Pertamina Talks 2026: Fokus Risiko Geopolitik dan Energi

Dian P. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 93 dibaca
Bisik.id
Pertamina Talks 2026: Fokus Risiko Geopolitik dan Energi

Gambar atau konten salah?

PT Pertamina (Persero) menggelar acara Pertamina Talks 2026 pada Kamis, 7 Mei 2026. Talkshow interaktif ini berjudul Di Balik Layar Pertamina Menjaga Ketahanan Energi dan Bijak Berenergi dan menjadi wadah diskusi tentang bagaimana energi tetap tersedia bagi masyarakat.

Di tengah dinamika geopolitik global, rantai pasok energi mengalami penyesuaian. Harga komoditas berfluktuasi, dan sektor energi kini memasuki fase tantangan baru. Karena itu, menjaga ketersediaan energi menjadi tanggung jawab bersama. Pertamina terus berupaya agar energi tetap tersedia dengan dukungan sinergi bersama publik.

Dalam talk show yang bekerja sama dengan detikcom, Direktur Manajemen Risiko PT Pertamina, Ahmad Siddik Badruddin, menjelaskan pentingnya manajemen risiko untuk mengatasi tantangan geopolitik. Ia berkata, “Manajemen risiko berfungsi mengantisipasi krisis Timur Tengah dengan menjabarkan skenario-skenario yang dapat terjadi. Kita memastikan seluruh produk energi tetap tersalurkan di seluruh Indonesia. Kemudian, juga mengantisipasi adanya berbagai risiko.”

Siddik menambahkan bahwa dunia kini menghadapi tantangan besar akibat krisis di Timur Tengah. Ia menyebut bahwa sekitar 20-30 persen kebutuhan energi di Asia berasal dari kawasan tersebut, termasuk sebagian kebutuhan minyak mentah Indonesia. Ia menegaskan bahwa Pertamina terus memastikan seluruh produk energi tetap tersalurkan ke seluruh Indonesia sambil mengantisipasi potensi risiko lainnya.

Ia juga menyoroti bahwa tantangan semakin besar karena seluruh negara di dunia bersaing mendapatkan pasokan energi yang sebagian tertahan di Selat Hormuz. Siddik menegaskan bahwa manajemen risiko juga harus dilakukan masyarakat sebagai pengguna energi. Ia mengajak masyarakat untuk sama-sama memitigasi risiko apabila masalah di Timur Tengah tidak kunjung selesai dengan tetap bijak menggunakan energi dan tidak panik. “Pertamina dan masyarakat harus sama sama memitigasi risiko, in case masalah atau tantangan di Timur Tengah tidak kunjung selesai. Kita harus sama sama bijak dalam menggunakan energi, tidak perlu panik,” ungkapnya.

Perwira Subholding Downstream Pertamina Patra Niaga, Gigih Aji Wicaksono, turut berbagi pengalamannya di lapangan. Ia bertugas sebagai Supervisor 1 Receiving Storage and Distribution di Fuel Terminal Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku. Gigih menjelaskan dirinya berperan mengawasi datangnya Bahan Bakar Minyak (BBM) dari kapal, menjaga mutu dan kecukupan stok, serta memastikan energi tersalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Ia menyebut dirinya bersama rekan-rekan menjadi garda terdepan sebelum BBM diterima masyarakat. “Kami dan teman teman menjadi garda terdepan sebelum BBM diterima di masyarakat. Dari prosesnya, kami menerima BBM dari kapal, disimpan di storage Pertamina, dan baru didistribusikan kepada masyarakat. Dari ketiga proses tersebut, kami terus memastikan kualitas terjaga sejak diterima sampai disalurkan ke masyarakat,” ungkap Gigih.

Praktisi dan edukator otomotif, Rifat Sungkar, turut menjelaskan pentingnya gaya berkendara dalam mendukung penghematan energi. Menurutnya, teknik mengemudi kembali kepada pengguna kendaraan karena semakin besar tenaga yang dikeluarkan, semakin besar pula energi yang digunakan. “Sebetulnya teknik nyetir kendaraan balik lagi kepada user. Teorinya more power, more energy. Semakin banyak tenaga dikeluarin, pasti akan banyak energi yang dikeluarkan,” ujar Rifat.

Rifat juga menerangkan bahwa keborosan energi terjadi ketika pengendara tidak mampu mempertahankan konsistensi kecepatan kendaraan. Kondisi stop and go disebut menjadi salah satu penyebab pemborosan energi karena kendaraan membutuhkan tenaga lebih besar saat mulai bergerak kembali. Sebagai langkah untuk menghemat energi, Rifat menyarankan disiplin melakukan road ramp inspection dan journey plan sebelum berkendara. Ia menegaskan setiap kendaraan harus menggunakan pelumas sesuai petunjuk di buku manual agar membantu kendaraan bekerja lebih efisien.

Acara ini dihadiri mahasiswa dari Universitas Pertamina, Universitas Indonesia, Universitas Trisakti, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Universitas Al Azhar Indonesia, serta perwira Pertamina. Diharapkan dapat membangun pemahaman yang lebih luas mengenai pentingnya menjaga ketahanan energi dan penggunaan energi secara bijak di tengah tantangan global saat ini.

Melalui Pertamina Talks 2026, Pertamina juga mengajak generasi muda untuk ikut berkontribusi dalam mendukung keberlanjutan energi melalui langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari‑hari.

Acara ini menegaskan bahwa tantangan energi global tidak hanya memerlukan kebijakan tinggi, tetapi juga partisipasi aktif dari setiap lapisan masyarakat. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang risiko, distribusi, dan kebiasaan konsumsi, masyarakat dapat membantu menjaga ketahanan energi Indonesia.

Pertamina Talks 2026Ketahanan EnergiManajemen RisikoPasokan EnergiBBM DistribusiEnergi BijakPartisipasi Masyarakat

Komentar

Memuat komentar...