Kemenhub Tawarkan Water Taxi, MRT Bali Masih Menunggu Investor

Vera T. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 52 dibaca
Bisik.id
Kemenhub Tawarkan Water Taxi, MRT Bali Masih Menunggu Investor

Gambar atau konten salah?

Kemenhub mengumumkan perkembangan terbaru proyek transportasi massal berbasis rel di Bali, yang dikenal sebagai MRT Bali. Proyek ini masih belum terealisasi, meski sudah ada rencana sejak beberapa tahun lalu.

Menurut Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, ia pernah menerima kabar bahwa proyek tersebut akan dilaksanakan karena ada investor yang berminat membangun jaringan perkeretaapian. Namun, ia tidak memperoleh informasi lebih lanjut tentang perkembangan proyek tersebut.

“Sebelum ini saya mendapatkan bahwa ada minat, namun sampai dengan sekarang ini belum ada investor lagi yang datang atau mau membicarakan kembali mengenai pengembangan kereta,” kata Dudy dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR RI di Jakarta Pusat pada 08 April 2026. Ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada investor yang berminat untuk melanjutkan pembangunan MRT di Bali.

Karena situasi tersebut, Dudy menyatakan bahwa pihaknya hanya dapat terus menawarkan proyek tersebut kepada pihak swasta yang berminat untuk meneruskan pembangunan MRT di Bali.

Sementara menunggu adanya perusahaan swasta atau investor, Kemenhub telah memulai proyek water taxi di kawasan Denpasar sebagai alternatif transportasi publik di Bali. Proyek ini dimaksudkan sebagai jembatan sementara hingga investor MRT atau LRT dapat terlibat.

“Jadi kami tetap berusaha untuk mencoba menawarkan kepada pihak-pihak investor yang tertarik kepada pengembangan jalur kereta baik itu MRT maupun LRT di wilayah Bali. Itu sebabnya kami datang dengan salah satu solusi alternatif water taxi untuk menjembatani antara waktu yang ada dengan investor yang akan masuk,” ujarnya.

Proyek angkutan umum massal berbasis kereta di Bali pertama kali muncul pada 2024. Pada saat itu, rencana yang diusung adalah pengembangan Light Rail Transit (LRT) yang terdiri dari empat jaringan. Pada September 2024, proyek Bali Urban Subway melakukan acara peletakan batu pertama, atau groundbreaking, yang dihadiri oleh Penjabat Gubernur Bali, Sang Made Mahendra Jaya, serta PT Sarana Bali Dwipa Jaya (SBDJ) dan PT Bumi Indah Prima (BIP).

Setelah dua tahun tanpa kabar, rencana LRT tersebut kemudian berganti menjadi MRT yang masih ditangani oleh PT Sarana Bali Dwipa Jaya (SBDJ). Direktur Utama PT SBDJ Ervan Maksum menegaskan bahwa proyek MRT Bali masih berjalan sesuai rencana, namun perusahaan masih membenahi dan mengevaluasi skema kerja sama serta aspek teknis proyek agar lebih matang.

Menurut Ervan, banyak hal yang perlu dikaji ulang agar proyek tidak sekadar bersifat seremonial. Ia menambahkan, “Lubangnya banyak lah, kami juga nggak mau cuma seremonial. Tapi justru sesuai dengan teknografis sesuai dengan aturan yang berlaku. Kemarin masih banyak miss-nya dan sudah kami rapikan.”

Ervan juga berusaha menenangkan publik. Ia mengatakan bahwa publik tidak perlu khawatir karena proyek ini akan berjalan dan terealisasi. Ia memahami adanya rasa keraguan masyarakat tentang proyek kereta cepat ini.

“Sehingga jangan sampai kayak kemarin yang kasihan publik sudah di-php. kenapa nggak jalan karena ya tadi banyak yang memang nggak kokoh secara skema, kerja sama,” jelas mantan Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bappenas itu. Ia menegaskan bahwa proyek ini tetap on the track, namun lebih prudent.

Dengan semua langkah ini, Kemenhub dan PT SBDJ tetap berusaha memastikan bahwa pembangunan MRT Bali tidak hanya menjadi simbol, melainkan menjadi solusi transportasi nyata bagi masyarakat. Sementara itu, water taxi di Denpasar berfungsi sebagai alternatif sementara, menunggu investor MRT atau LRT dapat terlibat. Proyek ini menunjukkan upaya berkelanjutan untuk meningkatkan mobilitas di Bali, meski masih menunggu dukungan finansial dan teknis yang kuat.

KemenhubMRT Baliinvestorwater taxiLRTPT Sarana Bali Dwipa Jaya

Komentar

Memuat komentar...