Kerja di Rumah 1 Hari Mingguan: Solusi Hemat BBM Indonesia
Gambar atau konten salah?
Di tengah tekanan energi yang dipicu konflik di Timur Tengah, pemerintah Indonesia sedang menimbang kebijakan work from home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pekerja swasta. Ide ini muncul sebagai upaya mengurangi konsumsi bahan bakar dan menekan emisi karbon, sekaligus menanggapi potensi krisis energi yang diprediksi akibat perang antara Amerika Serikat dan Iran.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, pernah menyatakan bahwa kebijakan WFH bisa diberlakukan pada hari Jumat setiap pekan. Menurutnya, memilih hari Jumat akan menimbulkan penghematan bahan bakar minyak (BBM). Ia tidak menjabarkan persentase penghematan tersebut, menegaskan bahwa angka tersebut akan bergantung pada pergerakan harga minyak dunia.
“Kalau kita pilih Jumat dan itu kan, Jumat, jadi pasti ada penghematan BBM. Berapa persen, saya nggak tau, bisa berubah-ubah tergantung harga minyak,” ungkap Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat, 27 Maret 2026.
Simulasi yang dilakukan oleh Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) menunjukkan bahwa satu hari WFH per minggu dapat menghemat biaya fiskal pemerintah hingga Rp 9,7 triliun per tahun. Angka ini berasal dari perhitungan kasar yang mempertimbangkan pengurangan konsumsi energi di gedung pemerintah, listrik, pendingin ruangan, operasional fasilitas, dan transportasi dinas ASN.
Namun, analis senior ISEAI, Ronny P. Sasmita, menekankan bahwa kebijakan ini tidak akan menjadi solusi instan. “Dalam konteks APBN, ini tentu bukan angka kecil, tapi juga bukan game changer. Lebih mirip 'hemat receh tapi rutin.' Dampaknya lumayan, tapi tidak menyelesaikan masalah struktural fiskal,” ujar Ronny pada Senin, 30 Maret 2026.
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menilai penghematan energi akibat WFH satu hari per minggu tidak signifikan. Menurutnya, penghematan BBM nasional mungkin hanya 0,5‑1,5% saja. “Kecil sekali 0,5-1,5% dari total konsumsi BBM, kalau WFH 1 hari dalam seminggu,” kata Bhima ketika dihubungi.
Bhima juga menyoroti potensi peningkatan penggunaan energi di rumah tangga. “Di sisi listriknya kan dari energi fosil batubara dan minyak juga yang kena fluktuasi harga. Sementara gas LPG impornya tinggi,” ujarnya.
Peneliti senior Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Muhammad Ishak Razak, berpendapat bahwa WFH tidak akan signifikan menghemat energi. Menurutnya, meski BBM bisa berkurang, jumlahnya tidak besar karena sebagian besar pekerja berada di kantor dan jumlahnya tidak banyak. “Perlu dipahami bahwa proporsi pekerja kantoran relatif kecil karena mayoritas pekerja adalah pekerja informal, perdagangan, buruh pabrik, dan ojek online. Sebagian pekerja juga menggunakan transportasi umum. Jadi, efeknya tidak akan terlalu signifikan,” jelas Ishak.
Ia menambahkan bahwa skema WFH dapat justru menambah konsumsi BBM. “Skema kerja WFH di sisi lain justru diam-diam bisa menambah konsumsi BBM lebih banyak. Ishak mencontohkan bisa saja pekerja yang WFH malah ke luar rumah ke mal, kafe, atau paling minim antar jemput anak. Semua itu dilakukan dengan menggunakan energi.”
Secara keseluruhan, kebijakan WFH satu hari per minggu diharapkan memberikan penghematan energi dan biaya fiskal, namun dampaknya masih terbatas. Penghematan BBM nasional diperkirakan hanya sedikit, sementara penggunaan energi di rumah tangga dapat meningkat. Kebijakan ini masih perlu evaluasi lebih lanjut untuk memastikan efektivitasnya dalam menanggulangi krisis energi yang lebih luas.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pajak 0% 50 Tahun untuk Investor PFII
Indonesia Kejar Rp 51.000 Triliun Dana Family Office Global
PFII Ditarget Beroperasi Tahun Ini, PP Masih Digodok
Pemerintah: Belum Ada Rencana Revisi Anggaran Pertahanan
Anggaran MBG Dipangkas, BGN Klaim Tak Lagi Rp 268 T
PHK Naik 32.389, Menkeu: Itu Siklus Wajar
