PMI Manufaktur Turun 50,1, Dampak Konflik Timur Tengah

Kartika D. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 93 dibaca
Bisik.id
PMI Manufaktur Turun 50,1, Dampak Konflik Timur Tengah

Gambar atau konten salah?

Di Jakarta, kinerja sektor manufaktur Indonesia mulai merasakan dampak perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis oleh S&P Global menurun menjadi 50,1 pada Maret 2026, turun dari 53,8 pada bulan sebelumnya. Angka ini menjadi yang terendah sejak Juli 2025 atau delapan bulan terakhir.

Usamah Bhatti, ekonom dari S&P Global Market Intelligence, menyatakan bahwa penurunan tersebut dipicu oleh melemahnya permintaan dan gangguan pasokan bahan baku. Sebagian besar gangguan ini disebabkan oleh konflik di Timur Tengah. Survei menunjukkan volume output dan pesanan baru kembali mengalami kontraksi setelah sempat tumbuh.

“Menurut laporan anggota panel, salah satu faktor utama di balik penurunan pada akhir triwulan pertama adalah pecahnya perang di Timur Tengah,” kata Bhatti dalam keterangan tertulis, Rabu (1 April 2026). Ia menambahkan bahwa permintaan ekspor baru juga menurun setelah naik pada Februari 2026, memperburuk kinerja sektor manufaktur secara keseluruhan.

Penurunan permintaan berdampak langsung pada aktivitas produksi dan tenaga kerja. Perusahaan mulai mengurangi pembelian untuk pertama kalinya sejak Juli 2025 dan menekan jumlah tenaga kerja, meski dalam skala terbatas. “Bukti menunjukkan bahwa kenaikan harga material dan kelangkaan pasokan menjadi faktor utama di balik penurunan tersebut,” tuturnya.

Dari sisi harga, tekanan inflasi semakin meningkat. Harga input naik ke level tertinggi sejak Maret 2024, sementara harga output mencatat kenaikan tercepat sejak Juni 2022. Kenaikan ini didorong oleh kelangkaan material dan keterlambatan pengiriman, yang bahkan menjadi paling terparah sejak Oktober 2021.

Meski demikian, pelaku industri masih menyimpan optimisme terhadap prospek ke depan. Keyakinan bahwa permintaan akan pulih serta harapan tidak adanya eskalasi konflik lebih lanjut menjadi faktor penopang sentimen bisnis. Namun, tingkat optimisme masih berada di bawah rata-rata jangka panjang.

Data bulan Maret 2026 menyoroti kerentanan sektor manufaktur Indonesia terhadap perang, khususnya dari sisi harga dan pasokan,” pungkas Bhatti. Ia menekankan bahwa ketidakpastian geopolitik masih menjadi risiko utama bagi industri.

Para pemangku kepentingan di sektor manufaktur kini harus menyesuaikan strategi untuk mengatasi gangguan pasokan. Diversifikasi sumber bahan baku dan peningkatan cadangan material menjadi langkah penting yang sedang dipertimbangkan.

Selain itu, perusahaan perlu memperkuat hubungan dengan pemasok lokal untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasokan internasional yang rentan terhadap konflik. Kebijakan pemerintah juga diharapkan dapat memberikan dukungan, misalnya melalui insentif bagi industri yang berinvestasi dalam infrastruktur logistik.

Secara keseluruhan, meski sektor manufaktur Indonesia menunjukkan tanda-tanda penurunan, masih ada harapan bahwa kondisi akan membaik seiring berjalannya waktu. Pemantauan terus menerus terhadap perkembangan konflik dan kebijakan ekonomi akan menjadi kunci bagi pelaku industri dalam mengambil keputusan strategis.

Sektor manufaktur IndonesiaPerang Timur TengahPMIpasokan bahan bakuinflasikelangkaan materialketidakpastian geopolitik

Komentar

Memuat komentar...