Pengusaha Kuliner Kritik Food Vlogger Minta Makan Gratis
Gambar atau konten salah?
Li Dashu membagikan sebuah unggahan anonim di Facebook pada 14 April 2024 yang segera menjadi viral. Unggahan tersebut mengekspresikan keluhan seorang pelaku usaha kuliner tentang perilaku beberapa food vlogger yang meminta makan gratis sekaligus menagih biaya pembuatan konten.
Pengusaha yang bersangkutan tidak memiliki restoran besar. Ia memulai usahanya dari nol, menekankan kualitas rasa dan loyalitas pelanggan sebagai fondasi. Ia tidak tergoda oleh promosi instan, melainkan mengandalkan reputasi jangka panjang.
Suatu hari, ia menerima tawaran dari seorang kreator konten kuliner. Kreator tersebut mengklaim dapat meningkatkan eksposur dan menarik pelanggan baru. Awalnya, tawaran itu terdengar menggiurkan bagi pemilik usaha kecil.
Namun, setelah diskusi lebih lanjut, ia menemukan kejanggalan. “Mereka makan di tempat kita, bikin video, tapi kita juga harus bayar. Saya sampai kaget,” ujarnya. Mereka makan di tempat kita, bikin video, tapi kita juga harus bayar. Saya sampai kaget, kata pemilik usaha tersebut.
Ia kemudian menanyakan tentang objektivitas ulasan. “Saya tanya, kalau makanannya tidak enak, apakah akan disampaikan jujur? Dia bilang, ‘Tenang saja, kami tidak akan bilang yang jelek’,” jelasnya. Saya tanya, kalau makanannya tidak enak, apakah akan disampaikan jujur? Dia bilang, ‘Tenang saja, kami tidak akan bilang yang jelek’, kutipnya.
Kesimpulannya, praktik tersebut lebih menyerupai iklan terselubung daripada ulasan objektif. Ia menyoroti dampak negatif bagi konsumen dan pelaku usaha, yang terjebak dalam persepsi palsu.
Menurutnya, banyak makanan biasa saja atau bahkan kurang enak namun terlihat menarik karena teknik pengambilan gambar, editing, dan narasi berlebihan seperti “wajib coba” atau “hidden gem”. Akibatnya, pelanggan datang karena penasaran, namun tidak kembali setelah mencoba.
Ia juga menyinggung sikap sebagian kreator yang semakin memiliki kuasa. Beberapa menolak datang jika tidak dibayar atau tidak disediakan makanan gratis, bahkan memberi tekanan halus jika tidak dipenuhi.
Meski begitu, ia menegaskan tidak semua kreator bersikap demikian. Ada yang tetap profesional dan jujur, bekerja sesuai standar industri. Ia mengingatkan sesama pelaku usaha agar tidak terlalu bergantung pada promosi instan.
“Kalau restoran kamu viral karena cara seperti ini, kamu harus siap juga cepat turun. Yang bikin pelanggan balik itu bukan karena review, tapi karena makanannya memang enak,” tutupnya. Kalau restoran kamu viral karena cara seperti ini, kamu harus siap juga cepat turun. Yang bikin pelanggan balik itu bukan karena review, tapi karena makanannya memang enak, tambahnya.
Peristiwa ini menyoroti pentingnya transparansi dalam kolaborasi antara pelaku usaha dan kreator konten. Konsumen harus dapat membedakan antara ulasan jujur dan iklan tersembunyi, sementara pelaku usaha perlu menjaga integritas dan kualitas produk agar tetap menarik bagi pelanggan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Dr Priya Bakal Kue Seri Muka, Gak Jelas Pandan Jadi Rumput
Turis Singapura Terkejut Tagihan 902 Ringgit Ikan Patin
Promo Makanan Nobar Piala Dunia 2026, Harga Hemat
Indomilk Gelar Roadshow Pastry Mini & Coffee Pairing
Harga Makanan Stadion Piala Dunia 2026 Menghebohkan Ratusan Ribu Rupiah
Pemerintah Tambah Perluasan Jaringan Internet di Pedesaan
Berita Terbaru
Palembang Siapkan Zona UMKM Kuliner, BRI Bantu Tenda Seragam
Bangunan Gudang Trotoar Bandung Jadi Parkir Mobil Diperbongkar
Polres Gianyar Patroli 12 Jalan, Hindari Balap Liar
Lingga Prasasti Abad ke-9 di Klaten: Palyangan Menjadi Fokus
Polres Gianyar Gelar Lomba Suara Burung Piala Kapolres 2026
Bacaan Yasin Tiga Kali 1 Muharram: Praktik dan Manfaat
Sangkala, Maros, Wafat di Makkah; Menteri Hadiri Duka
Mobil Melintasi Palang, Nyaris Menabrak Kereta di Semarang
Bus Trans Jatim rencanakan koridor baru Pasuruan, fokus industri
Folarin Balogun Cetak Brace, AS Kalahkan Paraguay 4-1
