Penutupan Selat Hormuz: Indonesia Dorong Percepatan EV
Gambar atau konten salah?
Penutupan selat Hormuz akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah menandai peringatan bagi Indonesia, yang masih sangat bergantung pada BBM impor.
Direktur Eksekutif Satya Bumi Andi Muttaqien menegaskan bahwa transisi menuju kendaraan listrik dapat menjadi strategi utama untuk mengurangi ketergantungan tersebut.
Pada 5 April 2026, Andi menulis: “Ketergantungan pada BBM impor membuat Indonesia sangat rentan terhadap krisis global seperti yang terjadi saat ini. Ini harus menjadi momentum untuk mempercepat transisi energi bersih dan elektrifikasi, khususnya di sektor transportasi,”.
Namun, percepatan transisi ke kendaraan listrik akan sulit terwujud tanpa dukungan aktif dari pelaku industri otomotif yang telah beroperasi di Indonesia selama puluhan tahun.
Andi menyebut bahwa pemerintah dan perusahaan otomotif selama ini lebih fokus pada hilirisasi di sektor hulu, terutama produksi nikel dan baterai, tanpa mempercepat elektrifikasi kendaraan di sisi hilir.
“Hingga kini, mereka belum merasakan keuntungan dari kendaraan listrik, salah satunya karena perusahaan otomotif masih pasif dalam mendistribusikan kendaraan listrik di Indonesia,” timpal Andi.
Menurutnya, akselerasi beralih ke Electric Vehicle di Indonesia harus memperhatikan perbaikan di sektor hulu. Meminjam prinsip pada dunia otomotif fast but not reckless.
Hal ini berarti percepatan produksi kendaraan listrik juga harus disertai komitmen dan upaya nyata perbaikan tata kelola sumber daya alam yang ketat agar tidak menimbulkan masalah.
Pemerintah perlu memperkuat standar lingkungan dan sosial dalam rantai pasok mineral kritis seperti nikel, termasuk perlindungan hak masyarakat adat dan komunitas lokal. Pemerintah juga perlu mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam pengembangan kawasan industri dan proyek hilirisasi.
“Selain itu, pemerintah perlu memastikan pendekatan transisi yang berkeadilan (just transition) dengan melibatkan masyarakat terdampak dalam pengambilan keputusan,” ujar Andi.
Dalam konteks penutupan selat Hormuz, Indonesia memiliki peluang untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik, namun hal itu memerlukan sinergi antara industri otomotif, pemerintah, dan masyarakat untuk memperbaiki rantai pasok dan memastikan transisi yang adil.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Fokus Hilirisasi Batu Bara, CPO, Ferroalloy untuk DHE
Banjir Akibat Curah Hujan Lebih Tinggi di Jakarta
Zuckerberg Akui Kesalahan PHK Massal Meta Akibat AI untuk Karyawan
HKI Minta Penguatan Listrik Nasional untuk Industri
Transmart Full Day Sale 14 Juni: Diskon Gila 50%+20%
PU Rilis 500 Halaman Buku “Menjawab Mandat” 600 Hari Prabowo
Berita Terbaru
Doa 1 Muharram 1448 H: Panduan Membaca Setelah Maghrib
PPG 2026: 40.902 Guru Lolos Seleksi Administrasi Di Surabaya
Australia Kalahkan Thailand, Raih Gelar Juara AFF U-19 2026
Kumpulan Doa Ketenangan Hati untuk Semua Usia Harian
Australia Juara AFF U-19 2026, Kalahkan Thailand 2-0
Tahun Baru Islam 1448 H: Harapan dan Doa Keluarga Bersama
Ronaldo Tegaskan Keyakinan Timnas Portugal 2026 Satu Piala
Sabar-Gutama & Reza Pahlevi Isfahani Raih Final Open 2026
Jadwal Puasa Muharram 2026: 1, 9, 10, 11 Muharram & Lainnya
122 Program Studi Ditutup 2026, Mahasiswa Bingung Penuh
