Sejarah Restoran: Dari Sup Boulanger ke Haute Cuisine Prancis

Andi B. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 41 dibaca
Bisik.id
Sejarah Restoran: Dari Sup Boulanger ke Haute Cuisine Prancis

Gambar atau konten salah?

Restoran berasal dari kata restaurer yang berarti memulihkan kondisi setelah bekerja seharian. Istilah ini pertama kali muncul pada 01 Januari 1765 ketika seorang penjual sup di Rue Poulies bernama Boulanger memberi nama supnya restaurants, yang berarti obat untuk menyembuhkan atau memulihkan.

Boulanger menuliskan pesan bahwa supnya diibaratkan sebagai “obat mujarab” dengan menambahkan sebuah lelucon: “venite ad me; vos qui stomacho laboratis et eto restaurabo vos (Mampirlah kemari Anda yang mempunyai perut-perut pekerja, saya akan memulihkan Anda)”. Pesan ini menandai awal penggunaan kata restoran secara resmi.

Setelah era Boulanger, restoran pertama yang menggunakan nama resmi didirikan pada 01 Januari 1783 dengan nama Beauvilliers. Pembukaan restoran ini menandai langkah awal perkembangan industri makanan di luar rumah.

Perkembangan ini semakin melaju setelah Revolusi Prancis pada 14 Juli 1789. Pada saat itu, kekuasaan monarki absolut dihancurkan, dan para juru masak istana banyak membuka usaha restoran di Paris dan wilayah Prancis lainnya. Keahlian mereka mengolah bahan makanan membuktikan seni kuliner Prancis sebagai salah satu yang terbaik di dunia.

Menjelang akhir abad ke-18, juru-juru masak Prancis dan masakannya begitu populer di kalangan masyarakat Eropa, mulai dari Inggris hingga Rusia. Sejak 01 Januari 1750 hingga saat ini, kuliner Prancis menjadi semacam mode yang diikuti oleh banyak negara.

Etiket makan modern muncul pada abad ke-18, mencerminkan kemakmuran gaya hidup kelas sosial tinggi. Pengaruh prestise kehidupan istana Louis XIV tidak diragukan, memberi kontribusi besar bagi kemajuan dan menjadi faktor hegemoni budaya Prancis di Eropa.

Hingga kini, haute cuisine atau seni masak tingkat tinggi dengan kerumitan menyajikannya tetap identik dengan kuliner Prancis. Makanan ini dikenal menggunakan bahan-bahan khas yang mahal harganya.

Istilah prasmanan kemungkinan berasal dari kata fransman (orang-orang Prancis) yang sering menyajikan makanan di atas meja. Orang Prancis menyebutnya buffet. Makanan diatur dalam meja panjang menurut komposisi menu (appetizer – soup – main course – dessert) dan para tamu harus mengambilnya sendiri (self‑service).

Contoh lain pengaruh kuliner Prancis adalah perkedel yang awalnya dikenal dengan nama fricandeau. Makanan ini menunjukkan bagaimana istilah dan teknik kuliner Prancis merambah ke masakan Indonesia.

Artikel ini ditulis oleh Hari Suroto, penulis yang bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara.

Sejarah restoran menunjukkan bahwa kebiasaan makan di luar rumah telah menjadi dasar bagi industri kuliner modern. Dari sup sederhana di Rue Poulies hingga haute cuisine, perjalanan ini menegaskan peran penting Prancis dalam membentuk budaya makan global.

restorankuliner Prancishaute cuisineRevolusi Prancisprasmananbalai pelestarian kebudayaansejarah restoran

Komentar

Memuat komentar...