Revisi RUPTL 2025‑2034: Adaptasi Energi Indonesia
Gambar atau konten salah?
Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang menyiapkan revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025‑2034 untuk menyesuaikan kebijakan kelistrikan dengan kebutuhan listrik nasional yang terus berkembang.
RUPTL adalah dokumen strategis yang memetakan kapasitas pembangkit listrik dan distribusi energi selama satu dekade. Revisi ini bertujuan agar regulasi lebih adaptif terhadap perubahan teknologi dan pasar energi.
Di Gedung DPR, Tri Winarno, Plt. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, menyatakan bahwa RUPTL akan mengalami beberapa penyesuaian. Ia mengatakan, “Ada beberapa memang untuk RUPTL itu yang memang ada koreksilah kira‑kira seperti itu. Nah kita lakukan pembahasan. Yang jelas yang seperti saya sampaikan tadi bahwa setiap regulasi kita buat supaya gimana caranya regulasi lebih adaptif lah kira‑ira gitu,” ujar Tri pada Rabu, 15 April 2026.
Tri menekankan bahwa setiap perubahan akan melalui proses diskusi mendalam agar kebijakan tetap relevan dengan dinamika energi di Indonesia.
Wacana revisi ini pertama kali diungkapkan oleh Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM, saat ia ditunjuk oleh Presiden Prabowo Subianto untuk memimpin Satgas Transisi Energi Baru Terbarukan. Ia menegaskan, “Revisi ini guna mempercepat dedieselisasi hingga membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).”
Setelah rapat di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Bahlil mengutarakan, “Dan saya juga akan berencana untuk mengubah RUPTL,” kata Bahlil usai rapat pada Kamis, 12 Maret 2026. Ia menambahkan bahwa transisi ke pembangkit listrik berbahan bakar solar menjadi penting, terutama di tengah kondisi geopolitik Timur Tengah yang memanas dan memengaruhi pasokan serta harga minyak dunia.
Bahlil menegaskan, “Karena dalam kondisi geopolitik perang ini tidak bisa kita memastikan bahwa energi kita ini akan seperti apa dalam konteks jangka panjang.” Ia menekankan pentingnya mengoptimalkan potensi energi terbarukan di dalam negeri untuk menjaga ketahanan energi Indonesia di tengah gejolak global.
RUPTL 2025‑2034 baru saja diluncurkan oleh Bahlil di Kantor Kementerian ESDM pada Senin, 26 Mei 2025. Ia menjelaskan bahwa total kapasitas pembangkit listrik akan meningkat menjadi 69,5 GW, dengan komposisi 42,6 GW energi baru terbarukan (EBT), 10,3 GW storage, dan 16,6 GW fosil. Sebanyak 76% dari kapasitas tersebut akan berasal dari energi terbarukan.
Revisi ini menandai langkah strategis pemerintah untuk menyeimbangkan antara kebutuhan energi nasional dan komitmen terhadap transisi energi bersih, sambil memperhatikan ketidakpastian pasar global.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Prabowo Tegaskan MBG: Tetap Utuh, Tanpa Korupsi, Porsi Aman
Kenaikan Harga Minyakita Tertinggi Disepakati, Waktu Belum
PHK Januari–Mei 2026 Turun ke 23.470, Proyeksi CORE Naik
MBG Teriak Korupsi: BGN Diputar, Prabowo Tetap Optimis
Sekolah Jember Siapkan Lapangan Sepak Bola Internasional
BKN Tegaskan Poster CPNS 2026 Hoaks, Cek Sumber Resmi
Berita Terbaru
Gempa 4,8 M di Manokwari, Papua Barat, Dirasakan MMI II‑III
Prabowo Tegaskan MBG: Tetap Utuh, Tanpa Korupsi, Porsi Aman
Kenaikan Harga Minyakita Tertinggi Disepakati, Waktu Belum
DPRD Bogor Ubah Peraturan Daerah ke Braille Hari Jadi ke-544
Kasus Katup Jantung Naik di Indonesia, Deteksi Awal Penting
Egy Maulana Vikri: Siap Tampil Maksimal di Skuad AFF 2026
