Kekurangan Bahan Bakar Jet di Eropa, Asia akibat Blokade Iran

Bima J. · 2 min baca · 27 hari lalu · 38 dibaca
Bisik.id
Kekurangan Bahan Bakar Jet di Eropa, Asia akibat Blokade Iran

Gambar atau konten salah?

Jakarta, 28 Februari 2026 – Pasokan bahan bakar pesawat mulai mengancam perjalanan musim panas setelah terhenti dari Timur Tengah. Krisis ini memengaruhi Asia dan Eropa secara signifikan.

Menurut International Energy Agency (IEA), sebelum konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari 2026, ekspor dari Teluk Persia merupakan sumber terbesar pasokan bahan bakar jet ke pasar global. Namun, blokade Iran terhadap Selat Hormuz membuat ekspor bahan bakar pesawat dari kawasan tersebut terhenti.

Di Eropa, dampaknya terasa paling parah. Sebelumnya, sekitar 20 % kebutuhan bahan bakar pesawat di wilayah tersebut dipasok dari Teluk. Sumber utama lainnya berasal dari kilang di China, Korea Selatan, dan India. Kilang‑kilang ini juga sangat bergantung pada minyak mentah dari Timur Tengah. Sebelum perang, sekitar 90 % minyak dari Teluk yang melewati Selat Hormuz dikirim ke Asia.

Sejak blokade, kilang di Asia kesulitan memenuhi permintaan domestik maupun global. Ekspor global bahan bakar jet turun 30 % menjadi 1,3 juta barel per hari pada April 2026, dibandingkan 1,9 juta barel per hari pada periode yang sama tahun lalu.

Ini seperti kecelakaan mobil dalam gerakan lambat,” kata Direktur Riset Komoditas Kpler, Matt Smith, dilansir dari CNBC, Kamis (7 Mei 2026).

Volume bahan bakar jet yang dimuat ke kapal tanker pekan lalu juga anjlok 50 %, menjadi 18,6 juta barel, dibandingkan 37,8 juta barel pada periode yang sama tahun lalu.

Di Eropa, Airports Council International Europe memperingatkan bahwa Uni Eropa dapat menghadapi kekurangan sistemik bahan bakar jet jika Selat Hormuz tidak kembali dibuka.

Lonjakan harga bahan bakar pesawat juga mulai memukul maskapai. Lufthansa memangkas 20.000 penerbangan jarak pendek hingga Oktober, sebagian karena tingginya biaya bahan bakar.

Harga bahan bakar jet di Eropa telah melonjak dua kali lipat dalam setahun terakhir menjadi US$ 187 per barel pada 1 Mei 2026, menurut International Air Transport Association (IATA).

CEO Chevron, Mike Wirth, mengatakan kekurangan pasokan kemungkinan akan menjadi masalah yang semakin serius dalam beberapa pekan ke depan. “Sinyal harga di beberapa wilayah sudah sangat ekstrem dan yang benar-benar mereka khawatirkan sekarang adalah pasokan,” ujarnya.

Pasar sebelumnya masih mendapat ‘masa tenggang’ karena kapal tanker yang berangkat dari Teluk Persia sebelum perang masih sempat mengirim minyak dan produk olahan selama Maret dan April.

Untuk mengatasi kekurangan, Uni Eropa kini berupaya mencari pasokan alternatif, terutama dari Amerika Serikat. Kilang AS seperti Valero dan Marathon Petroleum meningkatkan produksi bahan bakar jet untuk memenuhi permintaan global. Ekspor AS ke Eropa melonjak lebih dari 400 % menjadi 94.000 barel per hari pada April 2026 dibandingkan Februari saat perang dimulai.

Situasi ini menyoroti ketergantungan industri penerbangan pada pasokan minyak dari wilayah tertentu. Ketidakpastian di Selat Hormuz memicu perubahan drastis dalam aliran bahan bakar, memaksa maskapai dan regulator mencari solusi alternatif sambil menyesuaikan biaya operasional.

Selat Hormuzbahan bakar jetblokade Iranpasokan minyakEropaLufthansaharga bahan bakar

Komentar

Memuat komentar...