Pariwisata Thailand Turun 50% Pengunjung Timur Selatan

Lina F. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 56 dibaca
Bisik.id
Pariwisata Thailand Turun 50% Pengunjung Timur Selatan

Gambar atau konten salah?

Di kawasan Nana, pusat kota Bangkok, suasana pariwisata yang biasanya dipenuhi pengunjung Timur Selatan kini terasa hening. Beberapa asisten toko terlihat bersantai di depan gerai, sementara meja resepsionis hotel hampir kosong. Kondisi ini muncul setelah konflik antara AS‑Israel dan Iran pecah pada 28 Februari 2026.

Konflik tersebut langsung menekan industri pariwisata Thailand. Data Kementerian Pariwisata menunjukkan kunjungan wisatawan dari Timur Selatan menurun lebih dari 50 %, turun dari 32.831 menjadi 16.080 orang pada bulan Februari 2026. “Anjlok lebih dari 50 %” jelasnya, menegaskan dampak signifikan meski pasar tersebut bukan segmen utama.

Menurut The Straits Times pada 5 April 2026, hilangnya wisatawan dari kawasan tersebut menimbulkan efek domino. Tambahan lagi, gangguan wilayah udara di Timur Selatan membuat wisatawan Eropa harus memilih rute alternatif yang lebih mahal untuk mencapai Thailand.

Negara tetangga tidak luput. Malaysia mencatat penurunan wisatawan dari wilayah terdampak hingga 40,3 % pada Maret 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Indonesia kehilangan sekitar 60.000 wisatawan asing akibat konflik ini.

Di Bangkok, Grace Hotel—yang telah beroperasi lebih dari 60 tahun—terkena dampak paling berat. Hotel ini mengandalkan tamu dari Timur Selatan hingga 90 %, terutama dari Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar. Direktur penjualan dan pemasaran, Sararutl Laocharoen, mengungkapkan bahwa pembatalan meningkat hingga 30‑40 %. Banyak tamu menilai situasi global saat ini tidak aman untuk bepergian, termasuk mereka yang biasanya datang untuk keperluan medis.

“Biasanya tamu mengantre di resepsionis, ramai dengan keluarga dan lansia. Tapi sekarang lobi kosong, ini tidak biasa bagi kami,” ujarnya. Kerugian yang dialami hotel diperkirakan mencapai 1 juta baht. Pihak manajemen kini mencoba menarik wisatawan dari China, India, dan Eropa, meski diakui tidak mudah menggantikan pasar Timur Selatan.

Ia menambahkan, “Bahkan saat flu burung, Covid‑19, atau konflik politik dalam negeri, pasar Timur Selatan tetap stabil. Tapi kali ini dampaknya terasa langsung dari negara mereka.”

Penurunan juga dirasakan sektor kuliner. Restoran Bab Al‑Yemen, yang biasanya melayani 200‑500 pelanggan per hari, kini hanya menerima sekitar 5‑10 pengunjung. “Dulu selalu penuh, sekarang hampir kosong,” kata pengawas restoran, Salaheldin Mohammed Ibrahim Ibrahim Abdelraouf.

Untuk bertahan, restoran mengurangi pembelian bahan baku, menyederhanakan menu, dan hanya memasak sesuai permintaan. Sementara itu, gangguan juga terjadi pada sektor transportasi. Banyak penerbangan dari Timur Selatan dihentikan atau dibatasi, sehingga perjalanan internasional ke Thailand ikut terdampak.

McKinsey Thailand mencatat sekitar 4 juta penumpang rute Eropa‑Thailand biasanya transit di bandara Timur Selatan. Kini mereka harus mencari jalur alternatif. Dampaknya mulai terasa pada agen perjalanan, sebuah rombongan 120 wisatawan asal Jerman dilaporkan membatalkan rencana perjalanan golf ke Thailand pada akhir April 2026.

Secara keseluruhan, Thailand mencatat sekitar 7,5 juta kunjungan wisatawan internasional pada periode 1 Januari 2026 hingga 11 Maret 2026, turun 4,4 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan jumlah wisatawan juga terlihat di Sungai Chao Phraya. Jika sebelumnya satu perjalanan kapal bisa membawa 100‑150 penumpang, kini hanya sekitar 30‑40 orang. Operator perahu, Anan Parita, mengaku pendapatannya turun hingga 60 %. Kondisi itu diperparah oleh pasokan bahan bakar yang tidak stabil.

“Kadang ada bahan bakar, kadang tidak. Bahkan jika turis datang, kami tidak bisa beroperasi,”

Di tengah tekanan ini, pelaku industri mulai mencari strategi baru. McKinsey Thailand menilai sektor wisata kesehatan dan medis bisa menjadi peluang, mengingat Thailand saat ini melayani lebih dari 3 juta wisatawan medis setiap tahun. Sementara itu, pelaku usaha berharap situasi segera membaik sebelum musim liburan pertengahan tahun. Namun, mereka menilai dukungan pemerintah masih terbatas.

Presiden Asosiasi Hotel Thailand, Thienprasit Chaiyapatranun, mengatakan pelaku industri harus beradaptasi secara mandiri. “Saya pikir kita harus membantu diri kita sendiri,” ujarnya. Ia mendorong hotel meningkatkan efisiensi operasional, termasuk penghematan energi, sebagai langkah bertahan di tengah ketidakpastian.

Perubahan ini menandai tantangan baru bagi industri pariwisata Thailand. Dengan penurunan tajam kunjungan dari Timur Selatan dan gangguan penerbangan, banyak pelaku harus menyesuaikan model bisnis mereka. Fokus pada kesehatan dan medis, serta efisiensi operasional, menjadi strategi yang dipertimbangkan untuk mengurangi kerugian. Ketersediaan pasar baru dan adaptasi cepat akan menjadi kunci bagi sektor ini untuk pulih sebelum musim liburan berikutnya.

Pariwisata ThailandKonflik Iran-ASTurisme Timur SelatanGrace HotelEfisiensi operasionalKesehatan medisPenurunan wisatawan

Komentar

Memuat komentar...