Sejarah TransJakarta: Dari Krisis ke Integrasi Moda
Gambar atau konten salah?
Sistem transportasi terintegrasi yang kini dikenal sebagai TransJakarta, busway pertama Jakarta yang didirikan setelah era reformasi, telah menginjak usia 22 tahun. Moda transportasi publik ini pertama kali hadir di jalanan ibu kota sejak tahun 2004, melalui proses yang penuh tantangan hingga akhirnya diterima masyarakat.
Sejarah TransJakarta berakar dari kondisi Jakarta pasca kerusuhan Mei 1998. Bencana sosial itu menghancurkan infrastruktur dan melumpuhkan ekonomi. Bagi Jakarta yang sangat bergantung pada penerimaan pajak, guncangan ini sangat terasa. Pada tahun 1998, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jakarta hanya sekitar Rp1,7 triliun, dan sebagian besar dana habis untuk gaji pegawai setelah adanya pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat.
Lima tahun pertama pasca-reformasi difokuskan pada upaya pemulihan. Kondisi keuangan daerah mulai membaik pada periode kepemimpinan 2002-2007. Pada tahun 2003, APBD melonjak mendekati Rp10 triliun. Dari titik inilah mulai disusun gagasan besar untuk mengatasi masalah utama ibu kota: kemacetan kronis.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat itu memilih merangkul para ahli. Akademisi dan pakar transportasi dikumpulkan untuk menganalisis akar masalah kemacetan. Hasil penelitian menunjukkan komposisi kendaraan di Jakarta sangat timpang. Kendaraan pribadi mendominasi sekitar 80 persen, sementara angkutan umum hanya 20 persen. Kondisi ini berbanding terbalik dengan kota-kota besar ideal di dunia yang seharusnya didominasi transportasi publik.
Studi perbandingan dilakukan ke beberapa kota, termasuk Amsterdam dan Bogota, Kolombia, yang dianggap memiliki karakteristik mirip Jakarta namun lebih teratur. Letjen TNI (Purn) Sutiyoso, yang menjabat Gubernur DKI Jakarta periode 1997-2007, menyatakan bahwa melihat kerapian kota seperti Bogota memicu keinginan untuk belajar dan memperbaiki sistem di Jakarta.
Dari analisis mendalam tersebut, lahirlah cetak biru transportasi makro ibu kota. Konsep ini mengintegrasikan empat moda utama: MRT (sebagai tulang punggung bawah tanah), monorel (yang kemudian berkembang menjadi LRT di jalur layang), Bus Rapid Transit (BRT) di jalan raya, dan moda perairan (waterway) sebagai alternatif. Tujuannya adalah memastikan warga bisa berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi.
Namun, hampir semua moda makro tersebut memerlukan investasi besar, sementara kepercayaan investor pasca-kerusuhan belum sepenuhnya pulih. Muncul pertanyaan krusial: moda apa yang bisa dibangun tanpa bergantung pada investor besar? Jawaban tegas dari Sutiyoso saat itu adalah busway.
Pembangunan busway dinilai paling cepat karena infrastrukturnya relatif sederhana: jalan sudah tersedia, hanya perlu pemasangan separator, pembangunan halte, dan pengoperasian armada. Dari rencana awal 15 koridor, Koridor 1 Blok M-Kota dipilih karena merupakan jalur tersibuk di Jakarta.
Keputusan ini menuai penolakan publik yang signifikan, dengan demonstrasi hampir setiap hari terjadi di Balai Kota. Meskipun ada saran untuk menunda peluncuran, keputusan justru dipercepat. Busway resmi beroperasi lebih cepat dari rencana semula, yaitu pada 15 Januari 2004, menjadi tonggak sejarah TransJakarta.
Antusiasme masyarakat ternyata langsung terlihat setelah peluncuran. Meskipun sempat banyak penolakan, busway perlahan diterima sebagai solusi nyata kemacetan. Dalam empat tahun, pembangunan dikebut. Sepuluh koridor berhasil disiapkan, tujuh di antaranya langsung beroperasi.
Welfizon Yuza, Direktur Utama PT Transjakarta, dalam sebuah dialog pada (19/1/2025) menyebutkan perkembangan lebih lanjut. Selain koridor utama BRT, sejak sekitar tahun 2015, TransJakarta juga mengoperasikan layanan non-BRT, dan pada tahun 2018 mulai mengoperasikan layanan Mikrotrans.
Kini, TransJakarta dipahami sebagai bagian integral dari ekosistem transportasi yang terintegrasi, bersinergi dengan MRT, LRT, dan angkutan pengumpan. Kelahiran TransJakarta menunjukkan bahwa sistem ini muncul dari krisis, dibangun di tengah penolakan, dan berkembang karena keberanian untuk memulai.
TransJakarta, yang kini berusia 22 tahun, merupakan sistem transportasi terintegrasi pertama di Jakarta yang lahir pascareformasi pada 2004. Ide ini muncul setelah analisis mendalam terhadap ketimpangan kendaraan pribadi (80%) dan transportasi umum (20%) di ibu kota pasca krisis 1998. Karena kebutuhan investasi besar untuk moda lain seperti MRT dan LRT, pilihan jatuh pada pembangunan Busway (BRT) yang infrastrukturnya lebih cepat tersedia. Meskipun menuai penolakan, Koridor 1 Blok M-Kota diluncurkan lebih cepat pada 15 Januari 2004. Seiring waktu, layanan ini berkembang melampaui koridor utama, kini terintegrasi dengan MRT, LRT, dan layanan pengumpan seperti Mikrotrans.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Promo Akhir Juli: Tiket Trans Studio Cibubur Mulai Rp398 Ribu
Piala Dunia 2026 Gagal Tarik Lonjakan Wisatawan
'Timuran di Bekasi' Hadirkan Musik Santai dan Games Seru
Nemuru Ciawi Siapkan Paket Liburan Sekolah Anak
Bandara Husein Sastranegara Resmi Jadi Bandara Internasional
13 Terluka dalam Lari Banteng San Fermin
