Korea Selatan Ajukan 12 Langkah Hemat Energi Krisis Pasokan

Nita W. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 56 dibaca
Bisik.id
Korea Selatan Ajukan 12 Langkah Hemat Energi Krisis Pasokan

Gambar atau konten salah?

Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, mengajak seluruh warga untuk menghemat energi di tengah gangguan pasokan minyak dan gas akibat konflik di Iran. Ia menekankan bahwa lembaga publik harus mengurangi penggunaan kendaraan dinas.

Menurut Menteri Energi Kim Sung-whan, pembatasan kendaraan di sektor swasta masih bersifat sukarela. Namun ia menegaskan bahwa batasan tersebut bisa diperketat bila status darurat energi meningkat.

Goverment Korea Selatan mengingatkan masyarakat untuk menerapkan 12 langkah penghematan energi. Langkah-langkah tersebut meliputi mandi lebih singkat, mengisi daya ponsel dan kendaraan listrik pada siang hari, serta menggunakan mesin cuci dan vacuum cleaner di akhir pekan.

Selain itu, pemerintah meminta 50 perusahaan pengguna minyak terbesar menekan konsumsi. Ia juga mendorong pengaturan jam kerja bergilir dan langkah efisiensi lainnya.

Di sektor energi, Korea Selatan akan mengaktifkan kembali lima reaktor nuklir pada Mei. Pemerintah juga akan melonggarkan pembatasan pembangkit listrik berbasis batu bara dan memperluas energi terbarukan. Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan jangka panjang pada LNG.

Operasi tiga PLTU yang dijadwalkan pensiun tahun ini dipertimbangkan untuk diperpanjang. Penyesuaian bauran energi diperkirakan dapat menghemat hingga 14.000 ton LNG, yaitu sekitar 20% dari konsumsi harian Korea Selatan yang mencapai 69.000 ton untuk pembangkit listrik.

Grup HD Hyundai telah menerapkan langkah penghematan energi di berbagai anak usaha. Langkah-langkah tersebut meliputi pembatasan kendaraan sukarela, pengurangan penggunaan plastik, serta penghematan listrik seperti mematikan lampu.

Di tengah situasi ini, Korea Selatan berencana menyusun anggaran tambahan 25 triliun won atau US$ 16,6 miliar. Paket tersebut dapat mencakup bantuan tunai bagi masyarakat dan dukungan keuangan bagi perusahaan, seiring dengan tren stimulus di berbagai negara.

Lee menegaskan bahwa saat ini yang terpenting bukan menghemat anggaran pemerintah, melainkan menyalurkan dana secara cepat dan tepat sasaran. Kementerian Keuangan menyatakan anggaran tersebut akan diajukan ke parlemen sebelum akhir Maret.

Perlu diketahui bahwa sekitar 70% kebutuhan minyak mentah Korea Selatan diimpor melalui Selat Hormuz. Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran serta aksi balasan Teheran mengganggu pasar energi global, membuat lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz hampir terhenti.

Korea Selatan memiliki cadangan minyak 190 juta barel, terdiri dari 100 juta barel milik pemerintah dan 90 juta barel milik swasta. Meskipun demikian, negara ini tetap menghadapi potensi krisis energi. Menurut International Energy Agency, cadangan tersebut bisa bertahan hingga 208 hari, namun angka ini tidak memperhitungkan penggunaan seperti ekspor petrokimia, sehingga daya tahan riilnya bisa lebih pendek.

Berdasarkan konsumsi harian sekitar 2,9 juta barel pada 2024, para analis memperkirakan cadangan tersebut bahkan mungkin tidak cukup untuk dua bulan. Pemerintah telah mengamankan komitmen pasokan 24 juta barel minyak dari Uni Emirat Arab, namun waktu pengirimannya masih belum pasti.

Dengan langkah-langkah penghematan energi dan penyesuaian bauran energi, Korea Selatan berupaya menjaga stabilitas energi di tengah ketidakpastian pasokan global. Pemerintah berharap inisiatif ini dapat mengurangi ketergantungan pada LNG dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Penghematan EnergiKonflik IranKorea SelatanLNGReaktor NuklirEnergi TerbarukanSelat HormuzCadangan Minyak

Komentar

Memuat komentar...