Pohon Nunuk Berkaki Delapan di Situ Sangiang, Menjadi Ikon Alam
Gambar atau konten salah?
Di tengah hamparan hutan dan danau di Situ Sangiang, Kabupaten Majalengka, tersembunyi sebuah pohon yang tak biasa. Pohon ini dikenal sebagai Pohon Nunuk Berkaki Delapan dan telah menarik perhatian banyak orang sejak lama.
Lokasi pohon ini berada di Desa Sangiang, Kecamatan Banjaran, tepat di kawasan wisata alam Situ Sangiang. Lingkungan hutan dan danau membuat suasana terasa alami sekaligus mistis. Menurut tokoh masyarakat setempat, Diding Jaenudin, pohon ini sudah berdiri sejak ratusan tahun lalu dan masih menjadi bagian penting dari ekosistem daerah.
Menurut perkiraan, pohon ini berusia ratusan tahun. Ia termasuk salah satu pohon tua yang masih bertahan di kawasan tersebut. Usianya yang tua menjadikannya saksi sejarah alam di Situ Sangiang.
Keunikan utama pohon ini terletak pada bentuknya. Akar-akar gantung tumbuh ke bawah, menyentuh tanah, dan berkembang menjadi batang tambahan. Akibatnya, pohon ini terlihat memiliki delapan “kaki” yang menjulang ke berbagai arah sebelum menyatu menjadi satu batang utama. Bentuk ini membuat pohon tersebut terlihat misterius dan memicu banyak cerita di masyarakat.
Di kalangan masyarakat, pohon ini juga dianggap memiliki nilai mistis. Salah satu mitos yang berkembang adalah bahwa kulit pohon nunuk dipercaya memiliki khasiat tertentu, terutama dalam urusan keharmonisan rumah tangga. Beberapa pengunjung pernah mengambil kulit pohon sebagai jimat, sehingga beberapa bagian batang pohon tampak mengelupas. Untuk melindungi pohon, masyarakat setempat sudah memasang batang bambu di sekitarnya.
Walaupun banyak cerita mistis, fenomena ini dapat dijelaskan secara ilmiah. Pohon nunuk ini tumbuh sebagai epifit, artinya menumpang pada pohon lain sebelum akarnya berkembang ke tanah. Dalam beberapa kasus, bentuknya juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan atau bahkan campur tangan manusia pada masa lalu.
Hari ini, Pohon Nunuk Berkaki Delapan tetap menjadi ikon alam Majalengka. Ia menjadi daya tarik wisata yang memadukan keindahan alam dan cerita budaya lokal. Pengunjung dapat menikmati keunikan bentuknya sambil belajar tentang sejarah dan kepercayaan setempat.
Menjelang Selasa, 21 April 2026, para wisatawan dan penduduk lokal terus mengagumi pohon yang telah berdiri selama ratusan tahun. Keberadaan pohon ini tidak hanya menambah nilai estetika kawasan, tetapi juga menjadi pengingat akan hubungan manusia dengan alam yang berkelanjutan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bandara Husein Sastranegara Dipertimbangkan Rute Luar Jawa
Trans Luxury Hotel Surabaya Buka, Soft Opening Rp999.000
Jatiluwih: Turis Asia Domestik Naik, Barat Turun Pasar Konflik
Pendaki Terjatuh di Gunung Semeru, Evakuasi Sempat Lama
Allo PayLater dan Allo Prime Diskon 20% di Trans Studio
Prabowo Aktifkan Bandara Husein, Bandara Kertajati Terancam
Berita Terbaru
Paula Hurd & Bill Gates Bersinergi di Breakthrough Prize 2026
Tren Strava Fridge: Minuman di Kulkas Minimarket Jadi Viral
Trump Lakukan Tiga Pemeriksaan Medis di Walter Reed
Bandara Husein Sastranegara Dipertimbangkan Rute Luar Jawa
Martinez: Pensiun Bila Argentina Raih Gelar Dunia Kedua
UB SNBT 2026: 5.842 Lolos dari 82.613 Pilihan, Ketat
IHSG Turun 4,11% di Tengah Sesi, Rupiah Menguat
