukkan betapa rapuhnya keamanan di Timur Tengah, di mana retorika militer dan ancaman strategis dapat dengan cepat meningkatkan ketegangan. Keputusan kedua belah pihak menambah kompleksitas diplomasi, menuntut perhatian internasional untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

IranSelat HormuzTrumpAmerika Serikatfasilitas energiIRGCstabilitas regional

Komentar

Memuat komentar...