Pencurian Sawit di Sumut Meningkat, Kerugian Capai Ratusan Juta

Fandi R. · 3 min baca · 2 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Pencurian Sawit di Sumut Meningkat, Kerugian Capai Ratusan Juta

Gambar atau konten salah?

Di Medan, para petani dan pengelola perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara menghadapi masalah yang makin serius. Pencurian tandan buah segar (TBS) sawit sudah menjadi pemandangan biasa. Yang lebih mengkhawatirkan, aksi ini sering kali dilakukan secara terorganisir dan tidak jarang berujung pada kekerasan.

Arman, seorang petani sawit berusia 54 tahun dari Kabupaten Langkat, merasakan langsung dampaknya. Setiap kali tandan buah hilang, pendapatan keluarganya langsung berkurang. “Saya menggantungkan hidup dari hasil kebun. Setiap tandan yang hilang sangat berarti karena buah itu menjadi sumber biaya sekolah anak, kebutuhan dapur, hingga modal perawatan kebun,” ujarnya.

Ia bahkan pernah mengalami kesulitan membeli pupuk karena buah sawit yang sudah siap panen lebih dulu dicuri orang. “Ketika buah yang siap panen dicuri, dampaknya langsung terasa terhadap ekonomi keluarga. Hasil panen berkurang sehingga saya kesulitan membeli pupuk,” kata Arman.

Menurut Arman, para pelaku pencurian ini diduga sudah punya jaringan. Mereka tidak bekerja sendiri. Beberapa pelaku bahkan berani mengancam pemilik kebun secara langsung.

Masalah ini tidak hanya menimpa petani kecil. Perusahaan perkebunan besar juga kena imbasnya. Kebun negara yang dikelola PTPN IV PalmCo di beberapa wilayah Sumatera Utara juga menghadapi situasi serupa. Luasnya area perkebunan dan banyaknya titik akses masuk menjadi celah yang dimanfaatkan para pencuri.

Dampaknya tidak sekadar kehilangan hasil panen. Operasional kebun jadi terganggu. Produktivitas menurun. Target perusahaan pun sulit tercapai.

Budi Susanto, Region Head PTPN IV Regional 2, mengatakan pencurian sawit sudah menjadi perhatian utama manajemen. “Setiap tandan buah yang dicuri bukan hanya mengurangi produksi perusahaan, tetapi juga berdampak terhadap efisiensi operasional dan keberlanjutan usaha,” kata Budi.

PTPN IV Regional 2 terus berusaha memperkuat sistem keamanan. Mereka memetakan wilayah-wilayah yang rawan. Patroli ditingkatkan. Teknologi juga mulai dimanfaatkan.

Budi menambahkan, dari sejumlah kasus yang sudah diungkap, para pelaku pencurian TBS bekerja secara terorganisir. Beberapa di antaranya bahkan diduga membawa senjata saat beraksi. “Kami terus memperkuat pengamanan, meningkatkan patroli, memperbaiki pengawasan di titik rawan, serta memperkuat koordinasi dengan aparat penegak hukum dan masyarakat,” ujarnya.

Data dari PTPN IV PalmCo menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Kehilangan TBS di Distrik Rayon Utara meningkat dalam tiga tahun terakhir. Wilayah ini mencakup beberapa kebun di Kabupaten Langkat.

Pada 2024, kehilangan TBS tercatat mencapai 27.405 kilogram. Nilai kerugiannya Rp84,2 juta. Angka itu melonjak tajam pada 2025 menjadi 215.509 kilogram dengan kerugian Rp620,8 juta. Untuk periode Januari hingga Mei 2026, kehilangan sudah mencapai 219.700 kilogram.

Dari informasi yang dikumpulkan, pihak perusahaan menemukan dugaan adanya kaitan antara peredaran narkoba dan meningkatnya gangguan keamanan di sekitar perkebunan. “Kami melihat ada pola yang berulang di sejumlah lokasi. Ketika peredaran narkoba meningkat, gangguan keamanan, termasuk pencurian hasil kebun, juga cenderung meningkat,” kata Budi.

“Menjaga kawasan perkebunan dari kejahatan tidak dapat dipisahkan dari upaya menciptakan lingkungan sosial yang sehat dan bebas narkotika,” ujarnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Ferry Walintukan, menyatakan pihaknya akan terus memberantas peredaran narkoba di Sumatera Utara. “Kami selalu memberantas narkoba hingga ke akarnya. Jika masyarakat menemukan adanya penyalahgunaan narkoba atau tindak kriminal, segera laporkan kepada polisi,” katanya.

Pencurian TBS sawit ini bukan sekadar masalah kehilangan buah. Ada rantai ekonomi ilegal yang terbentuk di baliknya. Narkoba diduga menjadi salah satu pemicu yang membuat aksi pencurian makin sering terjadi. Petani kecil seperti Arman jadi yang paling terpukul. Setiap tandan yang dicuri berarti biaya sekolah anak terancam, kebutuhan dapur menipis, dan modal perawatan kebun hilang.

pencurian sawittandan buah segarorganisasi kriminalkekerasannarkobakeamanan perkebunankerugian ekonomi

Komentar

Memuat komentar...