Prabowo: Energi Nasional Terbarukan, Siap Hadapi Harga Global
Gambar atau konten salah?
Presiden Prabowo Subianto menilai konflik di Timur Tengah memberi Indonesia peluang untuk mempercepat kemandirian energi. Ia berharap negara ini dapat lebih siap menghadapi fluktuasi harga energi global.
“Krisis dunia ini bagi saya adalah peluang. Ini mempercepat kita, ini bikin fokus ‘oh berarti strategi kita sudah benar’, tetapi kita harus mempercepat bahwa energi kita harus terbarukan, energi kita harus dari Indonesia sendiri,” ujar Prabowo pada Rapat Kerja Pemerintah Rabu (8 April 2026).
Prabowo menyoroti cadangan energi Indonesia yang sangat besar. Salah satu yang paling menonjol adalah batu bara, yang dapat diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM).
“Kita bersyukur ke hadirat Allah, saya punya data sumber-sumber baru dua sampai tiga hari saya terima terus, cadangan-cadangan (energi) kita sangat besar. Bahkan batu bara kita pun banyak sekali dan dari batu bara kita bisa menghasilkan solar, bensin,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pemerintah sedang mengembangkan BBM dari sumber nabati, mulai dari kelapa sawit, singkong, jagung, hingga tebu.
“Masalah BBM, bertahun-tahun saya perjuangkan swasembada energi. Kita memiliki karunia besar dari Yang Maha Kuasa bahwa kita nanti mampu kebutuhan BBM kita bukan dari impor luar negeri. Bahkan dari tanaman-tanaman kita, dari kelapa sawit, dari singkong, dari jagung, dari tebu,” kata Prabowo dalam pidatonya secara virtual Senin (9 March 2026).
Pengembangan biodiesel dari kelapa sawit sudah berjalan. Indonesia sudah berhasil menggunakan solar dengan campuran 40% minyak nabati dari kelapa sawit, atau B40. Rencananya, tahun ini Indonesia akan naik ke level berikutnya yaitu campuran minyak nabati 50% atau B50.
Selain biodiesel, pemerintah juga mengembangkan bioetanol, yaitu campuran bensin dengan etanol yang dihasilkan dari tebu. Sejauh ini sudah ada produk bensin Pertamax Green 95 yang dikeluarkan Pertamina dengan campuran 5-7% etanol. Rencananya, dalam beberapa tahun lagi campuran etanol akan ditambah jadi 10%.
Dengan langkah-langkah tersebut, Indonesia berusaha mengurangi ketergantungan pada BBM impor, memanfaatkan sumber daya alam dalam negeri, dan menyesuaikan kebijakan energi dengan kebutuhan nasional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pajak 0% 50 Tahun untuk Investor PFII
Indonesia Kejar Rp 51.000 Triliun Dana Family Office Global
PFII Ditarget Beroperasi Tahun Ini, PP Masih Digodok
Pemerintah: Belum Ada Rencana Revisi Anggaran Pertahanan
Anggaran MBG Dipangkas, BGN Klaim Tak Lagi Rp 268 T
PHK Naik 32.389, Menkeu: Itu Siklus Wajar
