Pilar Layanan Perawatan Pesawat Pensiun di Pinal Air Park
Gambar atau konten salah?
Jakarta – Sekitar 8.000 pesawat pensiun sudah menumpuk di gurun, hutan, dan tempat penyimpanan di seluruh dunia. 11.000 pesawat lagi diperkirakan akan masuk ke sana dalam 10 tahun ke depan.
Kuburan‑kuburan ini mulai terisi penuh saat pandemi COVID‑19 melanda. Maskapai penerbangan memangkas biaya, memecat pilot, memotong rute, dan memarkir ratusan pesawat. Dalam situasi itu, banyak armada yang tidak lagi terbang disimpan di tempat‑tempat yang aman.
Menurut Aviation Circularity Consortium, ribuan pesawat yang dinonaktifkan menjadi sumber material baru sekaligus mengurangi limbah. Maskapai dapat membongkar pesawat tua dan mengambil suku cadangnya untuk mendukung perawatan armada yang lebih berkelanjutan.
Di Amerika Serikat, beberapa armada Spirit Airlines kemungkinan akan berakhir di fasilitas semacam ini untuk dikonfigurasi ulang atau dibongkar setelah maskapai menghentikan operasinya.
Salah satu kuburan pesawat adalah Pinal Air Park di Marana, Arizona, sekitar 144 km tenggara Phoenix. Iklim kering di sana cocok mencegah korosi pada pesawat.
Ketika operasi maskapai menurun pada 01 Maret 2020, ratusan pesawat dari seluruh dunia diterbangkan ke fasilitas seluas 841 hektar ini. Pinal mengambil langkah antisipatif untuk memastikan pesawat tetap siap terbang bila industri pulih.
Ascent Aviation Services (AAS) menjadi penyedia layanan perawatan di sana. Perusahaan harus menambah staf untuk menangani armada yang terus datang. Scott Butler, CCO AAS, mengatakan bahwa sejak 01 Maret 2020 ada satu pesawat datang tiap jam, memerlukan lebih dari 150 mekanik tambahan.
Area parkir tambahan dibangun untuk menampung ratusan jet dari berbagai negara: AS, Korea Selatan, Inggris, Australia, dan Kanada. Perusahaan leasing juga menambah armada setelah membeli pesawat murah yang dijual selama pandemi dan menyimpannya.
Ketika permintaan kembali melonjak dan melewati level 2019, AAS kembali fokus pada pemeliharaan, perbaikan, dan perombakan menyeluruh. Layanan dasar mencakup pemeriksaan sederhana dan perbaikan sesuai permintaan, seperti memperbaiki roda pendaratan atau memeriksa sistem penerbangan.
Pemeriksaan berat menjadi biaya terbesar bagi maskapai. Penilaian menyeluruh dapat memakan waktu hingga 60 hari untuk jet berbadan lebar. Scott Butler memberi tahu:
“Pemeriksaan pesawat berbadan sempit akan memakan biaya sekitar USD 2 juta,” katanya kepada Business Insider yang dikutip detikINET. “Untuk pesawat berbadan lebar, biayanya dengan mudah bisa mencapai USD 3 juta.”
Karena biaya tinggi, banyak maskapai memilih menjual pesawat setelah mencapai usia 6 hingga 10 tahun atau membiarkan masa sewa berakhir. Jika pemberi sewa menemukan penyewa baru, armada perlu disesuaikan.
Untuk konversi, AAS menawarkan layanan tambahan: mengecat ulang, mengganti sistem penerbangan, dan memasang kabin baru. Terkadang pesawat beralih dari penumpang menjadi kargo.
Proses pembongkaran pesawat memakan waktu berbulan‑bulan. Ratusan suku cadang dijual kembali atau diperbaiki untuk digunakan lagi. Suku cadang yang disertifikasi ulang dapat dikirim kembali ke maskapai sebagai stok komponen. Dengan cara ini, pesawat pensiun masih dapat “menghidupi” pesawat yang masih beroperasi.
Situasi ini menyoroti bagaimana industri penerbangan beradaptasi dengan perubahan drastis. Penyimpanan dan perawatan pesawat pensiun menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan armada, sekaligus memanfaatkan sumber daya yang sudah ada. Dengan pendekatan ini, maskapai dapat mengurangi limbah dan memanfaatkan kembali komponen yang masih layak, menambah nilai ekonomi dan lingkungan di masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
