Produksi Gula Dunia Naik 3,5% 2025/2026, Diprediksi Surplus
Gambar atau konten salah?
Organisasi Pangan Dunia (FAO) memprediksi bahwa produksi gula global akan mengalami kelebihan atau surplus pada musim 2025/2026. Angka ini didukung oleh peningkatan output gula di negara-negara produsen utama di Asia serta penurunan konsumsi gula secara global.
Berdasarkan laporan Food Outlook edisi Juni 2026, FAO memperkirakan produksi gula secara global mencapai 183,2 juta ton pada 2025/2026, naik 3,5 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu. “Lonjakan (produksi gula) ini utamanya didorong oleh meningkatnya hasil panen di negara-negara produsen utama di Asia,” tulis laporan tersebut pada 19 Juni 2026.
Di Asia, India diperkirakan perlahan pulih meski curah hujan mempengaruhi beberapa wilayah. Thailand juga menilai kondisi cuaca mendukung, yang diprediksi akan meningkatkan produksi gula secara signifikan. China dan Pakistan juga diharapkan mengalami kenaikan. Sebaliknya, Brasil diperkirakan menurunkan produksi gula selama dua musim berturut‑turut karena pabrik lebih banyak mengalihkan tebu untuk etanol, seiring tingginya permintaan bahan bakar. Di Uni Eropa, produksi gula ikut menyusut akibat berkurangnya luas lahan tanaman bit gula.
Konsumsi gula global pada musim 2025/2026 diperkirakan hanya tumbuh 0,9 % dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perlambatan ini dipicu oleh melemahnya aktivitas ekonomi global yang menahan permintaan dari industri makanan dan minuman. “Meski melambat, konsumsi gula secara umum tetap tumbuh yang ditopang oleh kuatnya permintaan di kawasan Afrika dan Asia,” jelas laporan tersebut.
Volume perdagangan gula global pada 2025/2026 diproyeksikan hanya mencapai 64,1 juta ton, naik tipis 0,6 % dibandingkan musim sebelumnya. Pasokan ekspor melimpah dari Thailand diharapkan menutup kekurangan ekspor dari Uni Eropa. Pengiriman dari Brasil diperkirakan relatif stabil, sementara ekspor dari India hanya tumbuh sangat tipis. Dari sisi impor, pasar didorong oleh belanja besar‑besar oleh China, pulihnya volume impor Uni Eropa, dan permintaan konsisten di negara‑negara Afrika. “Namun, konflik yang terjadi di Timur Tengah pada tahun 2026 sempat mengganggu jalur perdagangan gula regional yang melewati Selat Hormuz, sehingga memukul aktivitas pengiriman dari dan menuju pusat‑pusat pemurnian gula di kawasan Teluk,” terang laporan FAO.
Dengan produksi yang lebih tinggi dan konsumsi yang hanya sedikit meningkat, pasar gula global diperkirakan akan menghadapi surplus. Hal ini dapat mempengaruhi harga dan alokasi produksi di berbagai negara, terutama di kawasan yang masih bergantung pada impor gula.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Barantum Raih Rating 4,9/5 Google, Jadi CRM Lokal Populer
BEI Tanggapi Penurunan Arus Informasi MSCI Indonesia
Pemerintah Siapkan Stimulus Ekonomi Kuartal III di Senin
Brent naik 51 sen, WTI 1,28$, kenaikan di tengah ketidakpastian geopolitik
Pemerintah Indonesia Luncurkan Program Peningkatan Air Minum
PLN Atasi Pemadaman: Kendala Dua Pembangkit, Beban Sementara
Berita Terbaru
Aksi Unjuk Rasa LMP MBG di Sumut: Tuntut Evaluasi Program
Mbappe Dipertanyakan, Giroud Balas: Tidak Arogan
Produksi Gula Dunia Naik 3,5% 2025/2026, Diprediksi Surplus
Hari Bhayangkara 2026 di Gianyar: Lomba Tradisional dan Hadiah Beragam
Lampu Merah Soekarno‑Hatta Kembali Menyala Lalu Lintas Lancar
Rumor Erupsi Gunung Lawu 7 Tidak Terdukung Data BMKG
Tiga Saudara Perempuan Temukan Donor Sperma Bersama
